<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5002548945243865869</id><updated>2011-10-30T05:04:01.341-07:00</updated><category term='Hati dan Akidah'/><category term='Keajaiban Alqur&apos;an'/><category term='Zakat dan Sedekah'/><category term='Manajemen Hati'/><category term='Puasa'/><category term='Sholat'/><category term='Wanita Dan Jilbab'/><category term='sekedar info'/><title type='text'>Kumpulan Artikel Islami</title><subtitle type='html'>menjadi lebih muslim dari yang kemarin..</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://readmoslem.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://readmoslem.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>mencoba menjadi lebih baik...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05732610976505096819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_nHva8Y4lnmg/S1Sbw1CbB0I/AAAAAAAAABo/53TaZ0d4BVs/S220/moslem.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>77</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5002548945243865869.post-1196493631459994348</id><published>2010-04-19T17:28:00.000-07:00</published><updated>2010-04-19T17:29:16.929-07:00</updated><title type='text'>Do'a Minta Ketakwa'an Dan Qona'ah</title><content type='html'>Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sebelumnya kami kemukakan tentang keunggulan do’a yang ringkas, namun syarat makna. Begitu pula kami telah kemukakan mengenai keutamaan do’a sapu jagad yang paling sering Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam panjatkan (yaitu do’a: Robbana aatina fid dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qina ‘adzaban naar), selanjutnya kita lihat beberapa do’a lainnya yang diangkat oleh Imam An Nawawi (Yahya bin Syarf An Nawawi) dalam kitab beliau Riyadhus Shalihin. Kami pun akan mengutarakan faedah do’a tersebut. Semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Do’a Meminta Ketakwaan dan Sifat Qona’ah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allahumma inni as-alukal huda wat tuqo wal ‘afaf wal ghina.” Artinya: Ya Allah, aku meminta pada-Mu petunjuk, ketakwaan, diberikan sifat ‘afaf dan ghina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أنَّ النبيَّ - صلى الله عليه وسلم - كَانَ يقول : (( اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca do’a: “Allahumma inni as-alukal huda wat tuqo wal ‘afaf wal ghina”.” (HR. Muslim no. 2721)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faedah hadits:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Yang dimaksud dengan “al huda” adalah petunjuk dalam ilmu dan amal. Yang dimaksud “al ‘afaf” adalah dijauhkan dari yang tidak halal dan menahan diri darinya. Yang dimaksud “al ghina” adalah kaya hati, yaitu hati yang selalu merasa cukup dan tidak butuh pada harta yang ada di tangan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;An Nawawi –rahimahullah- mengatakan, “ ’Afaf dan ‘iffah bermakna menjauhkan dan menahan diri dari hal yang tidak diperbolehkan. Sedangkan al ghina adalah hati yang selalu merasa cukup dan tidak butuh pada apa yang ada di sisi manusia.” (Syarh Muslim, 17/41)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Keutamaan meminta petunjuk ilmu sekaligus amal karena yang dimaksud al huda adalah petunjuk dalam ilmu dan amal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga: Keutamaan meminta ketakwaan. Yang dimaksud takwa adalah menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah. Takwa diambil dari kata “wiqoyah” yang maknanya melindungi, yaitu maksudnya seseorang bisa mendapatkan perlindungan dari siksa neraka hanya dengan menjalankan setiap perintah dan menjauhi setiap larangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat: Keutamaan meminta sifat ‘afaf atau ‘iffah yaitu agar dijauhkan dari hal-hal yang diharamkan semacam zina. Berarti do’a ini mencakup meminta dijauhkan dari pandangan yang haram, dari bersentuhan yang haram, dari zina dengan kemaluan dan segala bentuk zina lainnya. Karena yang namanya zina adalah termasuk perbuatan keji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima: Keutamaan meminta pada Allah sifat al ghina yaitu dicukupkan oleh Allah dari apa yang ada di sisi manusia dengan selalu qona’ah, selalu merasa cukup ketika Allah memberinya harta sedikit atau pun banyak. Karena ingatlah bahwa kekayaan hakiki adalah hati yang selalu merasa cukup. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kekayaan (yang hakiki) bukanlah dengan banyaknya harta. Namun kekayaan (yang hakiki) adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 1051)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam: Dianjurkannya merutinkan membaca do’a ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj, Yahya bin Syarf An Nawawi, Dar Ihya’ At Turots, cetakan kedua, 1392&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahjatun Naazhirin Syarh Riyadhish Sholihin, Salim bin ‘Ied Al Hilali, cetakan Dar Ibnul Jauzi, jilid I dan II, cetakan pertama, tahun 1430 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarh Riyadhish Sholihin, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, jilid IV, cetakan ketiga, tahun 1424 H&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diselesaikan sore hari, 1 Jumadil Awwal 1431 H (15/04/2010) di Pangukan-Sleman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel www.rumaysho.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5002548945243865869-1196493631459994348?l=readmoslem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://readmoslem.blogspot.com/feeds/1196493631459994348/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5002548945243865869&amp;postID=1196493631459994348&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/1196493631459994348'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/1196493631459994348'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://readmoslem.blogspot.com/2010/04/doa-minta-ketakwaan-dan-qonaah.html' title='Do&apos;a Minta Ketakwa&apos;an Dan Qona&apos;ah'/><author><name>mencoba menjadi lebih baik...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05732610976505096819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_nHva8Y4lnmg/S1Sbw1CbB0I/AAAAAAAAABo/53TaZ0d4BVs/S220/moslem.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5002548945243865869.post-305139940354035201</id><published>2010-04-11T17:40:00.000-07:00</published><updated>2010-04-11T17:42:51.561-07:00</updated><title type='text'>Makanan Yang Diharamkan Dalam Alqur'an</title><content type='html'>Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat ini dan beberapa posting mendatang, kami akan mengangkat pembahasan yang mudah-mudahan bermanfaat yaitu seputar makanan yang haram di dalam al Qur'an. Kenapa di sini yang dibahas adalah makanan yang haram bukan yang halal? Karena para ulama membuat kaedah: "Al ashlu fil asy-yaa' al hillu wa laa yahrumu illa maa harromahullahu wa rosuluhu" (Hukum asal segala sesuatu adalah halal dan sesuatu tidak diharamkan kecuali jika Allah dan Rasul-Nya mengharamkannya). Inilah kaedah yang berlaku untuk masalah makanan. Dari sini berarti kita cukup membahas yang makanan yang haram saja, maka sisanya itu halal karena itu adalah hukum asalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu mengapa kita mengutarakan masalah makanan yang haram ini di tengah-tengah pembaca sekalian? Karena memang pembahasan ini teramat penting terutama dalam masalah dikabulkan atau tidaknya do'a. Jika seseorang mengkonsumsi yang haram, akibatnya adalah doanya sulit terkabul. Sebagaimana hal ini dapat kita lihat dalam hadits Abu Hurairah berikut ini,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;« أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ ( يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّى بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ) وَقَالَ (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ) ». ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ ».&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu baik. Dia tidak akan menerima sesuatu melainkan yang baik pula. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Firman-Nya: 'Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.' Dan Allah juga berfirman: 'Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang Telah menceritakan kepada kami telah kami rezekikan kepadamu.'" Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menceritakan tentang seroang laki-laki yang telah lama berjalan karena jauhnya jarak yang ditempuhnya. Sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo'a: "Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku." Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dengan makanan yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan do'anya?." (HR. Muslim no. 1015)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya kita akan melihat apa saja makanan atau hewan yang diharamkan dalam Al Qur’an Al Karim. Baru setelah itu kita akan membahas hewan-hewan yang lainnya yang diharamkan dalam beberapa hadits. Allahumma yassir wa a’in.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinjauan Ayat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara ayat yang menyebutkan makanan atau hewan yang diharamkan adalah firman Allah Ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala.” (QS. Al Maidah: 3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ayat di atas, kita dapat merinci makanan yang diharamkan adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Bangkai (Al Maitah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangkai (al maitah) adalah setiap hewan yang matinya tidak wajar, tanpa lewat penyembelihan yang syar’i. Contohnya adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Al munkhoniqoh: hewan yang mati dalam keadaan tercekik.&lt;br /&gt;    * Al mawquudzah: hewan yang mati karena dipukul dengan tongkat atau selainnya.&lt;br /&gt;    * Al mutaroddiyah: hewan yang mati karena jatuh dari tempat yang tinggi.&lt;br /&gt;    * An nathiihah: hewan yang mati karena ditanduk.&lt;br /&gt;    * Hewan yang diterkam binatang buas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika hewan-hewan di atas ini masih didapati dalam keadaan bernyawa, lalu disembelih dengan cara yang syar’i, maka hewan tersebut menjadi halal karena Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“kecuali yang sempat kamu menyembelihnya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang termasuk bangkai adalah segala sesuatu yang terpotong dari hewan yang masih hidup. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَا قُطِعَ مِنْ الْبَهِيمَةِ وَهِيَ حَيَّةٌ فَهِيَ مَيْتَةٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang dipotong dari binatang dalam keadaan hidup, maka sesuatu tersebut adalah bangkai.” (HR. Abu Daud no. 2858, At Tirmidzi no. 1480, Ibnu Majah no. 3216, Ahmad 5/218. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shohihul Jaami’ no. 5652)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ada dua bangkai yang dikecualikan keharamannya, artinya bangkai tersebut halal yaitu bangkai ikan dan bangkai belalang. Hal ini berdasarkan hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أُحِلَّتْ لَنَا مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ فَأَمَّا الْمَيْتَتَانِ فَالْحُوتُ وَالْجَرَادُ وَأَمَّا الدَّمَانِ فَالْكَبِدُ وَالطِّحَالُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami dihalalkan dua bangkai dan darah. Adapun dua bangkai tersebut adalah ikan dan belalang. Sedangkan dua darah tersebut adalah hati dan limpa.” (HR. Ibnu Majah no. 3218. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Darah yang mengalir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengharaman hal ini berdasarkan Surat Al Maidah ayat 3 di atas. Adapun darah yang jumlahnya sedikit semacam darah yang masih menempel di urat daging sembelihan dan sulit dibersihkan, maka itu dimaafkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga: Daging babi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain pengharamannya dalam surat Al Maidah ayat 3 di atas, Allah Ta’ala juga berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُلْ لَا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah: "Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi - karena sesungguhnya semua itu kotor - atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah.” (QS. Al An’am: 145)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shidiq Hasan Khon rahimahullah mengatakan, “Yang diharamkan dari babi adalah seluruh bagian babi. Sedangkan di sini disebutkan dagingnya saja karena biasanya yang dimakan adalah dagingnya.”[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat: Hewan yang disembelih atas nama selain Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil pengharamannya selain surat Al Maidah ayat 3 di atas, Allah Ta’ala juga berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلَا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan.” (QS. Al An’am: 121)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, tidak boleh bagi seorang muslim untuk memakan hasil sembelihan orang musyrik, majusi atau orang yang murtad (non ahli kitab). Sedangkan untuk hasil sembelihan ahli kitab (yaitu Yahudi dan Nashrani) itu dibolehkan untuk dimakan selama tidak diketahui jika ia menyebut nama selain Allah. Landasan dari hal ini adalah firman Allah Ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu.” (QS. Al Maidah: 5). Yang dimaksud dengan makanan dalam ayat di sini adalah hasil sembelihan ahli kitab (Yahudi dan Nashrani). Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas, Abu Umamah, Mujahid, Sa’id bin Jubair, ‘Ikrimah, ‘Atho’, Al Hasan, Makhul, Ibrohim An Nakhoi, As Sudi, dan Muqotil bin Hayyan.[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan hewan yang diimpor dari negara non muslim?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami dapat merinci hal ini sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Jika yang diimpor adalah hewan laut semacam ikan, maka itu halal untuk dimakan. Karena ikan itu dihalalkan meskipun mati tanpa melalui penyembelihan yang syar’i, terserah yang menjaring ikan tersebut muslim atau non muslim.&lt;br /&gt;   2. Jika yang diimpor adalah hewan daratan yang halal untuk dimakan (semacam unta, sapi, kambing dan burung) dan berasal dari negeri selain Ahli Kitab (seperti Majusi dan penyembah berhala), maka hewan tersebut jadi terlarang untuk dimakan.&lt;br /&gt;   3. Jika yang diimpor adalah hewan yang berasal dari negeri ahli kitab (Yahudi dan Nashrani), maka boleh dimakan asalkan memenuhi dua syarat: [1] Tidak diketahui jika mereka menyebut nama selain Allah ketika menyembelih (seperti menyebut salib atau nama Isa bin Maryam), dan [2] Tidak diketahui mereka mereka menyembelih dengan penyembelihan yang tidak syar’i.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaedah yang mesti diperhatikan dalam masalah hewan sembelihan: “Segala hewan sesembelihan yang berasal dari orang yang sah untuk menyembelih (muslim dan ahli kitab), maka hukum asalnya adalah selamat sampai ada dalil yang menunjukkan bahwa hewan tersebut terlarang untuk dikonsumsi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerapan kaedah ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Jika ada daging sembelihan yang berasal dari orang yang mengaku muslim, maka kita tidak perlu mencari tahu apakah hewan ini disembelih dengan cara yang syar’i atau tidak, apakah orang yang menyembelih tadi melaksanakan shalat atau tidak. Alasannya, karena seorang muslim adalah orang yang berhak untuk menyembelih hewan tadi. Selama itu datang darinya, maka kita hukumi halal sampai ada indikasi yang menunjukkan bahwa hasil sembelihan tersebut haram untuk dimakan -mungkin- karena cara menyembelihnya jelas-jelas tidak syar’i atau orang yang menyembelih tidak shalat. Menurut pendapat terkuat, orang yang tidak pernah shalat sama sekali dihukumi kafir sehingga sembelihannya haram untuk dimakan.&lt;br /&gt;   2. Begitu pula jika daging sembelihan tersebut berasal dari orang Nashrani atau Yahudi (Ahlu Kitab). Selama itu berasal dari mereka, kita hukumi halal sampai ada indikasi yang menunjukkan bahwa sembelihan tersebut adalah hasil penyembelihan yang tidak syar’i, mungkin karena ia jelas-jelas menyebut nama selain Allah ketika menyembelihnya. [3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima: Hewan yang disembelih untuk selain Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti disembelih untuk berhala, qubur, dan orang yang sudah mati seperti ditujukan pada Said Al Badawi. Hal ini diharamkan sebagaimana disebutkan dalam surat Al Maidah ayat 3 di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nantikan pembahasan selanjutnya mengenai dalil diharamkannya anjing. Hal ini perlu dibahas karena sebagian orang masih meragukan keharamannya. Semoga Allah mudahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah memberi taufik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel www.rumaysho.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Ar Roudhotun Nadhiyah Syarh Ad Durorul Bahiyah, Shidiq Hasan Khon, 2/273, Darul Aqidah, cetakan pertama, tahun 1422 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 5/77, Muassasah Qurthubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Kami gabungkan point ini dari pembahasan Syaikh Abu Malik hafizhohullah dalam Shahih Fiqh Sunnah, 2/339-340, Al Maktabah At Taufiqiyah dan penjelasan Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah dalam Manzhumah Ushulul Fiqh wa Qowa’idihi, hal. 112, Dar Ibnul Jauzi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5002548945243865869-305139940354035201?l=readmoslem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://readmoslem.blogspot.com/feeds/305139940354035201/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5002548945243865869&amp;postID=305139940354035201&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/305139940354035201'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/305139940354035201'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://readmoslem.blogspot.com/2010/04/makanan-yang-diharamkan-dalam-alquran.html' title='Makanan Yang Diharamkan Dalam Alqur&apos;an'/><author><name>mencoba menjadi lebih baik...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05732610976505096819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_nHva8Y4lnmg/S1Sbw1CbB0I/AAAAAAAAABo/53TaZ0d4BVs/S220/moslem.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5002548945243865869.post-8418479589058562723</id><published>2010-03-29T09:17:00.000-07:00</published><updated>2010-03-29T09:18:32.391-07:00</updated><title type='text'>Bagaimana Melunasi Hutang Orang Yang Sudah Tiada?</title><content type='html'>Pertanyaan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana melunasi utang, apabila orang yang menghutangi sudah meninggal atau tidak diketahui keberadaannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini telah dijawab oleh Syaikh Ibnu 'Utsaimin rohimahulloh. Beliau mengatakan, “Apabila kamu mempunyai kewajiban hutang pada seseorang dan kamu merasa belum melunasi dan merasa hutang tersebut masih ada sampai orang yang menghutangi mengambil haknya, dan apabila orang yang memberi hutang tadi telah meninggal, maka hutang tersebut diberikan pada ahli warisnya. Jika kamu tidak mengetahui ahli warisnya atau tidak mengetahui orang tersebut atau tidak mengetahui di mana dia berada, maka utang tersebut dapat disedekahkan atas namanya dengan ikhlas. Dan Allah subhanahu wa ta'ala mengetahui hal ini dan akan menunaikan pada orang tersebut.” (Syarh Riyadhis Sholihin, Bab Taubat, 1/47)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan juga telah diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu bahwa beliau membeli budak dari seorang laki-laki. Kemudian beliau masuk (ke dalam rumah) untuk mengambil uang pembayaran. Akan tetapi tuan budak tadi malah pergi sampai Ibnu Mas'ud yakin lagi tuan budak tersebut tidak akan kembali. Akhirnya beliau bersedekah dengan uang tadi dan mengatakan, “Ya Allah, uang ini adalah milik tuan budak tadi. Jika dia ridho, maka balasan untuknya. Namun jika dia enggan, maka balasan untukku dan baginya kebaikanku sesuai dengan kadarnya.” (Tazkiyatun Nufus pada Bab At Taubah yang dikumpulkan dari tulisan Ibnu Rojab, Ibnul Qoyyim, dan Imam Al Ghozali oleh Dr. Ahmad Farid)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsultasi http://muslim.or.id beberapa tahun silam, dipublish ulang oleh http://rumaysho.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5002548945243865869-8418479589058562723?l=readmoslem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://readmoslem.blogspot.com/feeds/8418479589058562723/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5002548945243865869&amp;postID=8418479589058562723&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/8418479589058562723'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/8418479589058562723'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://readmoslem.blogspot.com/2010/03/bagaimana-melunasi-hutang-orang-yang.html' title='Bagaimana Melunasi Hutang Orang Yang Sudah Tiada?'/><author><name>mencoba menjadi lebih baik...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05732610976505096819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_nHva8Y4lnmg/S1Sbw1CbB0I/AAAAAAAAABo/53TaZ0d4BVs/S220/moslem.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5002548945243865869.post-4497825426257208905</id><published>2010-03-28T08:00:00.000-07:00</published><updated>2010-03-28T08:02:07.946-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sholat'/><title type='text'>Hukum Melafazkan Niat ( Usholli, Nawaitu )</title><content type='html'>ahabat -Al Faruq- Umar bin Khaththab radhiyallahu ’anhu berkata,”Saya mendengar Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,’Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya. Dan setiap orang akan mendapatkan yang ia niatkan. Barangsiapa yang berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, maka ia telah berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya itu karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya’.” (HR. Bukhari &amp; Muslim). Inilah hadits yang menunjukkan bahwa amal seseorang akan dibalas atau diterima tergantung dari niatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap Orang Pasti Berniat Tatkala Melakukan Amal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Niat adalah amalan hati dan hanya Allah Ta’ala yang mengetahuinya. Niat itu tempatnya di dalam hati dan bukanlah di lisan, hal ini berdasarkan ijma' (kesepakatan) para ulama sebagaimana yang dinukil oleh Ahmad bin Abdul Harim Abul Abbas Al Haroni dalam Majmu' Fatawanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang yang melakukan suatu amalan pasti telah memiliki niat terlebih dahulu. Karena tidak mungkin orang yang berakal yang punya ikhtiar (pilihan) melakukan suatu amalan tanpa niat. Seandainya seseorang disodorkan air kemudian dia membasuh kedua tangan, berkumur-kumur hingga membasuh kaki, maka tidak masuk akal jika dia melakukan pekerjaan tersebut -yaitu berwudhu- tanpa niat. Sehingga sebagian ulama mengatakan,”Seandainya Allah membebani kita suatu amalan tanpa niat, niscaya ini adalah pembebanan yang sulit dilakukan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila setan membisikkan kepada seseorang yang selalu merasa was-was dalam shalatnya sehingga dia mengulangi shalatnya beberapa kali. Setan mengatakan kepadanya,”Hai manusia, kamu belum berniat”. Maka ingatlah,”Tidak mungkin seseorang mengerjakan suatu amalan tanpa niat. Tenangkanlah hatimu dan tinggalkanlah was-was seperti itu.”(Lihat Syarhul Mumthi, I/128 dan Al Fawa’id Dzahabiyyah, hal.12)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melafadzkan Niat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat kita sudah sangat akrab dengan melafalkan niat (maksudnya mengucapkan niat sambil bersuara keras atau lirih) untuk ibadah-ibadah tertentu. Karena demikianlah yang banyak diajarkan oleh ustadz-ustadz kita bahkan telah diajarkan di sekolah-sekolah sejak Sekolah Dasar hingga perguruan tinggi. Contohnya adalah tatkala hendak shalat berniat ’Usholli fardhol Maghribi ...’ atau pun tatkala hendak berwudhu berniat ’Nawaitu wudhu’a liraf’il hadatsi ...’. Kalau kita melihat dari hadits di atas, memang sangat tepat kalau setiap amalan harus diawali niat terlebih dahulu. Namun apakah niat itu harus dilafalkan dengan suara keras atau lirih?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara logika mungkin dapat kita jawab. Bayangkan berapa banyak niat yang harus kita hafal untuk mengerjakan shalat mulai dari shalat sunat sebelum shubuh, shalat fardhu shubuh, shalat sunnah dhuha, shalat sunnah sebelum dzuhur, dst. Sangat banyak sekali niat yang harus kita hafal karena harus dilafalkan. Karena ini pula banyak orang yang meninggalkan amalan karena tidak mengetahui niatnya atau karena lupa. Ini sungguh sangat menyusahkan kita. Padahal Nabi kita shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,”Sesungguhnya agama itu mudah.” (HR. Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatlah setiap ibadah itu bersifat tauqifiyyah, sudah paketan dan baku. Artinya setiap ibadah yang dilakukan harus ada dalil dari Al Qur’an dan Hadits termasuk juga dalam masalah niat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kita lihat dalam buku tuntunan shalat yang tersebar di masyarakat atau pun di sekolahan yang mencantumkan lafadz-lafadz niat shalat, wudhu, dan berbagai ibadah lainnya, tidaklah kita dapati mereka mencantumkan ayat atau riwayat hadits tentang niat tersebut. Tidak terdapat dalam buku-buku tersebut yang menyatakan bahwa lafadz niat ini adalah hadits riwayat Imam Bukhari dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan dalam kitab beliau Zaadul Ma’ad, I/201, ”Jika seseorang menunjukkan pada kami satu hadits saja dari Rasul dan para sahabat tentang perkara ini (mengucapkan niat), tentu kami akan menerimanya. Kami akan menerimanya dengan lapang dada. Karena tidak ada petunjuk yang lebih sempurna dari petunjuk Nabi dan sahabatnya. Dan tidak ada petunjuk yang patut diikuti kecuali petunjuk yang disampaikan oleh pemilik syari’at yaitu Nabi shalallahu ’alaihi wa sallam.”  Dan sebelumnya beliau mengatakan mengenai petunjuk Nabi dalam shalat,”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila hendak mendirikan shalat maka beliau mengucapkan : ‘Allahu Akbar’. Dan beliau tidak mengatakan satu lafadz pun sebelum takbir dan tidak pula melafadzkan niat sama sekali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka setiap orang yang menganjurkan mengucapkan niat wudhu, shalat, puasa, haji, dsb, maka silakan tunjukkan dalilnya. Jika memang ada dalil tentang niat tersebut, maka kami akan ikuti. Dan janganlah berbuat suatu perkara baru dalam agama ini yang tidak ada dasarnya dari Nabi. Karena Nabi kita shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,” Barangsiapa yang melakukan amalan yang tidak ada dasar dari kami, maka amalan tersebut tertolak. (HR. Muslim). Dan janganlah selalu beralasan dengan mengatakan ’Niat kami  kan baik’, karena sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhuma mengatakan,”Betapa banyak orang menginginkan kebaikan, namun tidak mendapatkannya.” (HR. Ad Darimi, sanadnya shahih, lihat Ilmu Ushul Bida’, hal. 92)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat wa shallallahu ’ala Muhammad wa ’ala alihi wa shohbihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan sederhana di masa Islam, diterbitkan oleh Buletin Dakwah At Tauhid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel http://rumaysho.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5002548945243865869-4497825426257208905?l=readmoslem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://readmoslem.blogspot.com/feeds/4497825426257208905/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5002548945243865869&amp;postID=4497825426257208905&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/4497825426257208905'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/4497825426257208905'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://readmoslem.blogspot.com/2010/03/hukum-melafazkan-niat-usholli-nawaitu.html' title='Hukum Melafazkan Niat ( Usholli, Nawaitu )'/><author><name>mencoba menjadi lebih baik...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05732610976505096819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_nHva8Y4lnmg/S1Sbw1CbB0I/AAAAAAAAABo/53TaZ0d4BVs/S220/moslem.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5002548945243865869.post-8509421422657392386</id><published>2010-03-25T20:57:00.000-07:00</published><updated>2010-03-25T20:59:21.588-07:00</updated><title type='text'>Dosa Kecil Pun Bisa Menjadi Besar</title><content type='html'>Seperti kita ketahui bersama bahwa dosa itu terbagi menjadi dua yaitu dosa besar dan dosa kecil. Namun perlu diketahui bahwa dosa kecil sebenarnya bisa menjadi besar, jika dilakukan karena sebab-sebab berikut. Kita perlu mengetahui hal ini agar kita tidak menganggap remeh suatu dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Dosa kecil tersebut sudah menjadi kebiasaan dan dilakukan terus menerus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat sebuah hadits yang maknanya shahih (benar), namun didhoifkan (dilemahkan) oleh para ulama pakar hadits,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لاَ كَبِيْرَةَ مَعَ الاِسْتِغْفَارِ وَ لاَ صَغِيْرَةَ مَعَ الإِصْرَارِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak ada dosa besar jika dihapus dengan istighfar (meminta ampun pada Allah) dan tidak ada dosa kecil jika dilakukan terus menerus.”[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dosa besar sudah ditaubati, maka janganlah diikuti dengan dosa lainnya yang semisal, begitu pula janganlah diteruskan dengan dosa-dosa kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Dosa bisa dianggap besar di sisi Allah jika seorang hamba menganggap remeh dosa tersebut. Oleh karenanya, jika seorang hamba menganggap besar suatu dosa, maka dosa itu akan kecil di sisi Allah. Sedangkan jika seorang hamba menggaggap kecil (remeh) suatu dosa, maka dosa itu akan dianggap besar di sisi Allah. Dari sinilah jika seseorang mengganggap besar suatu dosa, maka ia akan segera lari dari dosa dan betul-betul membencinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosanya seakan-akan ia duduk di sebuah gunung dan khawatir gunung tersebut akan menimpanya. Sedangkan seorang yang fajir (yang gemar maksiat), ia akan melihat dosanya seperti seekor lalat yang lewat begitu saja di hadapan batang hidungnya.”[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّكُمْ لَتَعْمَلُونَ أَعْمَالاً هِىَ أَدَقُّ فِى أَعْيُنِكُمْ مِنَ الشَّعَرِ ، إِنْ كُنَّا نَعُدُّهَا عَلَى عَهْدِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - الْمُوبِقَاتِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya kalian mengerjakan amalan (dosa) di hadapan mata kalian tipis seperti rambut, namun kami (para sahabat) yang hidup di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menganggap dosa semacam itu seperti dosa besar.”[3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bilal bin Sa’ad rahimahullah mengatakan, “Janganlah engkau melihat kecilnya suatu dosa, namun hendaklah engkau melihat siapa yang engkau durhakai.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga: Memamerkan suatu dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كُلُّ أُمَّتِى مُعَافَاةٌ إِلاَّ الْمُجَاهِرِينَ وَإِنَّ مِنَ الإِجْهَارِ أَنْ يَعْمَلَ الْعَبْدُ بِاللَّيْلِ عَمَلاً ثُمَّ يُصْبِحُ قَدْ سَتَرَهُ رَبُّهُ فَيَقُولُ يَا فُلاَنُ قَدْ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ فَيَبِيتُ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setiap umatku akan diampuni kecuali orang yang melakukan jahr. Di antara bentuk melakukan jahr adalah seseorang di malam hari melakukan maksiat, namun di pagi harinya –padahal telah Allah tutupi-, ia sendiri yang bercerita, “Wahai fulan, aku semalam telah melakukan maksiat ini dan itu.” Padahal semalam Allah telah tutupi maksiat yang ia lakukan, namun di pagi harinya ia sendiri yang membuka ‘aib-‘aibnya yang telah Allah tutup.”[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat: Dosa tersebut dilakukan oleh seorang alim yang dia menjadi panutan bagi yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa melakukan suatu amalan kejelekan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya dosa semisal dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosanya sedikitpun.”[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga bagi seorang alim yang menjadi panutan lainnya, hendaknya ia: [1] meninggalkan dosa dan [2] menyembunyikan dosa jika ia terlanjur melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana dosa seorang alim bisa berlipat-lipat jika ada yang mengikuti melakukan dosa tersebut, maka begitu pula dengan kebaikan yang ia lakukan. Jika kebaikan tersebut diikuti orang lain, maka pahalamu akan semakin berlipat untuknya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَىْءٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa melakukan suatu amalan kebaikan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya ganjaran semisal ganjaran orang yang mengikutinya dan sedikitpun tidak akan mengurangi ganjaran yang mereka peroleh.”[6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah selalu memudahkan kita untuk melaksanakan kebaikan dan menghindarkan kita dari setiap dosa. Amin Ya Mujibas Saa-ilin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disarikan dari penjelasan Ibnu Qudamah Al Maqdisi rahimahullah dalam kitab Mukhtashor Minhajul Qoshidin, hal. 242, terbitan Darul ‘Aqidah, cetakan pertama, 1426 H&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terinspirasi di saat Allah menurunkan berkah air dari langit di Pangukan-Sleman, 10 Rabi’ul Akhir 1431 H, 25/03/2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel http://rumaysho.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Dhoiful Jaami’ no. 6308. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini diriwayatkan pula oleh Al Baihaqi dalam Asy Syu’ab dengan sanad lainnya dari Ibnu ‘Abbas namun mauquf (perkataan Ibnu ‘Abbas), periwayatnya tsiqoh (terpercaya). Riwayat ini pun munqothi’ (terputus) antara Qois bin Sa’ad (dia orang Mekkah), ia katakan bahwa Ibnu ‘Abbas berkata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam kitab Shahihnya no. 6308.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam kitab Shahihnya no. 6492.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] HR. Bukhari no. 6069 dan Muslim no. 2990, dari Abu Hurairah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] HR. Muslim no. 1017&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6] Idem.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5002548945243865869-8509421422657392386?l=readmoslem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://readmoslem.blogspot.com/feeds/8509421422657392386/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5002548945243865869&amp;postID=8509421422657392386&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/8509421422657392386'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/8509421422657392386'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://readmoslem.blogspot.com/2010/03/dosa-kecilpu.html' title='Dosa Kecil Pun Bisa Menjadi Besar'/><author><name>mencoba menjadi lebih baik...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05732610976505096819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_nHva8Y4lnmg/S1Sbw1CbB0I/AAAAAAAAABo/53TaZ0d4BVs/S220/moslem.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5002548945243865869.post-3863097929342863947</id><published>2010-03-21T08:59:00.000-07:00</published><updated>2010-03-21T09:00:52.035-07:00</updated><title type='text'>Di manakah ALLAH? ( 1 )</title><content type='html'>Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala aalihi wa shohbihi wa man tabi’ahum bi ihsaanin ilaa yaumid diin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, alhamdulillah dakwah semakin tersebar luas di dunia maya. Website dakwah pun semakin menjamur. Ini adalah sesuatu yang patut disyukuri. Di samping itu dakwah kepada kepahaman menyimpang pun juga semakin tersebar. Yang terakhir ini pun sangat menyedihkan. Orang awam yang asal fitrohnya bersih akhirnya ternodai dengan berbagai macam kotoran syubhat (pemikiran sesat) yang membutakan hati. Di antaranya adalah beberapa syubhat yang dibawakan oleh para blogger anti salafi, yang menamakan blognya dengan sebutan abusalafy. Syubhat yang ada dan cukup keras adalah mengenai pernyataan mereka bahwa Allah itu ada tanpa tempat. Ini adalah penentangan mereka terhadap aqidah Ahlus Sunnah yang menyatakan bahwa Allah berada di atas langit dan Allah berada tinggi di atas ‘Arsy-Nya. Semoga dengan pertolongan dan taufik Allah Ta’ala, kami bisa menyingkap kebenaran yang ada. Ya Robbi, a’in ‘ala naili ridhoka (Wahai Rabbku, tolonglah aku untuk menggapai ridho-Mu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keyakinan yang Benar Mengenai Nama dan Sifat Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa i’tiqod (keyakinan) yang seharusnya menjadi pegangan dan keyakinan seorang muslim mengenai asma’ wa shifat (nama dan sifat Allah). Sebagaimana disebutkan oleh Ahmad bin Abdul Halim Al Haroni rahimahullah dalam kitab Aqidah Al Wasithiyah, beliau rahimahullah menyatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ومن الإيمان بالله الإيمان بما وصف به نفسه في كتابه وبما وصفه به رسوله محمد صلى الله عليه و سلم من غير تحريف ولا تعطيل ومن غير تكييف ولا تمثيل بل يؤمنون بأن الله سبحانه ليس كمثله شيء وهو السميع البصير&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di antara bentuk iman kepada Allah adalah beriman kepada apa yang Allah sifatkan pada diri-Nya sendiri dalam  Al Qur’an dan apa yang Rasul-Nya Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam- sifatkan tanpa melakukan tahrif, ta’thil, takyif, dan tamtsil. Akan tetapi, mereka (Ahlus Sunnah) itu beriman bahwa tidak ada yang semisal dengan Allah dan Allah Maha Mendengar, lagi Maha Melihat.”[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai pernyataan Ahmad bin Abdul Halim Al Haroni di atas juga kita jumpai dalam perkataan ulama lainnya. Imam Ahmad bin Hambal –rahimahullah- mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَا يُوصَفُ اللَّهُ إِلَّا بِمَا وَصَفَ بِهِ نَفْسَهُ ، أَوْ وَصَفَهُ بِهِ رَسُولُهُ ، لَا يُتَجَاوَزُ الْقُرْآنُ وَالْحَدِيثُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allah tidaklah disifati kecuali dengan apa yang Allah sifatkan pada diri-Nya sendiri atau yang disifatkan oleh Rasul-Nya. Hendaklah tidak mensifati Allah selain dari Al Qur’an dan Al Hadits.”[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pernyataan di atas yang tentu saja hasil dari penelitian dan penyimpulan Al Qur’an dan As Sunnah, kita dapat mengatakan bahwa i’tiqod yang mesti diyakini seorang muslim adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Hendaklah seseorang menetapkan nama bagi Allah sesuai dengan apa yang ditetapkan oleh Allah Ta’ala dalam kitab-Nya dan ditetapkan oleh Rasul-Nya melalui lisannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Penetapan nama dan sifat Allah di sini tanpa melakukan tahrif dan ta’thil serta tanpa melakukan takyif dan tamtsil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahrif adalah menyelewengkan makna nama atau sifat Allah dari makna sebenarnya tanpa adanya dalil. Seperti mentahrif sifat mahabbah (cinta) bagi Allah menjadi irodatul khoir (menginginkan kebaikan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ta’thil adalah menolak nama atau sifat Allah. Seperti menolak sifat tangan bagi Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Takyif adalah menyebutkan hakekat sesuatu tanpa menyamakannya dengan yang lain. Seperti menyatakan panjang tangannya adalah 50 cm. Takyif tidak boleh dilakukan terhadap sifat Allah karena Allah tidak memberitahukan bagaimana hakekat sifat-Nya dengan sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tamtsil adalah menyamakan sifat Allah dengan sifat makhluk. Seperti menyatakan Allah memiliki tangan dan sama dengan tanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat hal ini terlarang dalam mengimani nama dan sifat Allah. Karena Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (QS. Asy Syura: 11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia” adalah bantahan terhadap orang yang melakukan takyif dan tamtsil, yaitu yang menyamakan sifat Allah dengan sifat makhluk atau menyebutkan hakekat sifat Allah padahal yang mengetahuinya hanyalah Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan ayat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat” adalah bantahan untuk orang yang melakukan tahrif dan ta’thil. Karena dalam ayat ini Allah menyatakan bahwa Allah memiliki sifat mendengar dan melihat. Makhluk pun memiliki sifat mendengar dan melihat, namun tentu  saja kedua sifat Allah ini berbeda dengan makhluk. Oleh karenanya, kedua sifat tersebut tidak boleh ditahrif (diselewengkan) maknanya dan tidak perlu dita’thil (ditolak maknanya). Sebagaimana hal ini juga berlaku untuk sifat-sifat Allah lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pahamilah Ayat Sifat Secara Zhohir, Tidak Perlu Mentakwil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengasuh blog abu salafy ketika menyanggah hujjah akhi fadhil Ustadz Abul Jauzaa hafizhohullah mengenai keberadaan Allah di atas ‘Arsy-Nya, ia menyatakan sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang tampak dari nash-nash yang menyebut secara lahiriyah bahwa Alah SWT di langit jelas bukan demikian maksud sebenarnya. Ia mesti dita’wil, sebab Allah tidak bisa ditanyakan dengan kata tanya: Di mana Dia? Kata di mana? Tidak pernah disabdakan Nabi saw., seperti telah kami buktikan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami harap para pembaca dapat memperhatikan kalimat yang kami garisbawahi. Inilah dasar pemahaman abusalafy ketika ingin menyanggah ideologi keberadaan Allah di atas ‘Arsy-Nya. Dia punya keyakinan bahwa dalil-dalil yang menyatakan semacam itu, hendaklah dita’wil yaitu diartikan dengan makna lainnya dan jangan dipahami secara zhohir (tekstual). Inilah kerancuan abusalafy ketika memahami nama dan sifat Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pembaca sekalian, yang dimaksud dengan memahami secara zhohir (tekstual) adalah memahami makna yang tertangkap langsung di dalam benak pikiran. Kami contohkan adalah ketika kita mengatakan, “Ali melihat singa.” Maka makna yang tertangkap adalah Ali benar-benar melihat binatang buas yang dinamakan singa. Inilah yang dimaksudkan memahami secara zhohir. Walaupun masih ada kemungkinan makna singa di situ bisa dengan makna lainnya seperti berarti pemberani. Misalnya kita katakan, “Ali Sang Singa menaklukan musuh-musuhnya.” Yang dimaksudkan di sini bukan singa binatang buas, namun bermakna pemberani karena dipahami dari konteks kalimat. Namun kalau kita mendengar kata singa secara sendirian, tentu yang tertangkap dalam benak kita adalah singa yang termasuk binatang buas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika memahami sifat Allah pun mesti seperti itu. Hendaklah kita memahami secara zhohir, sesuai makna yang tertangkap dalam benak kita tanpa kita takwil (palingkan) ke makna lainnya tanpa adanya indikator atau dalil. Inilah yang diperintahkan dalam Al Qur’an ketika kita memahami ayat Al Qur’an. Coba kita perhatikan ayat-ayat berikut ini. Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ (192) نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ (193) عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ (194) بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ (195)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan sesungguhnya Al Qur'an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas.” (QS. Asy Syu’ara: 192-195). Lihatlah ayat ini menegaskan bahwa Al Qur’an diturunkan dengan bahasa Arab yang jelas, yang artinya bisa langsung kita pahami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat lain, Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّا جَعَلْنَاهُ قُرْآَنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Kami menjadikan Al Qur'an dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya).” (QS. Asy Syu’ara: 192-195). Ayat ini pun demikian yaitu menjelaskan bahwa Al Qur’an itu diturunkan dengan bahasa Arab yang mudah dipahami secara zhohir, tanpa perlu dipalingkan ke makna lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula Allah Ta’ala memerintahkan agar kita mengikuti apa yang Allah turunkan, artinya sesuai yang kita pahami di benak kita. Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya.” (QS. Al A’rof: 3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila Allah Ta’ala menurunkan Al Qur’an dengan bahasa Arab agar mudah direnungkan dan dipahami, lalu Allah memerintahkan untuk mengikutinya, maka wajib bagi kita memahami ayat-ayat yang ada secara zhohirnya sesuai yang dimaksudkan oleh bahasa Arab kecuali jika hakekat syar’i yang dikehendaki bukanlah demikian. Begitu pula hal ini berlaku pada ayat-ayat yang menjelaskan sifat Allah (tangan, wajah, istiwa’, dsb). Bahkan berpegang dengan zhohir pada nash-nash yang menjelaskan sifat Allah lebih utama kita praktekan karena penunjukkan sifat Allah harus tauqifiy (harus dengan dalil), tidak ada ruang bagi akal untuk merinci sifat Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ada yang mengatakan, “Janganlah pahami ayat yang menunjukkan sifat Allah secara zhohir, karena makna zhohir bukanlah yang dimaksudkan?” Kita jawab, “Apa yang dimaksud dengan zhohir yang kalian inginkan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Pertama] Kalau yang kalian maksudkan adalah memahami makna yang tertangkap pada nash denagn memahami sifat Allah tersebut sesuai dengan yang layak bagi-Nya tanpa melakukan tamtsil (penyamaan dengan makhluk), maka ini benar. Hal ini wajib diterima dan diimani oleh setiap hamba. Karena tidak mungkin Allah menceritakan mengenai sifat-sifat-Nya, lalu itu bukan yang Allah inginkan dan tanpa menjelaskannya pada hamba-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Kedua] Namun jika zhohir yang dimaksudkan adalah memahami sifat Allah dengan melakukan tamtsil (menyamakan sifat tersebut dengan sifat makhluk), maka inilah makna yang tidak diinginkan. Sebenarnya makna ini bukan makna zhohir dari dalil Al Kitab dan As Sunnah yang menjelaskan mengenai sifat Allah. Karena pemahaman zhohir semacam ini adalah pemahaman kufur dan batil serta terbantahkan dengan dalil dan ijma’ (kesepakatan para ulama).[3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silakan pembaca menilai pernyataan abusalafy di atas yang menyatakan sifat Allah mesti dita’wil. Pernyataan ini sungguh melenceng dari ijma’ (kesepakatan ulama). Lihat baik-baik klaim ijma’ dari pernyataan ulama berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memahami Sifat Allah Secara Zhohir adalah Ijma’ (Kesepakatan Para Ulama)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Imam Al Khothobiy rahimahullah mengatakan, “Madzhab salaf dalam mengimani sifat Allah adalah menetapkan dan memahaminya secara zhohir (tekstual), mereka menolak menyebutkan hakikat (kaifiyah) sifat tersebut dan mereka tidak melakukan tasybih (menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk).”[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Hafizh Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah, “Ahlus Sunnah berijma’ (bersepakat) dalam menetapkan sifat Allah yang terdapat dalam Al Kitab dan As Sunnah, mereka memahaminya sesuai dengan hakikatnya dan bukan dipahami secara majas. Namun ingatlah mereka tidak menyebutkan kaifiyah sifat tersebut (seperti menggambarkan bagaimana bentuk tangan dan wajah Allah, pen). Berbeda halnya dengan Jahmiyah, Mu’tazilah dan Khowarij; mereka semua mengingkari sifat Allah, mereka tidak mau memahami sesuai dengan makna hakikatnya. Mereka malah menganggap bahwa orang-orang yang menetapkan sifat sebagai musyabbihah (menyerupakan Allah dengan makhluk). Namun menurut mereka yang menetapkan sifat bagi Allah (yaitu Ahlus Sunnah) menilai bahwa Mu’tazilah,cs–lah yang telah menafikan (meniadakan) Allah sebagai sesembahan.”[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Para salaful ummah dan para imam telah bersepakat (berijma’) bahwa nash-nash yang menjelaskan sifat Allah haruslah dipahami secara zhohir (tekstual) sesuai dengan sifat yang layak bagi Allah tanpa melakukan tahrif (penyelewengan makna). Dan ingatlah bahwa memahami secara sifat Allah secara zhohir tidak berarti kita menyamakan Allah dengan makhluk.”[6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kenapa kita harus pahami dalil-dalil yang menjelaskan sifat Allah secara zhohir (seperti sifat tangan, wajah, ghodob (murka), istiwa’ Allah)? Jawabannya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Tidak mungkin bagi Allah membicarakan sesuatu, namun itu bukan yang Dia inginkan atau menyelisihi zhohirnya tanpa ada penjelasan.&lt;br /&gt;   2. Menetapkan sifat bagi Allah adalah tauqifi yaitu butuh dalil, sehingga kalau makna sifat Allah mau diselewengkan dari makna zhohir harus dengan dalil.&lt;br /&gt;   3. Inilah kesepakatan (ijma’) para ulama ahlus sunnah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuduhan: Menetapkan Sifat Allah Berarti Melakukan Tasybih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah tuduhan lainnya dari abusalafy dalam beberapa tulisannya terhadap orang yang menetapkan Allah berada di atas langit. Beliau menyebut mereka yang menetapkan sifat semacam itu sebagai mujassimah atau musyabbihah, yang berarti menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya. Inilah yang diisyaratkan oleh Ahmad bin Abdul Halim Al Haroni. Beliau rahimahullah mengatakan, “Mu’tazilah, Jahmiyah dan semacamnya yang menolak sifat Allah, mereka menyebut setiap orang yang menetapkan sifat bagi Allah sebagai mujassimah atau musyabbihah. Bahkan di antara mereka menyebut para Imam besar yang telah masyhur (seperti Imam Malik, Imam Asy Syafi’i, Imam Ahmad dan pengikut setia mereka) sebagai mujassimah atau musyabbihah (yang menyerupakan Allah dengan makhluk).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah bloger abusalafy yang mengikuti jejak Mu’tazilah dan Jahmiyah. Tidak beda jauh antara dia dengan mereka. Namun tenang saja, alhamdulillah tuduhan seperti ini sudah disanggah oleh ulama-ulama terdahulu. Perhatikan kalam mereka berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nu’aim bin Hammad Al Hafizh rahimahullah mengatakan, “Siapa yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, maka dia kafir. Siapa yang mengingkari sifat Allah yang Allah tetapkan bagi diri-Nya, maka dia kafir. Namun, menetapkan sifat yang Allah tetapkan bagi diri-Nya atau yang ditetapkan oleh Rasul-Nya tidaklah disebut tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ishaq bin Rohuwyah rahimahullah mengatakan, “Yang disebut tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk), jika kita mengatakan, ‘Tangan Allah sama dengan tanganku atau pendengaran-Nya sama dengan pendengaranku.’ Inilah yang disebut tasybih. Namun jika kita mengatakan sebagaimana yang Allah katakan yaitu mengatakan bahwa Allah memiliki tangan, pendengaran dan penglihatan; dan kita tidak sebut, ‘Bagaimana hakikat tangan Allah, dsb?’ dan tidak pula kita katakan, ‘Sifat Allah itu sama dengan sifat kita (yaitu tangan Allah sama dengan tangan kita)’; seperti ini tidaklah disebut tasybih. Karena ingatlah Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (QS. Asy Syuro: 11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Al Albani rahimahullah mengatakan, “Seandainya menetapkan ketinggian bagi Allah Ta’ala (di atas seluruh makhluk-Nya) bermakna tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk), maka setiap orang yang menetapkan sifat yang lainnya bagi Allah Ta’ala seperti menetapkan bahwa Allah itu Qodir (Maha Kuasa), Allah itu saami’ (Maha Mendengar) atau Allah itu bashiir (Maha Mendengar), orang-orang yang menetapkan seperti ini juga haruslah disebut musyabbihah. Namun tidak seorang muslim pun pada hari ini yang mereka menisbatkan diri pada Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengatakan bahwa orang yang menetapkan sifat-sifat tadi bagi Allah adalah musyabbihah (melakukan tasybih atau menyerupakan Allah dengan makhluk), berbeda dengan para penolak sifat Allah yaitu Mu’atzilah, dll.”[7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ringkasnya, jika kita yang menyatakan Allah di atas langit adalah musyabbihah, maka seharusnya engkau katakan pula pada orang-orang yang menetapkan sifat mendengar, melihat, bahkan sifat wujud adalah musyabbihah karena sifat-sifat ini juga ada pada makhluk. Namun, pasti engkau akan mengelak, tidak mau mengatakan demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, jika kami mengatakan bahwa Allah di atas langit, di atas seluruh makhluk-Nya, itu bukanlah berarti Allah serupa dengan makhluk. Jadi kami yang menetapkan sifat bukanlah musyabbihah, seperti kleim Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Justru orang yang menolak sifat Allah atau mengatakan, ‘Allah tidak berada di atas langit’, karena tidak boleh kita pahami ayat-ayat yang menyatakan demikian secara zhohirnya, namun makna yang lainnya’; mereka itulah sebenarnya musyabbihah? Kok, tuduhan ini bisa berbalik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini buktinya. Perlu diketahui bahwa setiap orang yang menolak sifat Allah (mu’athilah) sebelumnya mereka terlebih dahulu menyerupakan sifat Allah dengan makhluk (melakukan tasybih). Sebelumnya mereka berpikir, “Kalau kita menetapkan sifat tangan, wajah, dan sifat lainnya bagi Allah, maka ini sama saja kita menyerupakan Allah dengan makhluk”. Lalu agar sifat Allah tidak sama dengan makhluk, setelah itu mereka menolak sifat Allah, yaitu menolak sifat tangan, wajah, dan sifat lainnya. Inilah pemikiran mu’athilah (para penolak sifat) pertama kali. Sehingga para ulama mengatakan, “Kullu mu’athil musyabbih”, yaitu setiap orang yang menolak sifat Allah, mereka juga adalah orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk (melakukan tasybih). Karena takut menyerupakan Allah, akhirnya mereka menolak sifat Allah. Jadi siapakah sebenarnya yang musyabbihah atau mujassimah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nantikan serial selanjutnya dari pembahasan ini mengenai berbagai dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah tentang keberadaan Allah di atas langit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya Allah yang memberi taufik. Semoga Allah mudahkan untuk pembahasan selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diselesaikan di malam hari, di Panggang-Gunung Kidul, 26 Rabi’ul Awwal 1431 H (12/03/2010)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal (Abu Rumaysho Al Ambony)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel http://rumaysho.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Al ‘Aqidah Al Wasithiyah, Ahmad bin Abdul Halim Al Haroni Ibnu Taimiyah, hal. 8, Darul ‘Aqidah, cetakan pertama, tahun 1426 H&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Aqowiluts Tsiqoot fii Ta’wilil Al Asma’ wa Ash Shifaat wal ayat Al Muhkamat wal Mutasyabihaat, Mar’i bin Yusuf Al Hambali Al Maqdisi, Tahqiq: Syu’aib Al Arnauth, hal. 234, Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, 1406 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Penjelasan ini kami sarikan dari Taqribut Tadmuriyah, Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin, hal. 45-46, Darul Atsar, cetakan pertama, tahun 1422 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghofar, Al Hafizh Syamsuddin Adz Dzahaby, Tahqiq: Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, hal. 38, Al Maktab Al Islami, cetakan kedua, 1412 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] Idem&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6] Taqribut Tadmuriyah, hal. 46&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7] Lihat Mukhtashor Al ‘Uluw, hal. 67.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5002548945243865869-3863097929342863947?l=readmoslem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://readmoslem.blogspot.com/feeds/3863097929342863947/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5002548945243865869&amp;postID=3863097929342863947&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/3863097929342863947'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/3863097929342863947'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://readmoslem.blogspot.com/2010/03/di-manakah-allah-1.html' title='Di manakah ALLAH? ( 1 )'/><author><name>mencoba menjadi lebih baik...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05732610976505096819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_nHva8Y4lnmg/S1Sbw1CbB0I/AAAAAAAAABo/53TaZ0d4BVs/S220/moslem.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5002548945243865869.post-5548745932596041880</id><published>2010-03-18T18:39:00.000-07:00</published><updated>2010-03-25T20:59:37.211-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manajemen Hati'/><title type='text'>Mencontoh Akhlaq Mulia Nabi Ibrahim</title><content type='html'>Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan ora sahabatnya serta orang-orang yang meneladani mereka dengan baik hingga akhir zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak pelajaran berharga yang bisa kita petik dari kisah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam –Kholilullah (kekasih Allah)-. Di antara kisah beliau adalah ketika beliau didatangi para malaikat yang akan diutus untuk membinasakan kaum Luth. Para malaikat tersebut terlebih dahulu mendatangi Ibrahim dan istrinya, Sarah untuk memberi kabar gembira akan kelahiran anak mereka yang ‘alim yaitu Nabi Allah Ishaq ‘alaihis salam. Kisah tersebut disebutkan dalam ayat berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ ضَيْفِ إِبْرَاهِيمَ الْمُكْرَمِينَ (24) إِذْ دَخَلُوا عَلَيْهِ فَقَالُوا سَلَامًا قَالَ سَلَامٌ قَوْمٌ مُنْكَرُونَ (25) فَرَاغَ إِلَى أَهْلِهِ فَجَاءَ بِعِجْلٍ سَمِينٍ (26) فَقَرَّبَهُ إِلَيْهِمْ قَالَ أَلَا تَأْكُلُونَ (27) فَأَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيفَةً قَالُوا لَا تَخَفْ وَبَشَّرُوهُ بِغُلَامٍ عَلِيمٍ (28) فَأَقْبَلَتِ امْرَأَتُهُ فِي صَرَّةٍ فَصَكَّتْ وَجْهَهَا وَقَالَتْ عَجُوزٌ عَقِيمٌ (29) قَالُوا كَذَلِكِ قَالَ رَبُّكِ إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيمُ الْعَلِيمُ (30)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (yaitu malaikat-malaikat) yang dimuliakan? (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan: "Salaama". Ibrahim menjawab: "Salaamun (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal." Maka dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk.  Lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim lalu berkata: "Silahkan anda makan." (Tetapi mereka tidak mau makan), karena itu Ibrahim merasa takut terhadap mereka. Mereka berkata: "Janganlah kamu takut", dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishak).” (QS. Adz Dzariyat: 24-30)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjawab Salam dengan Yang Lebih Baik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat di atas, Allah Ta'ala benar-benar memuji kekasih-Nya, Ibrahim 'alaihis salam. Para malaikat sebagai tamu tadi, ketika masuk ke rumah beliau, mereka memberikan penghormatan dengan ucapan, “Salaaman”. Aslinya, kalimat ini berasal dari kalimat, “Sallamnaa 'alaika salaaman (kami mendoakan keselamatan padamu)”. Namun lihatlah bagaimana jawaban Nabi Ibrahim 'alaihis salaam terhadap salam mereka. Ibrahim menjawab, “Salaamun”. Maksud salam beliau ini adalah “salaamun daaim 'alaikum (keselamatan yang langgeng untuk kalian)”. Para ulama mengatakan bahwa balasan salam Ibrahim itu lebih baik dan lebih sempurna daripada salam para malaikat tadi. Karena Ibrahim menggunakan jumlah ismiyyah (kalimat yang diawali dengan kata benda) sedangkan para malaikat tadi menggunakan jumlah fi'liyah (kalimat yang diawali dengan kata kerja). Menurut ulama balaghoh, jumlah ismiyyah mengandung makna langgeng dan terus menerus, sedangkan jumlah fi'liyah hanya mengandung makna terbaharui. Artinya di sini, balasan salam Ibrahim lebih baik karena beliau mendoakan keselamatan yang terus menerus. Inilah contoh akhlaq yang mulia dari Nabi Allah Ibrahim 'alaihis salam. Kita bisa mengambil pelajaran dari sini bahwa hendaklah kita selalu menjawab ucapan salam dari saudara kita dengan balasan yang lebih baik. Sebagaimana Allah Ta’ala pun telah memerintahkan kita seperti itu dalam ayat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa).” (QS. An Nisa’: 86)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk membalas salam di sini boleh dengan yang semisal atau yang lebih baik, dan tidak boleh lebih rendah dari ucapan salamnya tadi. Contohnya di sini adalah jika saudara kita memberi salam: “Assalaamu ‘alaikum”, maka minimal kita jawab: “Wa’laikumus salam”. Atau lebih lengkap lagi dan ini lebih baik, kita jawab dengan: “Wa’alaikumus salam wa rahmatullah”, atau kita tambahkan lagi: “Wa’alaikumus salam wa rahmatullah wa barokatuh”. Bentuk lainnya adalah jika kita diberi salam dengan suara yang jelas, maka hendaklah kita jawab dengan suara yang jelas, dan tidak boleh dibalas hanya dengan lirih. Begitu juga jika saudara kita memberi salam dengan tersenyum dan menghadapkan wajahnya pada kita, maka hendaklah kita balas salam tersebut sambil tersenyum (bukan cemberut) dan menghadapkan wajah padanya. Inilah di antara bentuk membalas salam dengan yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memuliakan Tamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam cerita Ibrahim ini juga terdapat pelajaran yang cukup berharga yaitu akhlaq memuliakan tamu. Lihatlah bagaimana pelayanan Nabi Ibrahim 'alaihis salam untuk tamunya. Ada tiga hal yang istimewa dari penyajian beliau:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Beliau melayani tamunya sendiri tanpa mengutus pembantu atau yang lainnya.&lt;br /&gt;   2. Beliau menyajikan makanan kambing yang utuh dan bukan beliau beri pahanya atau sebagian saja.&lt;br /&gt;   3. Beliau pun memilih daging dari kambing yang gemuk. Ini menunjukkan bahwa beliau melayani tamunya dengan harta yang sangat berharga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sini kita bisa mengambil pelajaran bagaimana sebaiknya kita melayani tamu-tamu kita yaitu dengan pelayanan dan penyajian makanan yang istimewa. Memuliakan dan menjamu tamu inilah ajaran Nabi Ibrahim, sekaligus pula ajaran Nabi kita Muhammad 'alaihimush sholaatu wa salaam. 'Abdullah bin 'Amr dan 'Abdullah bin Al Harits bin Jaz'i mengatakan, “Barangsiapa yang tidak memuliakan tamunya, maka ia bukan pengikut Muhammad dan bukan pula pengikut Ibrahim” (Lihat Jaami'ul wal Hikam, hal. 170). Begitu pula dalam hadits yang shahih, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya” (HR. Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 47, dari Abu Hurairah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang dianjurkan menjamu tamunya dengan penuh perhatian selama sehari semalam dan sesuai kemampuan selama tiga hari, sedangkan bila lebih dari itu dinilai sebagai sedekah. Hal ini sebagaimana ditunjukkan dalam sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;« مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ جَائِزَتَهُ » . قَالَ وَمَا جَائِزَتُهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « يَوْمٌ وَلَيْلَةٌ وَالضِّيَافَةُ ثَلاَثَةُ أَيَّامٍ ، فَمَا كَانَ وَرَاءَ ذَلِكَ فَهْوَ صَدَقَةٌ عَلَيْهِ ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ »&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia perhatian dalam memuliakan tamunya.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud perhatian di sini, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yaitu perhatikanlah ia sehari semalam dan menjamu tamu itu selama tiga hari. Siapa yang ingin melayaninya lebih dari tiga hari, maka itu adalah sedekah baginya.” (HR. Bukhari no. 6019 dan Muslim no. 48, dari Syuraih Al 'Adawi). Para ulama menjelaskan bahwa makna hadits ini adalah seharusnya tuan rumah betul-betul perhatian melayani tamunya di hari pertama (dalam sehari semalam) dengan berbuat baik dan berlaku lembut padanya. Adapun hari kedua dan ketika, hendaklah tuan rumah memberikan makan pada tamunya sesuai yang mudah baginya dan tidak perlu ia lebihkan dari kebiasaannya. Adapun setelah hari ketiga, maka melayani tamu di sini adalah sedekah dan termasuk berbuat baik. Artinya, jika ia mau, ia lakukan dan jika tidak, tidak mengapa (Lihat Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 21/31). Imam Asy Syafi'i rahimahullah dan ulama lainnya mengatakan, “Menjamu tamu merupakan bagian dari akhlaq yang mulia yang biasa dilakukan oleh orang yang nomaden dan orang yang mukim” (Lihat Syarh Al Bukhari libni Baththol, 17/381). Sudah sepatutnya kita dapat mencontoh akhlaq yang mulia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara dengan Lemah Lembut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat yang kami bawakan di awal tadi, kita dapat menyaksikan bagaimana Nabi Ibrahim 'alaihis salam juga mencontohkan akhlaq berbicara lembut kepada para tamunya. Lihatlah ketika menjawab salam tamunya, beliau menjawab, “Salaamun qoumun munkarun” (selamat atas kalian kaum yang tidak dikenal). Kalimat ini dinilai lebih halus dari kalimat 'ankartum' (aku mengingkari kalian). Begitu pula ketika Ibrahim mengajak mereka untuk menyantap makanan. Bagaimana beliau menawarkan pada mereka? Beliau katakan, “Ala ta'kuluun” (mari silakan makan). Bahasa yang digunakan Ibrahim ini dinilai lebih halus dari kalimat, “Kuluu” (makanlah kalian). Ibaratnya Ibrahim menggunakan bahasa yang lebih halus ketika berbicara dengan tamunya. Kalau kita mau sebut, beliau menggunakan bahasa “kromo” (bahasa yang halus dan lebih sopan di kalangan orang jawa). Inilah contoh dari beliau bagaimana sebaiknya seseorang bertutur kata. Inilah pula yang diajarkan oleh Nabi kita shallallahu 'alaihi wa sallam. Dari 'Ali, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Di surga terdapat kamar-kamar yang bagian luarnya dapat dilihat dari dalam dan bagian dalamnya dapat dilihat dari luar.” Kemudian seorang Arab Badui bertanya, “Kamar-kamar tersebut diperuntukkan untuk siapa, wahai Rasulullah?” Beliau pun bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لِمَنْ أَطَابَ الْكَلاَمَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَدَامَ الصِّيَامَ وَصَلَّى لِلَّهِ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamar tersebut diperuntukkan untuk siapa saja yang tutur katanya baik, gemar memberikan makan (pada orang yang butuh), rajin berpuasa dan rajin shalat malam karena Allah ketika manusia sedang terlelap tidur.” (HR. Tirmidzi no. 1984 dan Ahmad 1/155, hasan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah akhlaq mulia dari Nabi Ibrahim yang seharusnya dapat kita jadikan teladan. Dalam sebuah ayat, Allah Ta'ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيهِمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari Kemudian.” (QS. Al Mumtahanah: 6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, Dar Ihya' At Turots, 1392.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaami'ul 'Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al Hambali, Darul Muayyid, cetakan pertama, 1424 H&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Qishoshul Anbiya', 'Abdurrahman bin Nashir As Sa'di, Dar Ibnu Hazm, cetakan pertama, 1422 H&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, Asy Syamilah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarh Riyadhus Sholihin, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin, Darul Kutub Al 'Ilmiyyah, cetakan ketiga, 1424 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taisir Al Karimir Rahman, 'Abdurrahman bin Nashir As Sa'di, Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama, 1423 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zaadul Muhajir, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, Darul Hadits.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel http://rumaysho.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai disusun di Pangukan-Sleman, 22 Rabi'ul Awwal 1431 H (08/03/2010)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5002548945243865869-5548745932596041880?l=readmoslem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://readmoslem.blogspot.com/feeds/5548745932596041880/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5002548945243865869&amp;postID=5548745932596041880&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/5548745932596041880'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/5548745932596041880'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://readmoslem.blogspot.com/2010/03/mencontoh-akhlaq-mulia-nabi-ibrahim.html' title='Mencontoh Akhlaq Mulia Nabi Ibrahim'/><author><name>mencoba menjadi lebih baik...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05732610976505096819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_nHva8Y4lnmg/S1Sbw1CbB0I/AAAAAAAAABo/53TaZ0d4BVs/S220/moslem.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5002548945243865869.post-3847602013663482719</id><published>2010-03-14T12:03:00.000-07:00</published><updated>2010-03-14T12:04:07.353-07:00</updated><title type='text'>Amalan Ketika Datang Panggilan Sholat</title><content type='html'>Alhamdullillahilladzi hamdan katsiron thoyyiban mubaarokan fiih kamaa yuhibbu Robbunaa wa yardho. Allahumma sholli ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala aalihi wa shohbihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut adalah beberapa penjelasan mengenai berbagai adab menuju masjid ketika menghadiri shalat jama’ah dan amalan apa saja yang dilakukan sebelum shalat. Semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;Tinggalkanlah Berbagai Aktivitas Ketika Datang Panggilan Shalat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Al Aswad, dia berkata bahwa dia menanyakan pada ‘Aisyah mengenai apa saja yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumahnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Aisyah menjawab,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كَانَ يَكُونُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ - يَعْنِى فى خِدْمَةَ أَهْلِهِ - فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلاةُ خَرَجَ إِلَيها&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membantu pekerjaan keluarganya, ketika ada panggilan shalat jama’ah, beliau bergegas pergi menunaikan shalat.” (HR. Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah yang semestinya dilakukan ketika seseorang mendengar adzan, bukan malah meneruskan aktivitas hingga iqomah, baru bergegas ke masjid.&lt;br /&gt;Bergegaslah Mendatangi Masjid dan Berusaha Untuk Datang Lebih Awal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa demikian? Yaitu agar seseorang memperoleh shaf pertama dan agar mendapatkan pahala karena menunggu shalat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِى النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلاَّ أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لاَسْتَهَمُوا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seandainya setiap orang tahu keutamaan adzan dan shaf pertama, kemudian mereka ingin memperebutkannya, tentu mereka akan memperebutkannya dengan berundi.” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebaik-baik shaf bagi laki-laki adalah shaf pertama, sedangkan yang paling jelek bagi laki-laki adalah shaf terakhir. Sebaik-baik shaf bagi wanita adalah shaf terakhir, sedangkan yang paling jelek bagi wanita adalah shaf pertama.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَإِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ كَانَ فِى الصَّلاَةِ مَا كَانَتِ الصَّلاَةُ هِىَ تَحْبِسُهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika seseorang memasuki masjid, dia berarti dalam keadaan shalat selama dia menunggu shalat.” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;Usahakan Berwudhu (Bersuci) di Rumah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ تَطَهَّرَ فِى بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ لِيَقْضِىَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً وَالأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa bersuci di rumahnya, kemudian dia berjalan menuju salah satu rumah Allah untuk menunaikan kewajiban yang Allah wajibkan, maka satu langkah kakinya akan  menghapuskan kesalahan dan langkah kaki lainnya akan meninggikan derajat.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;Menuju Masjid dengan Berjalan Kaki&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَكُلُّ خَطْوَةٍ تَمْشِيهَا إِلَى الصَّلاَةِ صَدَقَةٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setiap langkah berjalan untuk menunaikan shalat adalah sedekah.” (HR. Muslim no. 2382)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كُلُّ خُطْوَةٍ يَخْطُوهَا إِلَى الصَّلاَةِ يُكْتَبُ لَهُ بِهَا حَسَنَةٌ وَيُمْحَى عَنْهُ بِهَا سَيِّئَةٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setiap langkah menuju tempat shalat akan dicatat sebagai kebaikan dan akan menghapus kejelekan.” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shohih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah perlu memperpendek langkah kaki?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebagian ulama yang menganjurkan bahwa setiap orang yang hendak ke masjid hendaknya memperpendek langkah kakinya. Akan tetapi, ini adalah anjuran yang bukan pada tempatnya dan tidak ada dalilnya sama sekali. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits hanya mengatakan ‘setiap langkah kaki menuju shalat’ dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengatakan ‘hendaklah setiap orang memperpendek langkahnya.’ Seandainya perbuatan ini adalah perkara yang disyari’atkan, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menganjurkannya kepada kita. Yang dimaksudkan dalam hadits ini adalah bukan memanjangkan atau memendekkan langkah, namun yang dimaksudkan adalah berjalan seperti kebiasaannya. (Lihat Syarh Al Arba’in An Nawawiyah, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin pada penjelasan hadits no. 26)&lt;br /&gt;Haruslah Tenang, Tidak Perlu Tergesa-gesa Menuju Masjid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Qotadah mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;( بَيْنَمَا نَحْنُ نُصَلِّي مَعَ الرسول ( صلى الله عليه وسلم ) إِذْ سَمِعَ جَلَبَةَ رِجَالٍ ، فَلَمَّا صَلَّى ، قَالَ : ( مَا شَأْنُكُمْ ) ؟ قَالُوا : اسْتَعْجَلْنَا إِلَى الصَّلاةِ ، قَالَ : ( فَلا تَفْعَلُوا إِذَا أَتَيْتُمُ الصَّلاةَ فَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ ، فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا ، وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tatkala kami menunaikan shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika itu terdengar suara beberapa orang yang tergesa-gesa. Kemudian setelah selesai shalat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Ada apa dengan kalian tadi?” Orang-orang yang tadi tergesa-gesa pun menjawab, “Kami tadi tergesa-gesa untuk shalat.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata, “Janganlah kalian lakukan seperti itu. Jika kalian mendatangi shalat, bersikap tenanglah. Jika kalian mendapati imam shalat, maka ikutilah. Sedangkan apa yang luput dari kalian, sempurnakanlah.” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِذَا سَمِعْتُمُ الإقَامَةَ ، فَامْشُوا إِلَى الصَّلاةِ ، وَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ وَالْوَقَارِ ، وَلا تُسْرِعُوا ، فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا ، وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika kalian mendengar adzan, berjalanlah menuju shalat, bersikap tenang dan khusyu’lah, janganlah tergesa-gesa. Jika kalian mendapati imam shalat, maka shalatlah. Sedangkan apa yang luput dari kalian, sempurnakanlah.” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;Bacalah Dzikir Ketika Berjalan Ke Masjid dan Ketika Masuk Masjid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika keluar rumah, hendaklah setiap muslim membaca do’a: Bismillahi tawakkaltu ‘alallah laa hawla wa laa quwwata illa billah (Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Nya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Anas bin Malik, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِذَا خَرَجَ الرَّجُلُ مِنْ بَيْتِهِ فَقَالَ بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ قَالَ « يُقَالُ حِينَئِذٍ هُدِيتَ وَكُفِيتَ وَوُقِيتَ فَتَتَنَحَّى لَهُ الشَّيَاطِينُ فَيَقُولُ لَهُ شَيْطَانٌ آخَرُ كَيْفَ لَكَ بِرَجُلٍ قَدْ هُدِىَ وَكُفِىَ وَوُقِىَ ».&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika seseorang keluar dari rumah, lalu dia mengucapkan “Bismillahi tawakkaltu ‘alallah, laa hawla wa laa quwwata illa billah” (Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan-Nya), maka dikatakan ketika itu: “Engkau akan diberi petunjuk, dicukupkan, dijaga, dan setan pun akan menyingkir darinya”. Setan yang lain akan mengatakan: “Bagaimana mungkin engkau bisa mengganggu seseorang yang telah mendapatkan petunjuk, kecukupan dan penjagaan?!” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ketika perjalanan menuju masjid, hendaklah membaca do’a:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِى قَلْبِى نُورًا وَفِى لِسَانِى نُورًا وَاجْعَلْ فِى سَمْعِى نُورًا وَاجْعَلْ فِى بَصَرِى نُورًا وَاجْعَلْ مِنْ خَلْفِى نُورًا وَمِنْ أَمَامِى نُورًا وَاجْعَلْ مِنْ فَوْقِى نُورًا وَمِنْ تَحْتِى نُورًا. اللَّهُمَّ أَعْطِنِى نُورًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allahummaj’al fii qolbiy nuuron wa fii lisaaniy nuuron waj’al fi sam’iy nuuron waj’al fii bashoriy nuuron waj’al min kholfiy nuuron wa min amamaamiy nuuron, waj’al min fawqiy nuuron wa min tahtii nuuron. Allahumma a’thiniy nuuron. [Ya Allah, berikanlah cahaya di hatiku, pendengaranku, penglihatanku, di belakangku, di hadapanku, di atasku dan di bawahku. Ya Allah berikanlah aku cahaya]” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika masuk masjid, ucapkanlah do’a: Allahummaftah lii abwaaba rohmatik (Ya Allah, bukakanlah padaku pintu rahmat-Mu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Usaid, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ افْتَحْ لِى أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ. وَإِذَا خَرَجَ فَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika salah seorang di antara kalian memasuki masjid, ucapkanlah: Allahummaftah lii abwaaba rohmatik (Ya Allah, bukakanlah padaku pintu rahmat-Mu). Dan jika keluar dari masjid, ucapkanlah: Allahummaftah lii abwaaba min fadhlik (Ya Allah, bukakanlah padaku pintu kemuliaan-Mu).” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;Janganlah Menyela-nyela Jari-Jemari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إذا توضأ أحدكم في بيته ثم أتى المسجد كان في صلاة حتى يرجع فلا يقل هكذا : و شبك بين أصابعه&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika salah seorang di antara kalian berwudhu di rumahnya, kemudian mendatangi masjid, maka dia sudah teranggap berada dalam shalat sampai dia kembali. Oleh karena itu janganlah lakukan seperti ini: Menyela-nyela jari-jemari.” (HR. Hakim. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)&lt;br /&gt;Kerjakanlah Shalat Tahiyyatul Masjid, Jangan Langsung Duduk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Qotadah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلَا يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika salah seorang dari kalian memasuki masjid, maka janganlah dia duduk sampai dia mengerjakan shalat sunnah dua raka’at (shalat sunnah tahiyatul masjid).” (HR. Bukhari)&lt;br /&gt;Janganlah Mengerjakan Shalat Sunnah Ketika Iqomah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِذَا أُقِيمَتِ الصَّلاَةُ فَلاَ صَلاَةَ إِلاَّ الْمَكْتُوبَةُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apabila dikumandangkan iqomah, maka tidak ada shalat lagi selain shalat wajib.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;Jangan Keluar dari Masjid Setelah Adzan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdurrahman bin Harmalah mengatakan, ”Seorang laki-laki datang menemui Sa’id bin Al Musayyib untuk menitipkan sesuatu karena mau berangkat haji dan umroh. Lalu Sa’id mengatakan kepadanya, ”Janganlah pergi, hendaklah kamu shalat terlebih dahulu karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لاَ يَخْرُجُ بَعْدَ النِّدَاءِ مِنَ الْمَسْجِدِ إِلاَّ مُنَافِقٌ إِلاَّ رَجُلٌ أَخْرَجَتْهُ حَاجَتُهُ وَهُوَ يُرِيدُ الرَّجْعَةَ إِلَى الْمَسْجِدِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidaklah keluar dari masjid setelah adzan kecuali orang munafik atau orang yang ada keperluan dan ingin kembali lagi ke masjid.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu orang ini mengatakan,”(Tetapi) teman-temanku sedang menunggu di Al Harroh.” Lalu dia keluar (dari masjid). Belum lagi Sa’id menyayangkan kepergiannya, tiba-tiba dikabarkan orang ini telah jatuh dari kendaraanya sehingga pahanya patah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini terdapat dalam Sunan Ad Darimi pada Bab ‘Disegerakannya hukuman di dunia bagi orang yang meremehkan perkataan Nabi dan tidak mengagungkannya’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Husain Salim Asad mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan.&lt;br /&gt;Jangan Berdiri Ketika Iqomah Sampai Imam Berdiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Qotadah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِذَا أُقِيمَتِ الصَّلاَةُ فَلاَ تَقُومُوا حَتَّى تَرَوْنِى&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika iqomah sudah dikumandangkan, maka janganlah kalian berdiri sampai kalian melihatku berdiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel http://rumaysho.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disusun di malam hari, di rumah mertua tercinta (Panggang-Gunung Kidul), 10 Jumadil Ula 1430 H&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5002548945243865869-3847602013663482719?l=readmoslem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://readmoslem.blogspot.com/feeds/3847602013663482719/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5002548945243865869&amp;postID=3847602013663482719&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/3847602013663482719'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/3847602013663482719'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://readmoslem.blogspot.com/2010/03/amalan-ketika-datang-panggilan-sholat.html' title='Amalan Ketika Datang Panggilan Sholat'/><author><name>mencoba menjadi lebih baik...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05732610976505096819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_nHva8Y4lnmg/S1Sbw1CbB0I/AAAAAAAAABo/53TaZ0d4BVs/S220/moslem.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5002548945243865869.post-484840402766971958</id><published>2010-03-12T04:49:00.000-08:00</published><updated>2010-03-12T04:50:29.314-08:00</updated><title type='text'>"Sex Before Marriage" bukan cinta sejati</title><content type='html'>Dua sejoli itu duduk berdampingan di sebuah taman yang rindang yang penuh pepohonan. Mereka berdua sebenarnya tidak sendirian. Karena tak jauh dari tempat mereka bercengkerama, belasan pasangan laki perempuan yang lain juga duduk menyepi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah yang duduk-duduk ini pasangan suami istri? Bukan. Mereka adalah pasangan muda-mudi yang menumpahkan perasaan kasmarannya. Sayangnya, cara yang mereka tempuh adalah cara yang keliru. Pemandangan seperti itu bukan lagi hal yang asing ditemukan. Bahkan tak jarang aktivitas pacaran tersebut dilakukan di rumah Allah, yaitu di masjid. Kebanyakan muda-mudi yang belum punya status nikah tetap nekad bermaksiat di tempat mulia semacam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pacaran Sudah Jelas Jalan Menuju Zina&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai muda-mudi ... Jalan manakah lagi yang lebih dekat pada zina selain pacaran? Bukankah banyak kasus zina berawal dari tindak tanduk perkenalan diri lewat pacaran? Hal ini tidak bisa disangkal lagi, apalagi untuk sekarang ini. Sudah banyak berita yang kita saksikan. Hanya karena kenalan lewat media FB, hingga suka sama suka, dua sejoli dan yang satunya masih duduk di bangku kelas 2 SMP (14 tahun) akhirnya jalan berdua dengan kenalannya hingga si gadis kecil dibawa lari jauh dari ortunya. Terjadilah apa yang terjadi. Si gadis kecil pun dirayu-rayu oleh si laki-laki hingga akhirnya mau melepaskan keperawanannya hanya karena rayuan gombal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah adik-adikku ... Bukankah pacaran ini benar-benar jalan menuju zina? Awalnya dari kenalan. Lalu beranjak janjian kencan. Lalu dibawa ke tempat sepi. Setelah itu beranjak ke yang lebih parah. Maka terjadilah zina yang tidak disangka-sangka dari awal, hanya karena alasan true love, membuktikan cinta yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga kita bisa merenungkan ayat yang mulia,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”(QS. Al Isro’: 32). Ulama terkemuka yaitu Muhammad bin ‘Ali Asy Syaukani rahimahullah menjelaskan, “Allah melarang mendekati zina. Oleh karenanya, sekedar mencium lawan jenis saja otomatis terlarang. Karena segala jalan menuju sesuatu yang haram, maka jalan tersebut juga menjadi haram. Itulah yang dimaksud dengan ayat ini.”[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba perhatikan penjelasan di atas wahai adikku ... Kita dapat suatu pelajaran bahwa setiap hal yang dapat mengantarkan pada yang haram atau dosa besar, maka itu semua menjadi terlarang. Ingatlah bahwa ayat di atas bukan hanya memperingatkan perbuatan zina yang merupakan dosa besar. Namun ayat yang mulia di atas juga memperingatkan segala jalan yang dapat mengantarkan pada zina. Segala jalan menuju zina saja dilarang karena kita dilarang mendekati zina, maka melakukan zina lebih-lebih terlarang lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun banyak muda-mudi yang kami sayangkan belum memahami ayat tersebut. Allah Ta’ala sebenarnya cukup menyampaikan ayat yang ringkas saja, namun cakupannya luas untuk melarang hal-hal lainnya. Dari sini, maka aktivitas berdua-duaan antara lawan jenis itu terlarang dan aktivitas menyentuh lawan jenis juga terlarang. Apalagi dua aktivitas yang kami sebutkan ini ada larangan khususnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk aktivitas berdua-duaan antara lawan jenis, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَلاَ لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ لاَ تَحِلُّ لَهُ ، فَإِنَّ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ ، إِلاَّ مَحْرَمٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita yang tidak halal baginya karena sesungguhnya syaithan adalah orang ketiga di antara mereka berdua kecuali apabila bersama mahromnya.”[2] Ini menunjukkan terlarangnya kholwat (berdua-duaan antara lawan jenis).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk aktivitas menyentuh lawan jenis, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tunjukkan larangannya dalam sabdanya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.”[3] Artinya, menyentuh lawan jenis yang bukan mahrom termasuk keharaman karena dinamakan dengan zina yang juga haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelasan di atas sebenarnya sudah cukup menyatakan bahwa pacaran itu terlarang. Jika ada yang masih mengatakan bahwa ada pacaran yang halal yaitu pacaran Islami, maka cukup kami jawab, “Bagaimana mau dikatakan halal sedangkan pelanggaran di atas masih ditemui? Jika kita nekad mengatakan ada pacaran Islami, maka kita juga seharusnya berani mengatakan ada zina Islami, khomr Islami, judi Islami dan sebagainya.” Hanya Allah yang beri taufik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih Parah Dari Itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau duduk merapat, berangkulan, berciuman dan sejenisnya yang dilakukan oleh laki perempuan non mahrom yang tak diikat tali pernikahan saja sudah tidak boleh dan dilarang oleh ajaran Islam, bagaimana jika lebih dari itu? Namun inilah yang disayangkan tersebar luas di kalangan muda-mudi. Mereka begitu mudahnya membuktikan cinta, namun dengan jalan yang keliru yaitu dengan “sex before marriage (SBM)”, atau istilah kerennya adalah dengan “making love”. Sekeren apapun namanya namun hakekatnya tetap sama yaitu menerjang larangan Allah dengan melakukan dosa besar zina. Inilah yang dikatakan oleh mereka-mereka sebagai pembuktian cinta. Inilah yang katanya true love, cinta sebenarnya. Bagaimana mungkin zina dinamakan true love sedangkan di sana menerjang larangan Allah yang termasuk dosa besar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah Allah Ta’ala telah menyebutkan dalam kitabnya yang mulia,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”(QS. Al Isro’: 32)? Lihatlah bahwa zina di sini disebut dengan perbuatan yang keji dan sejelek-jelek jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat lainnya, Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آَخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya).” (QS. Al Furqon: 68). Artinya, orang yang melakukan salah satu dosa yang disebutkan dalam ayat ini akan mendapatkan siksa dari perbuatan dosa yang ia lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, dosa apa yang paling besar di sisi Allah?” Beliau bersabda, “Engkau menjadikan bagi Allah tandingan, padahal Dia-lah yang menciptakanmu.” Kemudian ia bertanya lagi, “Terus apa lagi?” Beliau bersabda, “Engkau membunuh anakmu yang dia makan bersamamu.” Kemudian ia bertanya lagi, “Terus apa lagi?” Beliau bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ثُمَّ أَنْ تُزَانِىَ بِحَلِيلَةِ جَارِكَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kemudian engkau berzina dengan istri tetanggamu.” Kemudian akhirnya Allah turunkan surat Al Furqon ayat 68 di atas.[4] Di sini menunjukkan besarnya dosa zina, apalagi berzina dengan istri tetangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits lainnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِذَا زَنَى الرَّجُلُ خَرَجَ مِنْهُ الإِيمَانُ كَانَ عَلَيْهِ كَالظُّلَّةِ فَإِذَا انْقَطَعَ رَجَعَ إِلَيْهِ الإِيمَانُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika seseorang itu berzina, maka iman itu keluar dari dirinya seakan-akan dirinya sedang diliputi oleh gumpalan awan (di atas kepalanya). Jika dia lepas dari zina, maka iman itu akan kembali padanya.” [5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski larangan-larangan zina dalam berbagai dalil di atas begitu tegas dan ancamannya begitu berat ternyata banyak remaja yang terjebak dalam perbuatan keji tersebut. Survey, data yang diperoleh dan dipublikasikan oleh banyak kalangan semakin membuat hati miris. Kadang timbul pertanyaan setelah membacanya? Sudah benar-benar rusakkah pemuda Islam kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haruskah Membuktikan True Love Lewat Making Love?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang melakukan aktivitas pacaran, memberikan alasan bahwa seks sebelum nikah (sex before marriage) adalah bukti cinta sejati. Logika mereka, yang namanya cinta itu butuh pengorbanan. Nah, kalau wanita yang diajak pacaran, maka ia harus mau berkorban. Apa bentuk pengorbanannya? Tak lain dan tak bukan adalah mengorbankan kesucian mereka. Naudzu billah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu ini adalah alasan yang dibuat-buat untuk memperturutkan hawa nafsu rendahan. Yang benar adalah bila seseorang cinta pada seseorang pasti ia akan berusaha memberikan kebaikan kepada orang yang dicintainya dan tak rela bila kekasihnya terjerumus dalam kesengsaraan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لاَ يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ مِنَ الْخَيْرِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, seorang hamba tidak beriman (dengan iman yang sempurna) hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya mendapat kebaikan.”[6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita benar-benar cinta kepada seorang wanita dan sebaliknya, maka kita akan bersungguh-sungguh menjaga kesuciannya karena itu adalah suatu kebaikan sebagaimana kita pula ingin memperolehnya. Tentu hal itu tidak ditempuh lewat jalan pacaran dan berhubungan seks di luar jalan yang benar. Pengorbanan yang benar dalam cinta bukan berkorban untuk maksiat, namun berkorban dengan mengerahkan seluruh kemampuan menjaga kesucian diri dan orang yang dicinta serta berusaha meraih hubungan yang dihalalkan oleh Allah. Yakinlah adikku, jika kita benar-benar tulus ingin menjaga kesucian diri dan meraih yang halal, Allah pasti akan menolong. Ingat selalu sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ثَلاَثَةٌ حَقٌّ عَلَى اللَّهِ عَوْنُهُمُ الْمُجَاهِدُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُكَاتَبُ الَّذِى يُرِيدُ الأَدَاءَ وَالنَّاكِحُ الَّذِى يُرِيدُ الْعَفَافَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tiga orang yang berhak mendapatkan pertolongan Allah, yaitu orang yang berjihad di jalan Allah, budak mukatab yang ingin membebaskan dirinya, dan orang yang menikah yang ingin menjaga kehormatan dirinya.”[7] Oleh karenanya, jika seseorang betul-betul ingin menjaga kesucian dirinya, maka tempuhlah jalan yang benar yaitu melalui jenjang pernikahan, niscaya pertolongan Allah akan terus datang. Yakinlah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi cinta sejati dibuktikan lewat jalan yang benar yaitu lewat jalan menikah. Jika belum mampu, maka bersabarlah. Sibukkanlah diri dengan hal-hal yang baik. Jauhi pergaulan dengan lawan jenis kecuali jika darurat. Banyak memohon kepada Allah agar diberikan kemudahan untuk terlepas dari zina dan segala jalan menuju perbuatan yang keji tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah senantiasa memberi taufik kepada setiap muda-mudi yang membaca risalah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disusun di Panggang, Gunung Kidul, 26 Rabi’ul Awwal 1431 H (12/03/2010)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel www.remajaislam.com , dipublish ulang oleh http://rumaysho.com [8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Fathul Qodir, Asy Syaukani, 4/300, Mawqi’ At Tafaasir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] HR. Ahmad no. 15734. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan hadits ini shohih ligoirihi (shahih dilihat dari jalur lainnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] HR. Muslim no. 6925.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] HR. Bukhari no. 7532 dan Muslim no. 86.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] HR. Abu Daud no. 4690 dan Tirmidzi no. 2625. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6] HR. Ahmad (3/206). Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7] HR. Tirmidzi no. 1655. At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan. Syaikh Al Albani juga mengatakann hadits ini hasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[8] Kami olah tulisan ini dari Majalah Elfata, edisi 12, vol 07, tahun 2007.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5002548945243865869-484840402766971958?l=readmoslem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://readmoslem.blogspot.com/feeds/484840402766971958/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5002548945243865869&amp;postID=484840402766971958&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/484840402766971958'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/484840402766971958'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://readmoslem.blogspot.com/2010/03/sex-before-marriage-bukan-cinta-sejati.html' title='&quot;Sex Before Marriage&quot; bukan cinta sejati'/><author><name>mencoba menjadi lebih baik...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05732610976505096819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_nHva8Y4lnmg/S1Sbw1CbB0I/AAAAAAAAABo/53TaZ0d4BVs/S220/moslem.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5002548945243865869.post-1025077123679479506</id><published>2010-03-10T17:40:00.001-08:00</published><updated>2010-03-10T17:41:01.226-08:00</updated><title type='text'>Aku Merindukan Bersahabat Dengan Orang2 sholih</title><content type='html'>Allah menyatakan dalam Al Qur'an bahwa salah satu sebab utama yang membantu menguatkan iman para shahabat Nabi adalah keberadaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di tengah-tengah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنْتُمْ تُتْلَى عَلَيْكُمْ آَيَاتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagaimana mungkin (tidak mungkin) kalian menjadi kafir, sedangkan ayat-ayat Allah dibacakan kepada kalian, dan Rasul-Nyapun berada ditengah-tengah kalian? Dan barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah maka sesungguhnya dia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus." (QS. Ali 'Imran: 101).&lt;br /&gt;Allah juga memerintahkan agar selalu bersama dengan orang-orang yang baik. Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar(jujur)." (QS. At Taubah: 119).&lt;br /&gt;Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan kepada kita agar bersahabat dengan orang yang dapat memberikan kebaikan dan sering menasehati kita.&lt;br /&gt;مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ ، وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ ، أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang sholih dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari no. 2101, dari Abu Musa.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan, “Hadits ini menunjukkan larangan berteman dengan orang-orang yang dapat merusak agama maupun dunia kita. Dan hadits ini juga menunjukkan dorongan agar bergaul dengan orang-orang yang dapat memberikan manfaat dalam agama dan dunia." (Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, 4/324, Darul Ma’rifah, Beirut, 1379)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama pun memiliki nasehat agar kita selalu dekat dengan orang sholih.&lt;br /&gt;Al Fudhail bin ‘Iyadh berkata,&lt;br /&gt;نَظْرُ المُؤْمِنِ إِلَى المُؤْمِنِ يَجْلُو القَلْبَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pandangan seorang mukmin kepada mukmin yang lain akan mengilapkan hati.”(Siyar A’lam An Nubala’, 8/435, Mawqi’ Ya’sub). Maksud beliau adalah dengan hanya memandang orang sholih, hati seseorang bisa kembali tegar. Oleh karenanya, jika orang-orang sholih dahulu kurang semangat dan tidak tegar dalam ibadah, mereka pun mendatangi orang-orang sholih lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Abdullah bin Al Mubarok mengatakan, “Jika kami memandang Fudhail bin ‘Iyadh, kami akan semakin sedih dan merasa diri penuh kekurangan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ja’far bin Sulaiman mengatakan, “Jika hati ini ternoda, maka kami segera pergi menuju Muhammad bin Waasi’." (Ta’thirul Anfas min Haditsil Ikhlas, Sayyid bin Husain Al ‘Afani, hal. 466, Darul ‘Affani, cetakan pertama, tahun 1421 H)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Qayyim mengisahkan, “Kami (murid-murid Ibnu Taimiyyah), jika kami ditimpa perasaan gundah gulana atau muncul dalam diri kami prasangka-prasangka buruk atau ketika kami merasakan sempit dalam menjalani hidup, kami segera mendatangi Ibnu Taimiyah untuk meminta nasehat. Maka dengan hanya memandang wajah beliau dan mendengarkan nasehat beliau serta merta hilang semua kegundahan yang kami rasakan dan berganti dengan perasaan lapang, tegar, yakin dan tenang".(Lihat Shahih Al Wabilush Shoyyib, antara hal. 91-96, Dar Ibnul Jauziy)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah pentingnya bergaul dengan orang-orang yang sholih. Oleh karena itu, sangat penting sekali mencari lingkungan yang baik dan mencari sahabat atau teman dekat yang semangat dalam menjalankan agama sehingga kita pun bisa tertular aroma kebaikannya. Jika lingkungan atau teman kita adalah baik, maka ketika kita keliru, ada yang selalu menasehati dan menyemangati kepada kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dalam masalah persahabatan yang tidak bertemu setiap saat, kita dituntunkan untuk mencari teman yang baik, apalagi dengan mencari pendamping hidup yaitu suami atau istri. Pasangan suami istri tentu saja akan menjalani hubungan bukan hanya sesaat. Bahkan suami atau istri akan menjadi teman ketika tidur. Sudah sepantasnya, kita berusaha mencari pasangan yang sholih atau sholihah. Kiat ini juga akan membuat kita semakin teguh dalam menjalani agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faedah Ilmu di Panggang, Gunung Kidul, 20 Dzulhijah 1430 H&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel http://rumaysho.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5002548945243865869-1025077123679479506?l=readmoslem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://readmoslem.blogspot.com/feeds/1025077123679479506/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5002548945243865869&amp;postID=1025077123679479506&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/1025077123679479506'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/1025077123679479506'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://readmoslem.blogspot.com/2010/03/aku-merindukan-bersahabat-dengan-orang2.html' title='Aku Merindukan Bersahabat Dengan Orang2 sholih'/><author><name>mencoba menjadi lebih baik...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05732610976505096819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_nHva8Y4lnmg/S1Sbw1CbB0I/AAAAAAAAABo/53TaZ0d4BVs/S220/moslem.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5002548945243865869.post-1395664222677748241</id><published>2010-03-04T02:34:00.000-08:00</published><updated>2010-03-04T02:35:23.474-08:00</updated><title type='text'>Melejitkan Potensi Diri, Meraih Kesempurnaan</title><content type='html'>Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Zat yang jiwaku berada di tangannya, tidaklah Alloh menurunkan baik di dalam taurat, di dalam Zabur, di dalam Injil, tidak juga di dalam Al Furqan (Al Quran) sebuah surat yang seperti ini, sesungguhnya ia adalah As Sab’ul Matsaani (Al Fatihah).” (Shahih, HR. Tirmidzi, 5/2875, disahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Sunan Tirmidzi, lihat Tafsir Ibnu Katsir jilid 1 hal 13)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia itu memiliki dua potensi kekuatan: kekuatan ilmiah nazhariyah (pengetahuan dan pemikiran) dan kekuatan ‘amaliah iradiyah (perbuatan dan kehendak). Kebahagiaan yang sempurna bagi manusia sangat tergantung pada penyempurnaan kedua kekuatan ini; kekuatan ilmiah/pengetahuan dan kekuatan iradiyah/kehendak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiat Menyempurnakan Kekuatan Ilmiah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara untuk menyempurnakan kekuatan ilmiah hanya bisa dilakukan dengan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Mengenali Zat Yang telah menciptakan dirinya, Nama-nama dan Sifat-sifatNya.&lt;br /&gt;   2. Mengetahui jalan yang bisa mengantarkan kepada-Nya.&lt;br /&gt;   3. Harus mengerti berbagai rintangan jalan tersebut.&lt;br /&gt;   4. Harus mengenali dirinya sendiri.&lt;br /&gt;   5. Mengetahui aib-aib yang dimilikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan lima pengetahuan inilah seorang manusia akan bisa memperoleh kesempurnaan kekuatan ilmiah. Orang yang paling berilmu adalah orang yang paling mengerti dan paling paham tentang-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiat Menyempurnakan Kekuatan Amaliah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan untuk menyempurnakan kekuatan amaliah iradiyah hanya bisa diraih dengan menjaga hak-hak Alloh subhanahu wa ta’ala yang harus ditunaikan hamba (tauhid dan taat) dan menegakkannya dengan ikhlas, shidq (jujur dan benar), penuh nasihat, ihsan, mutaba’ah (mengikuti tuntunan) dan menyadari serta mengakui karunia Alloh kepada dirinya, menyadari kekurangan dirinya dalam menunaikan hak-hakNya. Sehingga dia pun merasa malu menghadap-Nya dengan pengabdian (yang kurang) seperti itu karena dia menyadari bahwa pengabdiannya itu belum bisa memenuhi hak-Nya sebagaimana seharusnya, bahkan jauh sekali di bawah semestinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa Pertolongan Alloh Itu Tak Mungkin Diraih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak mungkin seorang manusia menempuh jalan untuk menyempurnakan kedua kekuatan ini kecuali dengan pertolongan Alloh. Allohlah yang memberikan hidayah kepadanya menuju jalan yang lurus/shirathul mustaqim; jalan yang diajarkan Alloh kepada wali-waliNya dan mereka mendapat keistimewaan dengan menempuhnya, Allohlah yang bisa menjauhkan dirinya dari melenceng keluar dari jalan tersebut. Penyimpangan dari jalan lurus itu bisa terjadi dengan rusaknya kekuatan ilmiahnya sehingga dia terjatuh dalam kesesatan. Atau juga penyimpangan itu terjadi karena rusaknya kekuatan amaliahnya sehingga dia berhak mendapatkan murka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka kesempurnaan dan kebahagiaan insan tidak mungkin tercapai kecuali dengan terkumpulnya seluruh perkara ini tadi (kekuatan ilmiah dan amaliah serta pertolongan Alloh). Surat Al Fatihah telah mencakup perkara-perkara ini dan menatanya dengan sedemikian bagusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ushul Asma’ul Husna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman Alloh Ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الحمد لله رب العالمين. الرحمن الرحيم. مالك يوم الدين&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Segala puji bagi Alloh Robb penguasa alam, Yang Maha pemurah lagi Maha penyayang, Raja penguasa pada hari pembalasan.” (QS. Al Fatihah: 2-4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat-ayat ini mengandung landasan yang pertama yaitu mengenali Robb ta’ala, Nama-Nama, Sifat-Sifat dan perbuatan-perbuatanNya. Nama-Nama Alloh yang tercantum dalam surat ini adalah ushul asma’ul husna (pokok Asma’ul Husna) yaitu: Alloh, Ar Rabb dan Ar Rahman. Makna-makna semua Nama Alloh intinya berpusat pada nama-nama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Alloh mengandung sifat Uluhiyah. Alloh, dialah yang berhak dipertuhankan dan diibadahi, yang berhak diesakan dalam beribadah karena berbagai macam sifat ketuhanan melekat di dalam diri-Nya, dan itu semua merupakan sifat kesempurnaan (Taisir Karimirrahman, hal. 39).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Ar Rabb mengandung sifat Rububiyah. Rabbul ‘Aalamin artinya Zat yang men-tarbiyah seluruh alam. Tarbiyah Alloh kepada makhluk-Nya ada dua macam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Tarbiyah ‘aammah/umum&lt;br /&gt;   2. Tarbiyah khaashshah/khusus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarbiyah Umum dan Khusus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarbiyah umum yaitu: penciptaan seluruh makhluk, pemberian rezeki kepada mereka, pemberian petunjuk guna mencapai kemaslahatan hidup mereka selama di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan tarbiyah khusus adalah: tarbiyahNya kepada wali-waliNya. Wali Alloh adalah hamba-hambaNya yang beriman dan senantiasa bertakwa kepada-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alloh mentarbiyah mereka dengan keimanan, memberikan taufik kepada mereka untuknya, menyempurnakan iman itu bagi mereka. Alloh menyingkirkan berbagai rintangan dan penghalang yang menghalangi hubungan mereka dengan-Nya. Hakikat dari tarbiyah khusus ini adalah: tarbiyah taufik untuk bisa mencapai segala kebaikan dan terlindungi dari berbagai macam kejelekan (Taisir Karimirrahman, hal. 39).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Ar Rahman mengandung sifat ihsan, pemurah dan pemilik kebaikan. Ibnul Mubaarak rohimahulloh mengatakan, “Ar Rahman apabila diminta pasti memberi dan apabila tidak diminta akan murka.” Hal ini sebagaimana disabdakan oleh Nabi, “Barang siapa yang tidak meminta kepada Alloh maka Alloh murka kepadanya.” (Shahih, dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jaami’ 2418, lihat Tafsir Ibnu Katsir 1/27)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inti Penghambaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman Alloh ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إيّاك نعبد و إيّاك نستعين&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami minta pertolongan.” (QS. Al Fatihah: 5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat ini mengandung keharusan mengetahui jalan yang mengantarkan kepada Alloh, jalan itu adalah dengan beribadah kepada-Nya saja dengan segala sesuatu yang dicintai dan diridhoi-Nya serta senantiasa memohon pertolongan-Nya dalam menunaikan ibadah kepada-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibadah adalah segala sesuatu yang dicintai dan diridhoi Alloh, baik berupa perkataan maupun perbuatan; yang nampak maupun yang tersembunyi. Dan ibadah hanya akan dianggap/diterima sebagai ibadah apabila:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Diambil dari tuntunan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;   2. Dikerjakan dengan niat mengharap keridhoan Alloh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebutkannya ibadah sebelum isti’anah (minta tolong) demi mendahulukan hak Alloh atas hak hamba. Karena isti’anah itu sebenarnya termasuk ibadah, maka penyebutan isti’anah setelah ibadah dalam ayat ini merupakan penyebutan sesuatu yang lebih luas cakupannya sebelum sesuatu yang lebih sempit cakupannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa isti’anah disebutkan padahal isti’anah juga termasuk ibadah, jawabnya adalah: karena setiap hamba sangat membutuhkan pertolongan Alloh dalam melaksanakan seluruh ibadahnya. Jika seandainya Alloh tidak menolong dirinya niscaya dia tidak akan bisa mengerjakan perintah dan meninggalkan larangan (Taisir Karimirrahman, hal. 39).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shirathal Mustaqim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman Alloh ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اهدنا الصراط المستقيم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al Fatihah: 6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat ini mengandung penjelasan bahwa seorang hamba tidak memiliki jalan untuk meraih kebahagiaannya kecuali dengan istiqomah meniti shirathal mustaqim, dan tidak ada jalan menuju istiqomah di atas shirathal mustaqim kecuali dengan hidayah dari-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hakikat jalan yang lurus adalah: mengenali kebenaran dan mengamalkannya. Hidayah itu ada dua, hidayah ila shirath dan hidayah fii shirath. Hidayah ila shirath yaitu petunjuk menuju jalan yang lurus; tetap berpegang dengan agama Islam dan meninggalkan agama-agama selainnya. Sedangkan hidayah fii shirath adalah petunjuk untuk bisa melaksanakan berbagai rincian ajaran agama Islam dengan bentuk ilmu dan pengamalan (Taisir Karimirrahman, hal. 39).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam ayat ini juga terkandung bantahan bagi seluruh kalangan pembela kebid’ahan dan para pengibar bendera kesesatan, sebab setiap ahli bid’ah dan orang sesat adalah sosok yang menyimpang dari jalan yang lurus (lihat Taisir, hal. 40).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan Yang Dimurkai dan Sesat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman Alloh ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;غير المغضوب عليهم ولا الضالّين&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan jalannya orang-orang yang engkau murkai dan bukan pula jalannya orang-orang yang tersesat.” (QS. Al Fatihah: 6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat ini mengandung penjelasan dua sisi penyimpangan dari jalan yang lurus. Menyimpang ke sisi yang satu akan menjerumuskannya ke dalam kesesatan yaitu rusaknya ilmu dan keyakinan. Sedangkan menyimpang ke sisi yang lainnya akan menjerumuskannya ke dalam kemurkaan yang timbul karena rusaknya niat dan amalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang dimurkai adalah orang-orang yang mengetahui kebenaran tapi justru meninggalkannya, sebagaimana yang terjadi pada orang-orang Yahudi. Sedangkan orang-orang yang tersesat adalah orang-orang yang meninggalkan kebenaran karena kebodohan/tidak mau tahu seperti yang terjadi pada orang-orang Nasrani (Taisir Karimirrahman, hal. 39).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka bagian awal dari surat ini mengandung rahmat, bagian tengahnya mengandung hidayah dan bagian akhirnya mengandung nikmat. Jatah nikmat hakiki yang diperoleh hamba itu sesuai dengan kadar hidayah yang diterimanya. Begitu pula jatah hidayahnya sesuai dengan kadar rahmat yang dianugerahkan kepadanya, sehingga urusan ini akhirnya semua kembali berpusat pada nikmat dan kasih sayang-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan nikmat dan kasih sayang/rahmat merupakan salah satu bukti keberadaan sifat rububiyah Alloh, Dia tidak pernah lepas dari sifat penyayang dan pemberi nikmat, dan hal itu termasuk sebab yang mengharuskan penyembahan ditujukan kepada-Nya. Dialah sesembahan yang hak, walaupun orang-orang yang menentang bersikeras menentang-Nya dan orang-orang musyrik tetap bersikukuh dengan kesyirikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka barang siapa merealisasikan makna-makna yang terkandung dalam surat Al Fatihah, mengilmuinya, mengetahui dan mengamalkannya, serta turut menciptakan keadaan yang diinginkannya, sungguh dia telah meraih kejayaan terbesar dengan amalnya dan Ubudiyah/penghambaannya (kepada Alloh) menjadi Ubudiyah khaashshah (penghambaan khusus) yaitu tingkatannya orang-orang yang diangkat derajatnya oleh Alloh di antara kalangan orang-orang awam yang beribadah. Wallohul musta’aan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Petikan Faedah Surat Al Fatihah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disarikan dari:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Al-Fawaa’id, karya Al Imam Ibnul Qayyim rohimahulloh.&lt;br /&gt;   2. Taisir Karim ar-Rahman, karya Syaikh As Sa’di rohimahulloh.&lt;br /&gt;   3. Beserta tambahan keterangan ulama yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi&lt;br /&gt;Murojaah: Ustadz Abu Saad&lt;br /&gt;Artikel www.muslim.or.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5002548945243865869-1395664222677748241?l=readmoslem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://readmoslem.blogspot.com/feeds/1395664222677748241/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5002548945243865869&amp;postID=1395664222677748241&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/1395664222677748241'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/1395664222677748241'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://readmoslem.blogspot.com/2010/03/melejitkan-potensi-diri-meraih.html' title='Melejitkan Potensi Diri, Meraih Kesempurnaan'/><author><name>mencoba menjadi lebih baik...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05732610976505096819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_nHva8Y4lnmg/S1Sbw1CbB0I/AAAAAAAAABo/53TaZ0d4BVs/S220/moslem.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5002548945243865869.post-1757586494442028814</id><published>2010-03-03T01:19:00.000-08:00</published><updated>2010-03-03T01:21:45.485-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hati dan Akidah'/><title type='text'>Jangan Remehkan Amalan Sunah</title><content type='html'>Mungkin sebagian orang menganggap cukup dengan amalan-amalan wajib. Amalan sunnah yah kadang saja dilakukan, jika ada waktu, atau lagi "mut". Inilah anggapan sebagian orang awam. Namun sebenarnya jika kita meneliti apa yang diberitahukan oleh Allah dan Rasul-Nya, sungguh amalan sunnah memiliki keistimewaan yang luar biasa yang bisa mendukung sempurnanya amalan wajib yang kita lakukan.Silakan simak dalam artikel ringkas berikut ini mengenai keutamaan amalan sunnah.  Pertama: Menggapai wali Allah yang terdepan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang rajin mengamalkan amalan sunnah, maka ia akan menjadi wali Allah yang istimewa. Lalu apa yang dimaksud wali Allah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (62) الَّذِينَ آَمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ (63)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (QS. Yunus: 62-63)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَكُلُّ مَنْ كَانَ مُؤْمِنًا تَقِيًّا كَانَ لِلَّهِ وَلِيًّا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setiap orang mukmin (beriman) dan bertakwa, maka dialah wali Allah.”[1] Jadi wali Allah bukanlah orang yang memiliki ilmu sakti, bisa terbang, memakai tasbih dan surban. Namun yang dimaksud wali Allah sebagaimana yang disebutkan oleh Allah sendiri dalam surat Yunus di atas. “Syarat disebut wali Allah adalah beriman dan bertakwa”[2]. Jadi jika orang-orang yang disebut wali malah orang yang tidak shalat dan gemar maksiat, maka itu bukanlah wali. Kalau mau disebut wali, maka pantasnya dia disebut wali setan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diketahui bahwa wali Allah ada dua macam: [1] As Saabiquun Al Muqorrobun (wali Allah terdepan) dan [2] Al Abror Ash-habul yamin (wali Allah pertengahan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As saabiquun al muqorrobun adalah hamba Allah yang selalu mendekatkan diri pada Allah dengan amalan sunnah di samping melakukan yang wajib serta dia meninggalkan yang haram sekaligus yang makruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Abror ash-habul yamin adalah hamba Allah yang hanya mendekatkan diri pada Allah dengan amalan yang wajib dan meninggalkan yang haram, ia tidak membebani dirinya dengan amalan sunnah dan tidak menahan diri dari berlebihan dalam yang mubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka inilah yang disebutkan dalam firman Allah Ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِذَا وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ (1) لَيْسَ لِوَقْعَتِهَا كَاذِبَةٌ (2) خَافِضَةٌ رَافِعَةٌ (3) إِذَا رُجَّتِ الْأَرْضُ رَجًّا (4) وَبُسَّتِ الْجِبَالُ بَسًّا (5) فَكَانَتْ هَبَاءً مُنْبَثًّا (6) وَكُنْتُمْ أَزْوَاجًا ثَلَاثَةً (7) فَأَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ (8) وَأَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ (9) وَالسَّابِقُونَ السَّابِقُونَ (10) أُولَئِكَ الْمُقَرَّبُونَ (11) فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ (12) ثُلَّةٌ مِنَ الْأَوَّلِينَ (13) وَقَلِيلٌ مِنَ الْآَخِرِينَ (14)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apabila terjadi hari kiamat, tidak seorangpun dapat berdusta tentang kejadiannya. (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain), apabila bumi digoncangkan sedahsyat-dahsyatnya, dan gunung-gunung dihancur luluhkan seluluh-luluhnya, maka jadilah ia debu yang beterbangan, dan kamu menjadi tiga golongan. Yaitu golongan kanan. Alangkah mulianya golongan kanan itu. Dan golongan kiri. Alangkah sengsaranya golongan kiri itu. Dan orang-orang yang beriman paling dahulu. Mereka itulah yang didekatkan kepada Allah. Berada dalam jannah kenikmatan. Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu, dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian.” (QS. Al Waqi’ah: 1-14)[3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Melengkapi Kekurangan pada Amalan Wajib&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ النَّاسُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ أَعْمَالِهِمُ الصَّلاَةُ قَالَ يَقُولُ رَبُّنَا جَلَّ وَعَزَّ لِمَلاَئِكَتِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ انْظُرُوا فِى صَلاَةِ عَبْدِى أَتَمَّهَا أَمْ نَقَصَهَا فَإِنْ كَانَتْ تَامَّةً كُتِبَتْ لَهُ تَامَّةً وَإِنْ كَانَ انْتَقَصَ مِنْهَا شَيْئًا قَالَ انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِى مِنْ تَطَوُّعٍ فَإِنْ كَانَ لَهُ تَطَوُّعٌ قَالَ أَتِمُّوا لِعَبْدِى فَرِيضَتَهُ مِنْ تَطَوُّعِهِ ثُمَّ تُؤْخَذُ الأَعْمَالُ عَلَى ذَاكُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya amalan yang pertama kali dihisab pada manusia di hari kiamat nanti adalah shalat. Allah ‘azza wa jalla berkata kepada malaikat-Nya dan Dia-lah yang lebih tahu, “Lihatlah pada shalat hamba-Ku. Apakah shalatnya sempurna ataukah tidak? Jika shalatnya sempurna, maka akan dicatat baginya pahala yang sempurna. Namun jika dalam shalatnya ada sedikit kekurangan, maka Allah berfirman: Lihatlah, apakah hamba-Ku memiliki amalan sunnah. Jika hamba-Ku memiliki amalan sunnah, Allah berfirman: sempurnakanlah kekurangan yang  ada pada amalan wajib dengan amalan sunnahnya.” Kemudian amalan lainnya akan diperlakukan seperti ini.”[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini pertanda bahwa amalan sunnah (seperti puasa sunnah) bisa menyempurnakan kekurangan yang ada pada puasa wajib sebagaimana halnya shalat. Oleh karena itu, jika kita merasa ada kekurangan dalam amalan wajib, maka perbanyaklah amalan sunnah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga: Allah akan beri petunjuk pada pendengaran, penglihatan, kaki dan tangannya, serta doanya pun mustajab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِى وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِى بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allah Ta’ala berfirman: Barangsiapa memerangi wali (kekasih)-Ku, maka Aku akan memeranginya. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan wajib yang Kucintai. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangannya yang ia gunakan untuk memegang, memberi petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya.”[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang senantiasa melakukan amalan sunnah (mustahab) di samping melakukan amalan wajib, akan mendapatkan kecintaan Allah, lalu Allah akan memberi petunjuk pada pendengaran, penglihatan, tangan dan kakinya. Allah juga akan memberikan orang seperti ini keutamaan dengan mustajabnya do’a.[6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel http://rumaysho.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diselesaikan di wisma MTI, Pogung Kidul-Jogja, 9 Rabi'ul Awwal 1431 H&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Majmu’ Al Fatawa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 2/224, Darul Wafa’, cetakan ketiga, 1426 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Majmu’ Al Fatawa, 6/10.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Lihat Al furqon baina awliyair rohman wa awliyaisy syaithon, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 51, Maktabah Ar Rusyd, cetakan kedua, tahun 1424 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] HR. Abu Daud no. 864, Ibnu Majah no. 1426. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] HR. Bukhari no. 2506.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6] Faedah dari Fathul Qowil Matin, Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al Abad, hadits ke-38.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5002548945243865869-1757586494442028814?l=readmoslem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://readmoslem.blogspot.com/feeds/1757586494442028814/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5002548945243865869&amp;postID=1757586494442028814&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/1757586494442028814'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/1757586494442028814'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://readmoslem.blogspot.com/2010/03/jangan-remehkan-amalan-sunah.html' title='Jangan Remehkan Amalan Sunah'/><author><name>mencoba menjadi lebih baik...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05732610976505096819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_nHva8Y4lnmg/S1Sbw1CbB0I/AAAAAAAAABo/53TaZ0d4BVs/S220/moslem.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5002548945243865869.post-4808251063849278033</id><published>2010-03-01T16:46:00.001-08:00</published><updated>2010-03-03T01:21:45.486-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hati dan Akidah'/><title type='text'>Petuah Ulama, Pentingnya Menjaga Waktu</title><content type='html'>Petuah Ulama, Pentingnya Menjaga Waktu&lt;br /&gt;Sabtu, 27 Februari 2010 , Posted by mencoba menjadi lebih baik... at 16:39&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah nasehat berharga dari para ulama kita. Sungguh di zaman ini, kita akan melihat banyak orang yang menyia-nyiakan waktu dan umurnya dengan sia-sia. Kebanyakan kita saat ini hanya mengisi waktu dengan maksiat, lalai dari ketaatan dan ibadah, dan gemar melakukan hal yang sia-sia yang membuat lalai dari mengingat Allah. Padahal kehidupan di dunia ini adalah kehidupan yang sangat singkat, tetapi kebanyakan kita lalai memanfaatkan waktu yang telah Allah berikan. Pada tulisan kali ini, kami akan menyajikan perkataan-perkataan ulama terdahulu mengenai pentingnya menjaga waktu. Semoga dengan merenungkan nasehat para ulama berikut, kita dapat menjadi lebih baik dan tidak menjadi orang yang menyia-nyiakan waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah bahwa Engkau Seperti Hari-harimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasan Al Bashri mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ابن آدم إنما أنت أيام كلما ذهب يوم ذهب بعضك&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai manusia, sesungguhnya kalian hanyalah kumpulan hari. Tatkala satu hari itu hilang, maka akan hilang pula sebagian dirimu.”[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu Pasti akan Berlalu, Beramallah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ja’far bin Sulaiman berkata bahwa dia mendengar Robi’ah menasehati Sufyan Ats Tsauri,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إنما أنت أيام معدودة، فإذا ذهب يوم ذهب بعضك، ويوشك إذا ذهب البعض أن يذهب الكل وأنت تعلم، فاعمل.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya engkau adalah kumpulan hari. Jika satu hari berlalu, maka sebagian dirimu juga akan hilang. Bahkan hampir-hampir sebagian harimu berlalu, lalu hilanglah seluruh dirimu (baca: mati) sedangkan engkau mengetahuinya. Oleh karena itu, beramallah.”[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu Bagaikan Pedang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Asy Syafi’i rahimahullah pernah mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;صحبت الصوفية فلم أستفد منهم سوى حرفين أحدهما قولهم الوقت سيف فإن لم تقطعه قطعك&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku pernah bersama dengan orang-orang sufi. Aku tidaklah mendapatkan pelajaran darinya selain dua hal. Pertama, dia mengatakan bahwa waktu bagaikan pedang. Jika kamu tidak memotongnya (memanfaatkannya), maka dia akan memotongmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Tidak Tersibukkan dengan Kebaikan, Pasti akan Terjatuh pada Perkara yang Sia-sia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lanjutan dari perkataan Imam Asy Syafi’i di atas, “Kemudian orang sufi tersebut menyebutkan perkataan lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ونفسك إن أشغلتها بالحق وإلا اشتغلتك بالباطل&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dirimu tidak tersibukkan dengan hal-hal yang baik (haq), pasti akan tersibukkan dengan hal-hal yang sia-sia (batil).”[3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu Berlalu Begitu Cepatnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan, “Waktu manusia adalah umurnya yang sebenarnya. Waktu tersebut adalah waktu yang dimanfaatkan untuk mendapatkan kehidupan yang abadi, penuh kenikmatan dan terbebas dari kesempitan dan adzab yang pedih. Ketahuilah bahwa berlalunya waktu lebih cepat dari berjalannya awan (mendung).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangsiapa yang waktunya hanya untuk ketaatan dan beribadah pada Allah, maka itulah waktu dan umurnya yang sebenarnya. Selain itu tidak dinilai sebagai kehidupannya, namun hanya teranggap seperti kehidupan binatang ternak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kematian Lebih Layak Bagi Orang yang Menyia-nyiakan Waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Ibnul Qoyyim mengatakan perkataan selanjutnya yang sangat menyentuh qolbu, “Jika waktu hanya dihabiskan untuk hal-hal yang membuat lalai, untuk sekedar menghamburkan syahwat (hawa nafsu), berangan-angan yang batil, hanya dihabiskan dengan banyak tidur dan digunakan dalam kebatilan (baca: kesia-siaan), maka sungguh kematian lebih layak bagi dirinya.”[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janganlah Sia-siakan Waktumu Selain untuk Mengingat Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abdullah bin Abdil Malik, beliau berkata, “Kami suatu saat berjalan bersama ayah kami di atas tandunya. Lalu dia berkata pada kami, ‘Bertasbihlah sampai di pohon itu.’ Lalu kami pun bertasbih sampai di pohon yang dia tunjuk. Kemudian nampak lagi pohon lain, lalu dia berkata pada kami, ‘Bertakbirlah sampai di pohon itu.’ Lalu kami pun bertakbir. Inilah yang biasa diajarkan oleh ayah kami.”[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, mudahkanlah kami selaku hamba-Mu untuk memanfaatkan waktu ini dalam ketaatan dan dijauhkan dari kelalaian. Amin Yaa Mujibas Saailin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga apa yang kami sajikan ini bermanfaat bagi hati yang ingin terus disirami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diselesaikan di Pangukan, Sleman, 6 Muharram 1430 H (di pagi hari yang penuh berkah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Faqir Ilallah: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel http://rumaysho.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Hilyatul Awliya’, 2/148, Darul Kutub Al ‘Arobi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Shifatush Shofwah, 1/405, Asy Syamilah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Al Jawabul Kafi, 109, Darul Kutub Al ‘Ilmiyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] Al Jawabul Kafi, 109&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] Az Zuhud li Ahmad bin Hambal, 3/321, Asy Syamilah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5002548945243865869-4808251063849278033?l=readmoslem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://readmoslem.blogspot.com/feeds/4808251063849278033/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5002548945243865869&amp;postID=4808251063849278033&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/4808251063849278033'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/4808251063849278033'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://readmoslem.blogspot.com/2010/03/petuah-ulama-pentingnya-menjaga-waktu.html' title='Petuah Ulama, Pentingnya Menjaga Waktu'/><author><name>mencoba menjadi lebih baik...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05732610976505096819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_nHva8Y4lnmg/S1Sbw1CbB0I/AAAAAAAAABo/53TaZ0d4BVs/S220/moslem.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5002548945243865869.post-5190124417656798504</id><published>2010-02-26T16:44:00.000-08:00</published><updated>2010-03-03T01:20:54.893-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hati dan Akidah'/><title type='text'>Aku Selalu Lalai Dari 3 Nikmat Ini..</title><content type='html'>Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan bahwa nikmat itu ada 3 macam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, adalah nikmat yang nampak di mata hamba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, adalah nikmat yang diharapkan kehadirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, adalah nikmat yang tidak dirasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah nikmat yang sering kita lupakan. Kita mungkin hanya tahu berbagai nikmat yang ada di hadapan kita, semisal rumah yang mewah, motor yang bagus, dsb. Begitu juga kita senantiasa mengharapkan nikmat lainnya semacam berharap agar tetap istiqomah dalam agama ini, bahagia di masa mendatang, hidup berkecukupan nantinya, dsb. Namun, ada pula nikmat yang mungkin tidak kita rasakan, padahal itu juga nikmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Qoyyim menceritakan bahwa ada seorang Arab menemui Amirul Mukminin Ar Rosyid. Orang itu berkata, “Wahai Amirul Mukminin. Semoga Allah senantiasa memberikanmu nikmat dan mengokohkanmu untuk mensyukurinya. Semoga Allah juga memberikan nikmat yang engkau harap-harap dengan engkau berprasangka baik pada-Nya dan kontinu dalam melakukan ketaatan pada-Nya. Semoga Allah juga menampakkan nikmat yang ada padamu namun tidak engkau rasakan, semoga juga engkau mensyukurinya.” Ar Rosyid terkagum-kagum dengan ucapan orang ini. Lantas beliau berkata, “Sungguh bagus pembagian nikmat menurutmu tadi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga kita termasuk orang yang mensyukuri tiga macam nikmat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faedah dari Ibnul Qoyyim dari kitab beliau Al Fawa’id, hal. 165-166, Darul ‘Aqidah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disusun di pagi hari, 9 Dzulqo’dah 1429, di Panggang-Gunung Kidul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel http://rumaysho.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5002548945243865869-5190124417656798504?l=readmoslem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://readmoslem.blogspot.com/feeds/5190124417656798504/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5002548945243865869&amp;postID=5190124417656798504&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/5190124417656798504'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/5190124417656798504'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://readmoslem.blogspot.com/2010/02/aku-selalu-lalai-dari-3-nikmat-ini.html' title='Aku Selalu Lalai Dari 3 Nikmat Ini..'/><author><name>mencoba menjadi lebih baik...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05732610976505096819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_nHva8Y4lnmg/S1Sbw1CbB0I/AAAAAAAAABo/53TaZ0d4BVs/S220/moslem.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5002548945243865869.post-5776979169591271235</id><published>2010-02-25T02:25:00.000-08:00</published><updated>2010-02-25T02:26:08.841-08:00</updated><title type='text'>Menjadi Wali Allah Melalui Amalan Sunah</title><content type='html'>Faedah dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab beliau Al Furqon baina awliya ar rohman wa awliya asy syaithon:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang rajin mengamalkan amalan sunnah, maka ia akan menjadi wali Allah yang istimewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diketahui bahwa wali Allah ada dua macam: [1] As Saabiquun Al Muqorrobun (wali Allah terdepan) dan [2] Al Abror Ash-habul yamin (wali Allah pertengahan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As saabiquun al muqorrobun adalah hamba Allah yang selalu mendekatkan diri pada Allah dengan amalan sunnah di samping melakukan yang wajib serta dia meninggalkan yang haram sekaligus yang makruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Abror ash-habul yamin adalah hamba Allah yang hanya mendekatkan diri pada Allah dengan amalan yang wajib dan meninggalkan yang haram, ia tidak membebani dirinya dengan amalan sunnah dan tidak menahan diri dari berlebihan dalam yang mubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka inilah yang disebutkan dalam firman Allah Ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِذَا وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ (1) لَيْسَ لِوَقْعَتِهَا كَاذِبَةٌ (2) خَافِضَةٌ رَافِعَةٌ (3) إِذَا رُجَّتِ الْأَرْضُ رَجًّا (4) وَبُسَّتِ الْجِبَالُ بَسًّا (5) فَكَانَتْ هَبَاءً مُنْبَثًّا (6) وَكُنْتُمْ أَزْوَاجًا ثَلَاثَةً (7) فَأَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ (8) وَأَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ (9) وَالسَّابِقُونَ السَّابِقُونَ (10) أُولَئِكَ الْمُقَرَّبُونَ (11) فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ (12) ثُلَّةٌ مِنَ الْأَوَّلِينَ (13) وَقَلِيلٌ مِنَ الْآَخِرِينَ (14)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apabila terjadi hari kiamat, tidak seorangpun dapat berdusta tentang kejadiannya. (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain), apabila bumi digoncangkan sedahsyat-dahsyatnya, dan gunung-gunung dihancur luluhkan seluluh-luluhnya, maka jadilah ia debu yang beterbangan, dan kamu menjadi tiga golongan. Yaitu golongan kanan. Alangkah mulianya golongan kanan itu. Dan golongan kiri. Alangkah sengsaranya golongan kiri itu. Dan orang-orang yang beriman paling dahulu. Mereka itulah yang didekatkan kepada Allah. Berada dalam jannah kenikmatan. Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu, dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian.” (QS. Al Waqi’ah: 1-14)[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan kita selalu dimudahkan oleh Allah mendapatkan faedah ilmu setiap harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel http://rumaysho.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panggang, Gunung Kidul, 4 Rabi'ul Awwal 1431 H (18/02/2010)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Lihat Al furqon baina awliyair rohman wa awliyaisy syaithon, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 51, Maktabah Ar Rusyd, cetakan kedua, tahun 1424 H.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5002548945243865869-5776979169591271235?l=readmoslem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://readmoslem.blogspot.com/feeds/5776979169591271235/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5002548945243865869&amp;postID=5776979169591271235&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/5776979169591271235'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/5776979169591271235'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://readmoslem.blogspot.com/2010/02/menjadi-wali-allah-melalui-amalan-sunah.html' title='Menjadi Wali Allah Melalui Amalan Sunah'/><author><name>mencoba menjadi lebih baik...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05732610976505096819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_nHva8Y4lnmg/S1Sbw1CbB0I/AAAAAAAAABo/53TaZ0d4BVs/S220/moslem.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5002548945243865869.post-1082438733773218228</id><published>2010-02-22T21:41:00.001-08:00</published><updated>2010-02-22T21:43:19.528-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keajaiban Alqur&apos;an'/><title type='text'>Terbantahnya Teori Darwin 2</title><content type='html'>Makhluk yang dinamai Australopithecus oleh evolusionis sesungguhnya hanyalah jenis kera yang telah punah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Australopithecus berarti "kera daerah selatan". Seluruh spesies Australo- pithecus, yang dimasukkan ke dalam pengelompokan yang berbeda, sebenarnya hanyalah jenis kera punah yang menyerupai kera zaman sekarang. Ukuran tengkorak mereka adalah sama, atau lebih kecil dari simpanse yang kita temui sekarang. Terdapat bagian-bagian menonjol di bagian tangan dan kaki yang mereka gunakan untuk memanjat pohon, persis seperti simpanse masa kini, dan kaki mereka memiliki kemampuan untuk berpegangan pada dahan pohon. Banyak ciri lain seperti dekatnya jarak kedua mata, gigi geraham yang tajam, struktur rahang bawah, lengan yang panjang, kaki yang pendek, yang membuktikan makhluk ini tidaklah berbeda dari kera masa kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Evolusionis menyatakan, walaupun jenis Australopithecus memiliki anatomi kera, mereka berjalan tegak seperti manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua ahli anatomi terkenal tingkat dunia asal Inggris dan USA, Lord Solly Zuckerman dan Prof. Charles Oxnard, telah melakukan penelitian mendalam tentang berbagai spesimen Australopithecus. Penelitian mereka mengungkapkan makhluk ini bukanlah bipedal atau berjalan dengan dua kaki, dan memiliki cara berjalan yang serupa dengan kera zaman sekarang. Setelah meneliti tulang-tulang dari fosil tersebut selama 15 tahun, dengan bantuan dana dari pemerintah Inggris, Lord Zuckerman dan timnya yang beranggotakan 5 orang spesialis sampai pada kesimpulan - walaupun Zuckerman sendiri adalah evolusionis - bahwa Australopithecines hanyalah jenis kera biasa dan sama sekali bukan bipedal (berjalan diatas dua kaki).(*) Di samping itu, Oxnard, yang juga seorang evolusionis, juga menyerupakan struktur rangka Australopithecus dengan orang utan modern.(**)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis mendalam yang dilakukan oleh antropolog Amerika Holly Smith pada tahun 1994 tentang gigi-gigi Australopithecus menunjukkan bahwa Australopithecus adalah sejenis kera.(***)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,&lt;br /&gt;Catatan I: "SELAMAT TINGGAL LUCY!"&lt;br /&gt;Penemuan ilmiah membantah pernyataan evolusionis mengenai "Lucy", yakni spesimen paling terkenal dari spesies Australopithecus. Jurnal ilmu pengetahuan Perancis, Science et Vie edisi Februari 1999, mengakui fakta ini dengan judul utamanya "Selamat Tinggal Lucy" (Adieu Lucy) dan menyatakan bahwa Australopithecus tidak dapat dianggap sebagai nenek moyang manusia.&lt;br /&gt;Catatan II:AUSTRALOPITHECUS DAN SIMPANSE&lt;br /&gt;Tengkorak Australopithecus aferensis dan simpanse modern sangatlah mirip. Kesamaan ini memperkuat kebenaran bahwa makhluk yang digolongkan ke dalam kelompok Australopithecus adalah spesies kera dan tidak ada hubungannya dengan manusia.&lt;br /&gt;''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''&lt;br /&gt;Pada tahun yang sama, Fred Spoor, Bernard Wood dan Frans Zonneveld, seluruhnya ahli anatomi, mencapai kesimpulan yang sama melalui metoda yang sama sekali berbeda. Metoda ini berdasarkan pada analisis perbanding-an rongga semi-sirkular pada telinga bagian dalam manusia dan kera yang berfungsi menjaga keseimbangan. Rongga telinga bagian dalam dari semua spesimen Australopithecus yang diteliti oleh Spoor, Wood dan Zonneveld ternyata sama seperti yang terdapat pada kera modern.(****) Penemuan ini sekali lagi menunjukkan jenis Australopithecus adalah spesies yang menyerupai kera modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat postingan gambarnya disini --&gt; http://www.facebook.com/photo.php?pid=30849681&amp;op=1&amp;o=user&amp;view=user&amp;subj=114634760008&amp;aid=-1&amp;oid=114634760008&amp;id=1350983018&lt;br /&gt;(maaf link diatas tidak berfungsi pada pengguna Web Seluler)&lt;br /&gt;-----------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;*) Solly Zuckerman, Beyond The Ivory Tower, New York: Toplinger Publications, 1970, hal. 75-94.&lt;br /&gt;**) Charles E. Oxnard, "The Place of Australopithecines in Human Evolution: Grounds for Doubt", Nature, Vol 258, hal. 389&lt;br /&gt;***) Holly Smith, American Journal of Physical Antropology, Vol 94, 1994, hal. 307-325.&lt;br /&gt;****) Fred Spoor, Bernard Wood, Frans Zonneveld, "Implication of Early Hominid Labryntine Morphology for Evolution of Human Bipedal Locomotion", Nature, Vol 369, 23 June 1994, hal. 645-648.&lt;br /&gt;============================================&lt;br /&gt;Bagi anggota yang belum bergabung, silahkan lihat Postingan sebelelumnya pada Forum Diskusi Grup ini (The Creation "Harun Yahya Indonesia"). --&gt; http://www.facebook.com/group.php?v=app_2373072738&amp;gid=114634760008&lt;br /&gt;(maaf link diatas tidak berfungsi pada pengguna Web Seluler)&lt;br /&gt;----------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;www.harunyahya.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5002548945243865869-1082438733773218228?l=readmoslem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://readmoslem.blogspot.com/feeds/1082438733773218228/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5002548945243865869&amp;postID=1082438733773218228&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/1082438733773218228'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/1082438733773218228'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://readmoslem.blogspot.com/2010/02/terbantahnya-teori-darwin-2.html' title='Terbantahnya Teori Darwin 2'/><author><name>mencoba menjadi lebih baik...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05732610976505096819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_nHva8Y4lnmg/S1Sbw1CbB0I/AAAAAAAAABo/53TaZ0d4BVs/S220/moslem.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5002548945243865869.post-170710776731995087</id><published>2010-02-22T21:41:00.000-08:00</published><updated>2010-02-22T21:43:44.315-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keajaiban Alqur&apos;an'/><title type='text'>Terbantahnya Teori Darwin 2</title><content type='html'>Makhluk yang dinamai Australopithecus oleh evolusionis sesungguhnya hanyalah jenis kera yang telah punah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Australopithecus berarti "kera daerah selatan". Seluruh spesies Australo- pithecus, yang dimasukkan ke dalam pengelompokan yang berbeda, sebenarnya hanyalah jenis kera punah yang menyerupai kera zaman sekarang. Ukuran tengkorak mereka adalah sama, atau lebih kecil dari simpanse yang kita temui sekarang. Terdapat bagian-bagian menonjol di bagian tangan dan kaki yang mereka gunakan untuk memanjat pohon, persis seperti simpanse masa kini, dan kaki mereka memiliki kemampuan untuk berpegangan pada dahan pohon. Banyak ciri lain seperti dekatnya jarak kedua mata, gigi geraham yang tajam, struktur rahang bawah, lengan yang panjang, kaki yang pendek, yang membuktikan makhluk ini tidaklah berbeda dari kera masa kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Evolusionis menyatakan, walaupun jenis Australopithecus memiliki anatomi kera, mereka berjalan tegak seperti manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua ahli anatomi terkenal tingkat dunia asal Inggris dan USA, Lord Solly Zuckerman dan Prof. Charles Oxnard, telah melakukan penelitian mendalam tentang berbagai spesimen Australopithecus. Penelitian mereka mengungkapkan makhluk ini bukanlah bipedal atau berjalan dengan dua kaki, dan memiliki cara berjalan yang serupa dengan kera zaman sekarang. Setelah meneliti tulang-tulang dari fosil tersebut selama 15 tahun, dengan bantuan dana dari pemerintah Inggris, Lord Zuckerman dan timnya yang beranggotakan 5 orang spesialis sampai pada kesimpulan - walaupun Zuckerman sendiri adalah evolusionis - bahwa Australopithecines hanyalah jenis kera biasa dan sama sekali bukan bipedal (berjalan diatas dua kaki).(*) Di samping itu, Oxnard, yang juga seorang evolusionis, juga menyerupakan struktur rangka Australopithecus dengan orang utan modern.(**)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis mendalam yang dilakukan oleh antropolog Amerika Holly Smith pada tahun 1994 tentang gigi-gigi Australopithecus menunjukkan bahwa Australopithecus adalah sejenis kera.(***)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,&lt;br /&gt;Catatan I: "SELAMAT TINGGAL LUCY!"&lt;br /&gt;Penemuan ilmiah membantah pernyataan evolusionis mengenai "Lucy", yakni spesimen paling terkenal dari spesies Australopithecus. Jurnal ilmu pengetahuan Perancis, Science et Vie edisi Februari 1999, mengakui fakta ini dengan judul utamanya "Selamat Tinggal Lucy" (Adieu Lucy) dan menyatakan bahwa Australopithecus tidak dapat dianggap sebagai nenek moyang manusia.&lt;br /&gt;Catatan II:AUSTRALOPITHECUS DAN SIMPANSE&lt;br /&gt;Tengkorak Australopithecus aferensis dan simpanse modern sangatlah mirip. Kesamaan ini memperkuat kebenaran bahwa makhluk yang digolongkan ke dalam kelompok Australopithecus adalah spesies kera dan tidak ada hubungannya dengan manusia.&lt;br /&gt;''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''&lt;br /&gt;Pada tahun yang sama, Fred Spoor, Bernard Wood dan Frans Zonneveld, seluruhnya ahli anatomi, mencapai kesimpulan yang sama melalui metoda yang sama sekali berbeda. Metoda ini berdasarkan pada analisis perbanding-an rongga semi-sirkular pada telinga bagian dalam manusia dan kera yang berfungsi menjaga keseimbangan. Rongga telinga bagian dalam dari semua spesimen Australopithecus yang diteliti oleh Spoor, Wood dan Zonneveld ternyata sama seperti yang terdapat pada kera modern.(****) Penemuan ini sekali lagi menunjukkan jenis Australopithecus adalah spesies yang menyerupai kera modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat postingan gambarnya disini --&gt; http://www.facebook.com/photo.php?pid=30849681&amp;op=1&amp;o=user&amp;view=user&amp;subj=114634760008&amp;aid=-1&amp;oid=114634760008&amp;id=1350983018&lt;br /&gt;(maaf link diatas tidak berfungsi pada pengguna Web Seluler)&lt;br /&gt;-----------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;*) Solly Zuckerman, Beyond The Ivory Tower, New York: Toplinger Publications, 1970, hal. 75-94.&lt;br /&gt;**) Charles E. Oxnard, "The Place of Australopithecines in Human Evolution: Grounds for Doubt", Nature, Vol 258, hal. 389&lt;br /&gt;***) Holly Smith, American Journal of Physical Antropology, Vol 94, 1994, hal. 307-325.&lt;br /&gt;****) Fred Spoor, Bernard Wood, Frans Zonneveld, "Implication of Early Hominid Labryntine Morphology for Evolution of Human Bipedal Locomotion", Nature, Vol 369, 23 June 1994, hal. 645-648.&lt;br /&gt;============================================&lt;br /&gt;Bagi anggota yang belum bergabung, silahkan lihat Postingan sebelelumnya pada Forum Diskusi Grup ini (The Creation "Harun Yahya Indonesia"). --&gt; http://www.facebook.com/group.php?v=app_2373072738&amp;gid=114634760008&lt;br /&gt;(maaf link diatas tidak berfungsi pada pengguna Web Seluler)&lt;br /&gt;----------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;www.harunyahya.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5002548945243865869-170710776731995087?l=readmoslem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://readmoslem.blogspot.com/feeds/170710776731995087/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5002548945243865869&amp;postID=170710776731995087&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/170710776731995087'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/170710776731995087'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://readmoslem.blogspot.com/2010/02/terbantahnya-teori-darwin-2_22.html' title='Terbantahnya Teori Darwin 2'/><author><name>mencoba menjadi lebih baik...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05732610976505096819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_nHva8Y4lnmg/S1Sbw1CbB0I/AAAAAAAAABo/53TaZ0d4BVs/S220/moslem.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5002548945243865869.post-8147280649704148753</id><published>2010-02-22T21:40:00.001-08:00</published><updated>2010-02-22T21:43:19.529-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keajaiban Alqur&apos;an'/><title type='text'>Terbantahnya Teori Darwin</title><content type='html'>Homo erectus, yang dikemukakan sebagai "manusia primitif" oleh kalangan evolusionis, sebenarnya adalah ras manusia yang telah hilang. Perbedaan antara Homo erectus dan kita hanyalah perbedaan ras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam skema "evolusi manusia" yang dirancang oleh para evolusionis, fosil-fosil yang digolongkan sebagai Homo erectus ditempatkan setelah Australopithecus. (Pada beberapa tahun terakhir, kelompok "Homo habilis" yang diusulkan oleh beberapa evolusionis tertentu, telah dimasukkan ke dalam jenis Australopithecus)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''&lt;br /&gt;-Catatan I:Tengkorak berusia 13.000 tahun ditemukan di Rawa Kow, Australia, dan memiliki ciri manusia modern dan Homo erectus.&lt;br /&gt;-Catatan II:Tengkorak Homo erectus ditemukan di Koobi Fora, Afrika pada tahun 1975.&lt;br /&gt;''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana makna yang terkandung dalam kata "erect", "Homo erectus" berarti "manusia yang berjalan tegak". Evolusionis harus memisahkan mereka dari kelompok sebelumnya dengan menambahkan tingkat "ketegakan", karena semua fosil Homo erectus yang ada memiliki tingkat ketegakan yang tidak dijumpai pada spesimen Australopithecus atau Homo habilis. Tidak terdapat perbedaan antara rangka manusia modern dengan Homo erectus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukti penting mengenai hal ini adalah fosil "Anak lelaki Turkana" yang dimasukkan ke dalam kelas Homo erectus. Telah terbukti bahwa fosil ini merupakan kerangka dari anak lelaki berumur 12 tahun, yang ketika dewasa dapat mencapai 1,83 meter. Struktur rangka fosil yang tegak ini tidaklah berbeda dari manusia modern. Tentang hal ini, seorang ahli paleoantropologi Amerika, Alan Walker, mengatakan ia meragukan jika "ahli patologi pada umumnya dapat mengetahui perbedaan antara rangka fosil ini dan rangka manusia modern."(*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''&lt;br /&gt;-Catatan:ANAK LAKI-LAKI TURKANA&lt;br /&gt;"Tinggi dan Modern". Begitulah komentar Richard Leakey terhadap fosil yang berusia 2,2 juta tahun. Hampir sama sekali tidak dijumpai perbedaan antara fosil yang diklasifikasikan sebagai Homo erectus ini dengan kerangka manusia modern&lt;br /&gt;''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan utama bagi para evolusionis untuk mengatakan Homo erectus sebagai "primitif" adalah ukuran rongga otak pada tengkoraknya (900-1100 cc), yang berukuran lebih kecil dari milik manusia modern, dan tonjolan alis matanya yang tebal. Namun, terdapat banyak orang di zaman sekarang yang masih hidup di dunia ini yang memiliki volume otak sebesar Homo erectus (misalnya bangsa pigmi) dan terdapat pula sejumlah bangsa yang memiliki alis mata yang menonjol (misalnya bangsa Aborigin dari Australia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah fakta yang sudah dimaklumi bahwa perbedaan volume otak tidaklah selalu menunjukkan perbedaan tingkat kecerdasan atau keterampilan. Kecerdasan lebih bergantung pada pengaturan internal otak dan bukan volumenya.(**)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''&lt;br /&gt;Catatan:HOMO ERECTUS MODERN&lt;br /&gt;Dalam edisi 23 Desember 1996, majalah Time mengulas berita tentang Homo erectus berusia 27.000 tahun yang ditemukan di Pulau Jawa. Fakta bahwa Homo erectus masih hidup hingga periode yang tidak jauh dari zaman kita adalah bukti bahwa makhluk ini bukanlah spesies berbeda tersendiri, melainkan ras manusia modern.&lt;br /&gt;'''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan seorang evolusionis, Richard Leakey, menyatakan perbedaan antara Homo erectus dan manusia modern tidaklah lebih dari perbedaan ras:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Seseorang juga akan melihat adanya perbedaan-perbedaan pada bentuk tengkorak, besarnya tonjolan di bagian muka, ketebalan alis mata dan seterusnya. Perbedaan-perbedaan ini mungkin tak lebih dari perbedaan di antara ras-ras manusia modern yang terpisahkan secara geografis, sebagaimana yang kita saksikan sekarang."(***)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''&lt;br /&gt;Catatan:HOMO ERECTUS, SANG INSINYUR TEKNIK KELAUTAN&lt;br /&gt;Berita yang dimuat di majalah New Scientist pada tanggal 14 Maret 1998, menyatakan bahwa manusia yang oleh evolusionis dikatakan sebagai Homo erectus telah mempraktekkan ilmu pelayaran 700.000 tahun yang lalu. Manusia ini, yang telah memiliki pengetahuan dan teknologi yang cukup untuk membuat kapal dan memiliki kebudayaan yang mampu mendayagunakan sarana perhubungan laut, sulit untuk dapat dikatakan sebagai bangsa terbelakang.&lt;br /&gt;'''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendek kata, manusia yang dikelompokkan oleh para evolusionis ke dalam Homo erectus, ternyata merupakan ras manusia yang telah hilang dan memiliki tingkat kecerdasan yang tidak berbeda dengan kita. Sebaliknya, terdapat perbedaan sangat besar antara Homo erectus, ras manusia dan kera yang berada di awal skenario "evolusi manusia" (Australopithecus, atau Homo habilis). Ini berarti manusia pertama muncul dalam catatan fosil secara tiba-tiba dan secara langsung tanpa sejarah evolusi apa pun. Hal ini merupakan petunjuk paling jelas bahwa makhluk-makhluk ini telah diciptakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''&lt;br /&gt;-Catatan I:PENDUDUK PRIBUMI AUSTRALIA&lt;br /&gt;Aborigin, penduduk pribumi Australia yang masih hidup hingga sekarang, memiliki banyak persamaan dengan Homo erectus dalam penampakan tengkoraknya.&lt;br /&gt;-Catatan II:Penemuan fosil dari Homo erectus menunjukkannya termasuk dalam klasifikasi ras manusia.&lt;br /&gt;'''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''''&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;(*) Boyce Rensberger, The Washington Post, 19 November 1984&lt;br /&gt;(**) Marvin Lubenow, Bones of Contention, Grand Rapids, Baker, 1992, hal. 83&lt;br /&gt;(***) Richard Leakey, The Making of Mankind, London: Sphere Books, 1981, hal. 62&lt;br /&gt;----------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;----------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;&gt;&gt; Semua catatan di atas mempunyai gambar khusus, Lihat postingan gambarnya disini --&gt; http://www.facebook.com/photo.php?pid=30862436&amp;o=all&amp;op=1&amp;view=all&amp;subj=114634760008&amp;aid=-1&amp;id=1350983018&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi anggota yang baru bergabung, silahkan lihat Postingan sebelelumnya pada Forum Diskusi Grup ini (The Creation "Harun Yahya Indonesia"). --&gt; http://www.facebook.com/group.php?v=app_2373072738&amp;gid=114634760008&lt;br /&gt;(maaf link2 diatas tidak berfungsi pada pengguna Web Seluler)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf kpd anggota2 Grup ini yg pernah kirim Pesan kpd Admin grup ini tentang keterlambatan postingan, harap dimaklumi karna tidak adax kesempatan dan hanya sebagian Pesan2 anggota yg sempat terbalas.&lt;br /&gt;Dan maaf juga kepada Anggota2 yang merasa terganggu ttg padatx pesan2 dari Grup ini.&lt;br /&gt;----------------------------------------------------------------------------------------&lt;br /&gt;www.harunyahya.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5002548945243865869-8147280649704148753?l=readmoslem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://readmoslem.blogspot.com/feeds/8147280649704148753/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5002548945243865869&amp;postID=8147280649704148753&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/8147280649704148753'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/8147280649704148753'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://readmoslem.blogspot.com/2010/02/terbantahnya-teori-darwin.html' title='Terbantahnya Teori Darwin'/><author><name>mencoba menjadi lebih baik...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05732610976505096819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_nHva8Y4lnmg/S1Sbw1CbB0I/AAAAAAAAABo/53TaZ0d4BVs/S220/moslem.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5002548945243865869.post-197529764140234578</id><published>2010-02-22T21:37:00.001-08:00</published><updated>2010-02-22T21:43:19.529-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keajaiban Alqur&apos;an'/><title type='text'>Gunung</title><content type='html'>Al Qur’an mengarahkan perhatian kita pada fungsi geologis penting dari gunung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka..." (Al Qur'an, 21:31)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana terlihat, dinyatakan dalam ayat tersebut bahwa gunung-gunung berfungsi mencegah goncangan di permukaan bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan ini tidaklah diketahui oleh siapapun di masa ketika Al Qur’an diturunkan. Nyatanya, hal ini baru saja terungkap sebagai hasil penemuan geologi modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut penemuan ini, gunung-gunung muncul sebagai hasil pergerakan dan tumbukan dari lempengan-lempengan raksasa yang membentuk kerak bumi. Ketika dua lempengan bertumbukan, lempengan yang lebih kuat menyelip di bawah lempengan yang satunya, sementara yang di atas melipat dan membentuk dataran tinggi dan gunung. Lapisan bawah bergerak di bawah permukaan dan membentuk perpanjangan yang dalam ke bawah. Ini berarti gunung mempunyai bagian yang menghujam jauh ke bawah yang tak kalah besarnya dengan yang tampak di permukaan bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tulisan ilmiah, struktur gunung digambarkan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian benua yang lebih tebal, seperti pada jajaran pegunungan, kerak bumi akan terbenam lebih dalam ke dalam lapisan magma. (General Science, Carolyn Sheets, Robert Gardner, Samuel F. Howe; Allyn and Bacon Inc. Newton, Massachusetts, 1985, s. 305)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah ayat, peran gunung seperti ini diungkapkan melalui sebuah perumpamaan sebagai "pasak":&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?, dan gunung-gunung sebagai pasak?" (Al Qur'an, 78:6-7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain, gunung-gunung menggenggam lempengan-lempengan kerak bumi dengan memanjang ke atas dan ke bawah permukaan bumi pada titik-titik pertemuan lempengan-lempengan ini. Dengan cara ini, mereka memancangkan kerak bumi dan mencegahnya dari terombang-ambing di atas lapisan magma atau di antara lempengan-lempengannya. Singkatnya, kita dapat menyamakan gunung dengan paku yang menjadikan lembaran-lembaran kayu tetap menyatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi pemancangan dari gunung dijelaskan dalam tulisan ilmiah dengan istilah "isostasi". Isostasi bermakna sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isostasi: kesetimbangan dalam kerak bumi yang terjaga oleh aliran materi bebatuan di bawah permukaan akibat tekanan gravitasi. (Webster's New Twentieth Century Dictionary, 2. edition "Isostasy", New York, s. 975)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran penting gunung yang ditemukan oleh ilmu geologi modern dan penelitian gempa, telah dinyatakan dalam Al Qur’an berabad-abad lampau sebagai suatu bukti Hikmah Maha Agung dalam ciptaan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka..." (Al Qur'an, 21:31)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------&lt;br /&gt;Sumber "The Miracles of The Quran" Karya Harun Yahya Hal: 19-20&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5002548945243865869-197529764140234578?l=readmoslem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://readmoslem.blogspot.com/feeds/197529764140234578/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5002548945243865869&amp;postID=197529764140234578&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/197529764140234578'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/197529764140234578'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://readmoslem.blogspot.com/2010/02/gunung.html' title='Gunung'/><author><name>mencoba menjadi lebih baik...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05732610976505096819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_nHva8Y4lnmg/S1Sbw1CbB0I/AAAAAAAAABo/53TaZ0d4BVs/S220/moslem.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5002548945243865869.post-8868304575663366549</id><published>2010-02-22T21:36:00.003-08:00</published><updated>2010-02-22T21:43:19.529-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keajaiban Alqur&apos;an'/><title type='text'>Mengembangnya Alam Semesta</title><content type='html'>Dalam Al Qur'an, yang diturunkan 14 abad silam di saat ilmu astronomi masih terbelakang, mengembangnya alam semesta digambarkan sebagaimana berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya." (Al Qur'an, 51:47)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata "langit", sebagaimana dinyatakan dalam ayat ini, digunakan di banyak tempat dalam Al Qur'an dengan makna luar angkasa dan alam semesta. Di sini sekali lagi, kata tersebut digunakan dengan arti ini. Dengan kata lain, dalam Al Qur'an dikatakan bahwa alam semesta "mengalami perluasan atau mengembang". Dan inilah yang kesimpulan yang dicapai ilmu pengetahuan masa kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga awal abad ke-20, satu-satunya pandangan yang umumnya diyakini di dunia ilmu pengetahuan adalah bahwa alam semesta bersifat tetap dan telah ada sejak dahulu kala tanpa permulaan. Namun, penelitian, pengamatan, dan perhitungan yang dilakukan dengan teknologi modern, mengungkapkan bahwa alam semesta sesungguhnya memiliki permulaan, dan ia terus-menerus "mengembang".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awal abad ke-20, fisikawan Rusia, Alexander Friedmann, dan ahli kosmologi Belgia, George Lemaitre, secara teoritis menghitung dan menemukan bahwa alam semesta senantiasa bergerak dan mengembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta ini dibuktikan juga dengan menggunakan data pengamatan pada tahun 1929. Ketika mengamati langit dengan teleskop, Edwin Hubble, seorang astronom Amerika, menemukan bahwa bintang-bintang dan galaksi terus bergerak saling menjauhi. Sebuah alam semesta, di mana segala sesuatunya terus bergerak menjauhi satu sama lain, berarti bahwa alam semesta tersebut terus-menerus "mengembang". Pengamatan yang dilakukan di tahun-tahun berikutnya memperkokoh fakta bahwa alam semesta terus mengembang. Kenyataan ini diterangkan dalam Al Qur'an pada saat tak seorang pun mengetahuinya. Ini dikarenakan Al Qur'an adalah firman Allah, Sang Pencipta, dan Pengatur keseluruhan alam semesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak terjadinya peristiwa Big Bang, alam semesta telah mengembang secara terus-menerus dengan kecepatan maha dahsyat. Para ilmuwan menyamakan peristiwa mengembangnya alam semesta dengan permukaan balon yang sedang ditiup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------&lt;br /&gt;sumber "The Miracles of The Quran" Karya Harun Yahya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5002548945243865869-8868304575663366549?l=readmoslem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://readmoslem.blogspot.com/feeds/8868304575663366549/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5002548945243865869&amp;postID=8868304575663366549&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/8868304575663366549'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/8868304575663366549'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://readmoslem.blogspot.com/2010/02/mengembangnya-alam-semesta.html' title='Mengembangnya Alam Semesta'/><author><name>mencoba menjadi lebih baik...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05732610976505096819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_nHva8Y4lnmg/S1Sbw1CbB0I/AAAAAAAAABo/53TaZ0d4BVs/S220/moslem.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5002548945243865869.post-4754239328808436801</id><published>2010-02-22T21:36:00.001-08:00</published><updated>2010-02-22T21:44:08.652-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keajaiban Alqur&apos;an'/><title type='text'>Mengembangnya Alam Semesta</title><content type='html'>Dalam Al Qur'an, yang diturunkan 14 abad silam di saat ilmu astronomi masih terbelakang, mengembangnya alam semesta digambarkan sebagaimana berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya." (Al Qur'an, 51:47)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata "langit", sebagaimana dinyatakan dalam ayat ini, digunakan di banyak tempat dalam Al Qur'an dengan makna luar angkasa dan alam semesta. Di sini sekali lagi, kata tersebut digunakan dengan arti ini. Dengan kata lain, dalam Al Qur'an dikatakan bahwa alam semesta "mengalami perluasan atau mengembang". Dan inilah yang kesimpulan yang dicapai ilmu pengetahuan masa kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga awal abad ke-20, satu-satunya pandangan yang umumnya diyakini di dunia ilmu pengetahuan adalah bahwa alam semesta bersifat tetap dan telah ada sejak dahulu kala tanpa permulaan. Namun, penelitian, pengamatan, dan perhitungan yang dilakukan dengan teknologi modern, mengungkapkan bahwa alam semesta sesungguhnya memiliki permulaan, dan ia terus-menerus "mengembang".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awal abad ke-20, fisikawan Rusia, Alexander Friedmann, dan ahli kosmologi Belgia, George Lemaitre, secara teoritis menghitung dan menemukan bahwa alam semesta senantiasa bergerak dan mengembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta ini dibuktikan juga dengan menggunakan data pengamatan pada tahun 1929. Ketika mengamati langit dengan teleskop, Edwin Hubble, seorang astronom Amerika, menemukan bahwa bintang-bintang dan galaksi terus bergerak saling menjauhi. Sebuah alam semesta, di mana segala sesuatunya terus bergerak menjauhi satu sama lain, berarti bahwa alam semesta tersebut terus-menerus "mengembang". Pengamatan yang dilakukan di tahun-tahun berikutnya memperkokoh fakta bahwa alam semesta terus mengembang. Kenyataan ini diterangkan dalam Al Qur'an pada saat tak seorang pun mengetahuinya. Ini dikarenakan Al Qur'an adalah firman Allah, Sang Pencipta, dan Pengatur keseluruhan alam semesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak terjadinya peristiwa Big Bang, alam semesta telah mengembang secara terus-menerus dengan kecepatan maha dahsyat. Para ilmuwan menyamakan peristiwa mengembangnya alam semesta dengan permukaan balon yang sedang ditiup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------&lt;br /&gt;sumber "The Miracles of The Quran" Karya Harun Yahya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5002548945243865869-4754239328808436801?l=readmoslem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://readmoslem.blogspot.com/feeds/4754239328808436801/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5002548945243865869&amp;postID=4754239328808436801&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/4754239328808436801'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/4754239328808436801'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://readmoslem.blogspot.com/2010/02/mengembangnya-alam-semesta_22.html' title='Mengembangnya Alam Semesta'/><author><name>mencoba menjadi lebih baik...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05732610976505096819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_nHva8Y4lnmg/S1Sbw1CbB0I/AAAAAAAAABo/53TaZ0d4BVs/S220/moslem.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5002548945243865869.post-6007866402123935535</id><published>2010-02-22T21:33:00.002-08:00</published><updated>2010-02-22T21:43:19.530-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keajaiban Alqur&apos;an'/><title type='text'>Keajaiban Penciptaan Besi</title><content type='html'>Besi adalah salah satu unsur yang dinyatakan secara jelas dalam Al Qur'an. Dalam Surat Al Hadiid, yang berarti "besi", kita diberitahu sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"…Dan Kami turunkan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia ...." (Al Qur'an, 57:25)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata "anzalnaa" yang berarti "kami turunkan" khusus digunakan untuk besi dalam ayat ini, dapat diartikan secara kiasan untuk menjelaskan bahwa besi diciptakan untuk memberi manfaat bagi manusia. Tapi ketika kita mempertimbangkan makna harfiah kata ini, yakni "secara bendawi diturunkan dari langit", kita akan menyadari bahwa ayat ini memiliki keajaiban ilmiah yang sangat penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini dikarenakan penemuan astronomi modern telah mengungkap bahwa logam besi yang ditemukan di bumi kita berasal dari bintang-bintang raksasa di angkasa luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Logam berat di alam semesta dibuat dan dihasilkan dalam inti bintang-bintang raksasa. Akan tetapi sistem tata surya kita tidak memiliki struktur yang cocok untuk menghasilkan besi secara mandiri. Besi hanya dapat dibuat dan dihasilkan dalam bintang-bintang yang jauh lebih besar dari matahari, yang suhunya mencapai beberapa ratus juta derajat. Ketika jumlah besi telah melampaui batas tertentu dalam sebuah bintang, bintang tersebut tidak mampu lagi menanggungnya, dan akhirnya meledak melalui peristiwa yang disebut "nova" atau "supernova". Akibat dari ledakan ini, meteor-meteor yang mengandung besi bertaburan di seluruh penjuru alam semesta dan mereka bergerak melalui ruang hampa hingga mengalami tarikan oleh gaya gravitasi benda angkasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua ini menunjukkan bahwa logam besi tidak terbentuk di bumi melainkan kiriman dari bintang-bintang yang meledak di ruang angkasa melalui meteor-meteor dan "diturunkan ke bumi", persis seperti dinyatakan dalam ayat tersebut: Jelaslah bahwa fakta ini tidak dapat diketahui secara ilmiah pada abad ke-7 ketika Al Qur'an diturunkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------&lt;br /&gt;dikutip dari buku "The Miracles of The Quran" Karya Harun Yahya Hal: 14-15&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5002548945243865869-6007866402123935535?l=readmoslem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://readmoslem.blogspot.com/feeds/6007866402123935535/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5002548945243865869&amp;postID=6007866402123935535&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/6007866402123935535'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/6007866402123935535'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://readmoslem.blogspot.com/2010/02/keajaiban-penciptaan-besi.html' title='Keajaiban Penciptaan Besi'/><author><name>mencoba menjadi lebih baik...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05732610976505096819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_nHva8Y4lnmg/S1Sbw1CbB0I/AAAAAAAAABo/53TaZ0d4BVs/S220/moslem.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5002548945243865869.post-3923117694648175429</id><published>2010-02-22T21:33:00.001-08:00</published><updated>2010-02-22T21:43:19.531-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keajaiban Alqur&apos;an'/><title type='text'>3 Kegelapan Dalam Rahim</title><content type='html'>Dalam Al Qur'an dipaparkan bahwa manusia diciptakan melalui tiga tahapan dalam rahim ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"... Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan yang mempunyai kerajaan. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?" (Al Qur'an, 39:6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana yang akan dipahami, dalam ayat ini ditunjukkan bahwa seorang manusia diciptakan dalam tubuh ibunya dalam tiga tahapan yang berbeda. Sungguh, biologi modern telah mengungkap bahwa pembentukan embrio pada bayi terjadi dalam tiga tempat yang berbeda dalam rahim ibu. Sekarang, di semua buku pelajaran embriologi yang dipakai di berbagai fakultas kedokteran, hal ini dijadikan sebagai pengetahuan dasar. Misalnya, dalam buku Basic Human Embryology, sebuah buku referensi utama dalam bidang embriologi, fakta ini diuraikan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kehidupan dalam rahim memiliki tiga tahapan: pre-embrionik; dua setengah minggu pertama, embrionik; sampai akhir minggu ke delapan, dan janin; dari minggu ke delapan sampai kelahiran." (Williams P., Basic Human Embryology, 3. edition, 1984, s. 64.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------&lt;br /&gt;Dalam ayat ke-6 surat Az Zumar, disebutkan bahwa manusia diciptakan dalam rahim ibu dalam tiga kegelapan. Embriologi modern telah mengungkap bahwa perkembangan ebriologi bayi terjadi pada tiga daerah yang berbeda dalam rahim ibu.&lt;br /&gt;-----------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fase-fase ini mengacu pada tahap-tahap yang berbeda dari perkembangan seorang bayi. Ringkasnya, ciri-ciri tahap perkembangan bayi dalam rahim adalah sebagaimana berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Tahap Pre-embrionik&lt;br /&gt;Pada tahap pertama, zigot tumbuh membesar melalui pembelahan sel, dan terbentuklah segumpalan sel yang kemudian membenamkan diri pada dinding rahim. Seiring pertumbuhan zigot yang semakin membesar, sel-sel penyusunnya pun mengatur diri mereka sendiri guna membentuk tiga lapisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tahap Embrionik&lt;br /&gt;Tahap kedua ini berlangsung selama lima setengah minggu. Pada masa ini bayi disebut sebagai "embrio". Pada tahap ini, organ dan sistem tubuh bayi mulai terbentuk dari lapisan- lapisan sel tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Tahap fetus&lt;br /&gt;Dimulai dari tahap ini dan seterusnya, bayi disebut sebagai "fetus". Tahap ini dimulai sejak kehamilan bulan kedelapan dan berakhir hingga masa kelahiran. Ciri khusus tahapan ini adalah terlihatnya fetus menyerupai manusia, dengan wajah, kedua tangan dan kakinya. Meskipun pada awalnya memiliki panjang 3 cm, kesemua organnya telah nampak. Tahap ini berlangsung selama kurang lebih 30 minggu, dan perkembangan berlanjut hingga minggu kelahiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi mengenai perkembangan yang terjadi dalam rahim ibu, baru didapatkan setelah serangkaian pengamatan dengan menggunakan peralatan modern. Namun sebagaimana sejumlah fakta ilmiah lainnya, informasi-informasi ini disampaikan dalam ayat-ayat Al Qur'an dengan cara yang ajaib. Fakta bahwa informasi yang sedemikian rinci dan akurat diberikan dalam Al Qur'an pada saat orang memiliki sedikit sekali informasi di bidang kedokteran, merupakan bukti nyata bahwa Al Qur'an bukanlah ucapan manusia tetapi Firman Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dikutip dari buku "The Miracles of The Quran" Karya Harun Yahya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5002548945243865869-3923117694648175429?l=readmoslem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://readmoslem.blogspot.com/feeds/3923117694648175429/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5002548945243865869&amp;postID=3923117694648175429&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/3923117694648175429'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/3923117694648175429'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://readmoslem.blogspot.com/2010/02/3-kegelapan-dalam-rahim.html' title='3 Kegelapan Dalam Rahim'/><author><name>mencoba menjadi lebih baik...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05732610976505096819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_nHva8Y4lnmg/S1Sbw1CbB0I/AAAAAAAAABo/53TaZ0d4BVs/S220/moslem.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5002548945243865869.post-1962771171817941505</id><published>2010-02-22T01:50:00.001-08:00</published><updated>2010-02-22T21:51:21.650-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puasa'/><title type='text'>Ganjaran Bagi Yang Gemar Berpuasa</title><content type='html'>Tidakkah engkau tahu pahala yang melimpah di balik amalan puasa sunnah. Semoga dengan mengetahui hal ini membuat kita semakin kiat melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.”” (HR. Muslim no. 1151)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat lain dikatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قَالَ اللَّهُ كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامَ ، فَإِنَّهُ لِى&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa. Amalan puasa adalah untuk-Ku”.” (HR. Bukhari no. 1904)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat Ahmad dikatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ كُلُّ الْعَمَلِ كَفَّارَةٌ إِلاَّ الصَّوْمَ وَالصَّوْمُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allah ‘azza wa jalla berfirman (yang artinya), “Setiap amalan adalah sebagai kafaroh/tebusan kecuali amalan puasa. Amalan  puasa adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya”.” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pahala yang Tak Terhingga Bagi Orang yang Berpuasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari riwayat pertama, dikatakan bahwa setiap amalan akan dilipatgandakan sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kebaikan yang semisal. Kemudian dikecualikan amalan puasa. Amalan puasa tidaklah dilipatgandakan seperti tadi. Amalan puasa tidak dibatasi lipatan pahalanya. Oleh karena itu, amalan puasa akan dilipatgandakan oleh Allah hingga berlipat-lipat tanpa ada batasan bilangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa bisa demikian? Ibnu Rajab Al Hambali –semoga Allah merahmati beliau- mengatakan, ”Karena puasa adalah bagian dari kesabaran”. Mengenai ganjaran orang yang bersabar, Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az Zumar: 10). Al Auza’i mengatakan, “Pahala bagi orang yang bersabar tidak bisa ditakar dan ditimbang. Mereka benar-benar akan mendapatkan ketinggian derajat.” As Sudi mengatakan, “Balasan orang yang bersabar adalah surga.”[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabar itu ada tiga macam yaitu [1] sabar dalam melakukan ketaatan kepada Allah, [2] sabar dalam meninggalkan yang haram dan [3] sabar dalam menghadapi takdir yang terasa menyakitkan. Ketiga macam bentuk sabar ini, semuanya terdapat dalam amalan puasa. Dalam puasa tentu saja di dalamnya ada bentuk melakukan ketaatan, menjauhi hal-hal yang diharamkan, juga dalam puasa seseorang berusaha bersabar dari hal-hal yang menyakitkan seperti menahan diri dari rasa lapar, dahaga, dan lemahnya badan. Itulah mengapa amalan puasa bisa meraih pahala tak terhingga sebagaimana sabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amalan Puasa Khusus untuk Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat lain dikatakan bahwa Allah Ta’ala berfirman, “Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa. Amalan puasa adalah untuk-Ku”. Riwayat ini menunjukkan bahwa setiap amalan manusia adalah untuknya. Sedangkan amalan puasa, Allah khususkan untuk diri-Nya. Allah menyandarkan amalan tersebut untuk-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa Allah bisa menyandarkan amalan puasa untuk-Nya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Alasan pertama] Karena di dalam puasa, seseorang meninggalkan berbagai kesenangan dan berbagai syahwat. Hal ini tidak didapati dalam amalan lainnya. Dalam ibadah ihram, memang ada perintah meninggalkan jima’ (berhubungan badan dengan istri) dan meninggalkan berbagai harum-haruman. Namun bentuk kesenangan lain dalam ibadah ihram tidak ditinggalkan. Begitu pula dengan  ibadah shalat. Dalam shalat memang kita dituntut untuk meninggalkan makan dan minum. Namun itu dalam waktu yang singkat. Bahkan ketika hendak shalat, jika makanan telah dihidangkan dan kita merasa butuh pada makanan tersebut, kita dianjurkan untuk menyantap makanan tadi dan boleh menunda shalat ketika dalam kondisi seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi dalam amalan puasa terdapat bentuk meninggalkan berbagai macam syahwat yang tidak kita jumpai pada amalan lainnya. Jika seseorang telah melakukan ini semua –seperti meninggalkan  hubungan badan dengan istri dan meninggalkan makan-minum ketika puasa-, dan dia meninggalkan itu semua karena Allah, padahal tidak ada yang memperhatikan apa yang dia lakukan tersebut selain Allah, maka ini menunjukkan benarnya iman orang yang melakukan semacam ini. Itulah yang dikatakan oleh Ibnu Rajab, “Inilah yang menunjukkan benarnya iman orang tersebut.” Orang yang melakukan puasa seperti itu selalu menyadari bahwa dia berada dalam pengawasan Allah meskipun dia berada sendirian. Dia telah mengharamkan melakukan berbagai macam syahwat yang dia sukai. Dia lebih suka mentaati Rabbnya, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya karena takut pada siksaan dan selalu mengharap ganjaran-Nya. Sebagian salaf mengatakan, “Beruntunglah orang yang meninggalkan syahwat yang ada di hadapannya karena mengharap janji Rabb yang tidak nampak di hadapannya.”. Oleh karena itu, Allah membalas orang yang melakukan puasa seperti ini dan Dia pun mengkhususkan amalan puasa tersebut untuk-Nya dibanding amalan-amalan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Alasan kedua] Puasa adalah rahasia antara seorang hamba dengan Rabbnya yang tidak ada orang lain yang mengetahuinya. Amalan puasa berasal dari niat batin yang hanya Allah saja yang mengetahuinya dan dalam amalan puasa ini terdapat bentuk meninggalkan berbagai syahwat. Oleh karena itu, Imam Ahmad dan selainnya mengatakan, “Dalam puasa sulit sekali terdapat riya’ (ingin dilihat/dipuji orang lain).” Dari dua alasan inilah, Allah menyandarkan amalan puasa pada-Nya berbeda dengan amalan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab Pahala Puasa, Seseorang Memasuki Surga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dalam riwayat lainnya dikatakan, “Allah ‘azza wa jalla berfirman (yang artinya), “Setiap amalan adalah sebagai kafaroh/tebusan kecuali amalan puasa. Amalan  puasa adalah untuk-Ku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sufyan bin ‘Uyainah mengatakan, “Pada hari kiamat nanti, Allah Ta’ala akan menghisab hamba-Nya. Setiap amalan akan menembus berbagai macam kezholiman yang pernah dilakukan, hingga tidak tersisa satu pun kecuali satu amalan yaitu puasa. Amalan puasa ini akan Allah simpan dan akhirnya Allah memasukkan orang tersebut ke surga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, amalan puasa adalah untuk Allah Ta’ala. Oleh karena itu, tidak boleh bagi seorang pun mengambil ganjaran amalan puasa tersebut sebagai tebusan baginya. Ganjaran amalan puasa akan disimpan bagi pelakunya di sisi Allah Ta’ala. Dengan kata lain, seluruh amalan kebaikan dapat menghapuskan dosa-dosa yang dilakukan oleh pelakunya. Sehingga karena banyaknya dosa yang dilakukan, seseorang tidak lagi memiliki pahala kebaikan apa-apa. Ada sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa hari kiamat nanti antara amalan kejelekan dan kebaikan akan ditimbang, satu yang lainnya akan saling memangkas. Lalu tersisalah satu kebaikan dari amalan-amalan kebaikan tadi yang menyebabkan pelakunya masuk surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah amalan puasa yang akan tersimpan di sisi Allah. Amalan kebaikan lain akan memangkas kejelekan yang dilakukan oleh seorang hamba. Ketika tidak tersisa satu kebaikan kecuali puasa, Allah akan menyimpan amalan puasa tersebut dan akan memasukkan hamba yang memiliki simpanan amalan puasa tadi ke dalam surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua Kebahagiaan yang Diraih Orang yang Berpuasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits di atas dikatakan, “Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebahagiaan pertama adalah ketika seseorang berbuka puasa. Ketika berbuka, jiwa begitu ingin mendapat hiburan dari hal-hal yang dia rasakan tidak menyenangkan ketika berpuasa, yaitu jiwa sangat senang menjumpai makanan, minuman dan menggauli istri. Jika seseorang dilarang dari berbagai macam syahwat ketika berpuasa, dia akan merasa senang jika hal tersebut diperbolehkan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebahagiaan kedua adalah ketika seorang hamba berjumpa dengan Rabbnya yaitu dia akan jumpai pahala amalan puasa yang dia lakukan tersimpan di sisi Allah. Itulah ganjaran besar yang sangat dia butuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَا تُقَدِّمُوا لأنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan) nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya.” (QS. Al Muzammil: 20)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُحْضَرًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya).” (QS. Ali Imron: 30)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya.” (QS. Az Zalzalah: 7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bau Mulut Orang yang Berpuasa di Sisi Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ganjaran bagi orang yang berpuasa yang disebutkan pula dalam hadits di atas , “Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti kita tahu bersama bahwa bau mulut orang yang berpuasa apalagi di siang hari sungguh tidak mengenakkan. Namun bau mulut seperti ini adalah bau yang menyenangkan di sisi Allah karena bau ini dihasilkan dari amalan ketaatan dank arena mengharap ridho Allah. Sebagaimana pula darah orang yang mati syahid pada hari kiamat nanti, warnanya adalah warna darah, namun baunya adalah bau minyak kasturi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harumnya bau mulut orang yang berpuasa di sisi Allah ini ada dua sebab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Pertama] Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa puasa adalah rahasia antara seorang hamba dengan Allah di dunia. Ketika di akhirat, Allah pun menampakkan amalan puasa ini sehingga makhluk pun tahu bahwa dia adalah orang yang gemar berpuasa. Allah memberitahukan amalan puasa yang dia lakukan di hadapan manusia lainnya karena dulu di dunia, dia berusaha keras menyembunyikan amalan tersebut dari orang lain. Inilah bau mulut yang harum yang dinampakkan oleh Allah di hari kiamat nanti karena amalan rahasia yang dia lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Kedua] Barangsiapa yang beribadah dan mentaati Allah, selalu mengharap ridho Allah di dunia melalui amalan yang dia lakukan, lalu muncul dari amalannya tersebut bekas yang tidak terasa enak bagi jiwa di dunia, maka bekas seperti ini tidaklah dibenci di sisi Allah. Bahkan bekas tersebut adalah sesuatu yang Allah cintai dan baik di sisi-Nya. Hal ini dikarenakan bekas yang tidak terasa enak tersebut  muncul karena melakukan ketaatan dan mengharap ridho Allah. Oleh karena itu, Allah pun membalasnya dengan memberikan bau harum pada mulutnya yang menyenangkan seluruh makhluk, walaupun bau tersebut tidak terasa enak di sisi makluk ketika di dunia.[2]&lt;br /&gt;Ganjaran Puasa Lainnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;# Puasa adalah perisai dari api neraka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّمَا الصِّيَامُ جُنَّةٌ يَسْتَجِنُّ بِهَا الْعَبْدُ مِنَ النَّارِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Puasa adalah perisai yang dapat melindungi seorang hamba dari api neraka.”[3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;# Amalan puasa akan memberikan syafa’at bagi orang yang menjalankannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ الصِّيَامُ أَىْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِى فِيهِ. وَيَقُولُ الْقُرْآنُ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِى فِيهِ. قَالَ فَيُشَفَّعَانِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Amalan puasa dan amalan Al Qur’an itu akan memberikan syafa’at kepada seorang hamba pada hari kiamat nanti. Amalan puasa akan berkata, “Wahai Tuhanku, saya telah menahannya dari makan dan nafsu syahwat, karenanya perkenankan aku untuk memberikan syafa’at kepadanya”. Dan amalan Al Qur’an pula berkata, “Saya telah melarangnya dari tidur pada malam hari, karenanya perkenankan aku untuk memberi syafa’at kepadanya.” Beliau bersabda, “Maka syafa’at keduanya diperkenankan”.“[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;# Bagi orang yang berpuasa akan disediakan pintu surga Ar Royyan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ فِى الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ ، يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَقُومُونَ ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ ، فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ ، فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sesungguhnya di surga ada sebuah pintu yang bernama Ar-Royyaan. Pada hari kiamat orang-orang yang berpuasa akan masuk surga melalui pintu tersebut dan tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut kecuali mereka. Dikatakan kepada mereka, “Di mana orang-orang yang berpuasa?” Maka orang-orang yang berpuasa pun berdiri dan tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut kecuali mereka. Jika mereka sudah masuk, pintu tersebut ditutup dan tidak ada lagi seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut”[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga dengan mengetahui keutamaan ini kita bisa lebih giat memperbanyakan amalan puasa sunnah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya Allah yang beri taufik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel http://rumaysho.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 12/117, Muassasah Qurthubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Pembahasan ini kami sarikan dari Latho’if Al Ma’arif, Ibnu Rajab Al Hambali, 268-290 ditambah beberapa sumber lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] HR. Ahmad dan Baihaqi, dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shohihul Jami’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] HR. Ahmad, Hakim, Thabrani, periwayatnya shahih sebagaimana dikatakan oleh Al Haytsami dalam Majma’ Zawaid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] HR. Bukhari no. 1896 dan Muslim no. 1152.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5002548945243865869-1962771171817941505?l=readmoslem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://readmoslem.blogspot.com/feeds/1962771171817941505/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5002548945243865869&amp;postID=1962771171817941505&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/1962771171817941505'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/1962771171817941505'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://readmoslem.blogspot.com/2010/02/ganjaran-bagi-yang-gemar-berpuasa.html' title='Ganjaran Bagi Yang Gemar Berpuasa'/><author><name>mencoba menjadi lebih baik...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05732610976505096819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_nHva8Y4lnmg/S1Sbw1CbB0I/AAAAAAAAABo/53TaZ0d4BVs/S220/moslem.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5002548945243865869.post-5242104909543636554</id><published>2010-02-18T14:26:00.000-08:00</published><updated>2010-02-18T14:28:21.004-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sekedar info'/><title type='text'>Keistimewaan Nabi Muhammad</title><content type='html'>Keistimewaan Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam dapat dibagi menjadi 2:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Keistimewaan beliau dari Nabi lainnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Keistimewaan beliau dari umatnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keistimewaan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam Dibanding Nabi Lainnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Beliau adalah kholilullah (kekasih Allah) selain Nabi  Ibrahim ’alaihis salam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنِّي أَبْرَأُ إِلَى اللَّهِ أَنْ يَكُونَ لِي مِنْكُمْ خَلِيلٌ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَدْ اتَّخَذَنِي خَلِيلًا كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا مِنْ أُمَّتِي خَلِيلًا لَاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيلًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sungguh aku memohon pada Allah akan memilih aku di antara kalian sebagai kekasih Allah. Maka Allah Ta’ala memilihku sebagai kekasih-Nya sebagaimana Allah menjadikan Ibrahim juga kekasih-Nya. Seandainya, aku memilih di antara umatku seorang kekasih, maka aku akan memilih Abu Bakr sebagai kekasihku.”[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kholil/khullah adalah tingkatan tertinggi dalam derajat mahabbah (kecintaan) dan inilah yang merupakan tingkatan paling sempurna. Oleh karena itu, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Allah Ta’ala memilihku sebagai kekasih-Nya sebagaimana Allah menjadikan Ibrahim juga kekasih-Nya.” Dan tidak ada dalam hadits yang mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah habibullah[2]. Maka perhatikanlah hal ini!![3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Beliau adalah penutup para Nabi dan risalah (wahyu) yang beliau bawa telah sempurna serta merupakan risalah yang terakhir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi.” (QS. Al Ahzab: 40)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4]Dan tidaklah datang orang yang mengaku dirinya sebagai Nabi -sesudah beliau- kecuali mereka adalah dajjal/pendusta. Munculnya orang-orang yang mengaku Nabi ini merupakan kebenaran dari berita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يُبْعَثَ دَجَّالُونَ كَذَّابُونَ قَرِيبٌ مِنْ ثَلَاثِينَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ رَسُولُ اللَّهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tidak akan terjadi hari kiamat hingga mucul para dajjal/para pendusta, yang berjumlah sekitar 30-an. Mereka semua mengaku sebagai utusan Allah (rasulullah).”[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَإِنَّهُ سَيَكُونُ فِي أُمَّتِي ثَلَاثُونَ كَذَّابُونَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ نَبِيٌّ وَأَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّينَ لَا نَبِيَّ بَعْدِي&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Sesungguhnya akan ada pada umatku 30 orang pendusta yang mengaku Nabi. Padahal akulah penutup para nabi, tidak ada nabi lagi sesudahku.”[6]&lt;br /&gt;Sabda beliau shallallahu ’alaihi wa sallam ini telah terjadi saat ini. Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Sepeninggal beliau shallallahu ’alaihi wa sallam atau bahkan di zaman beliau masih hidup telah muncul para dajjal. Di antaranya adalah Musailamah al-Kazzab. Yang kemudian di zaman Abu Bakr ash-Shiddiq, dia ditumpas oleh Abu Bakar –radhiyallahu ’anhu-. Begitu juga istri Musailamah juga mengaku sebagai Nabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan orang yang mengaku dajjal sampai hari kiamat masih bermunculan. Seperti di zaman kita saat ini juga terdapat orang yang mengaku Nabi –yaitu dajjal- seperti Mirza Gulam Ahmad, Lia Aminudin, dll.&lt;br /&gt;Ketiga: Beliau memiliki kedudukan yang terpuji (Al Maqom Al Mahmudah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu syafa’atul ’uzhma[7], sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji”. (QS. Al Isra’: 79)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga dalam hadits -yang panjang- tentang syafa’at yang telah disepakati keshahihannya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya Allah mengumpulkan orang-orang terdahulu dan orang-orang belakangan  di suatu di suatu bukit. Sebagian orang berkata kepada sebagian yang lain: ”Tidakkah kalian memperhatikan apa yang kalian berada di dalamnya. Tidakkah kalian melihat pada apa yang disampaikan pada kalian. Tidakkah kalian melihat siapa yang memberi syafa’at kalian kepada Rabb kalian.” Kemudian mereka mendatangi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, ’Isa, hingga Muhammad –sholawat Allah dan salam-Nya bagi mereka semuanya-. Tiap Nabi tersebut mengatakan:”Pergilah kepada selainku”. Kecuali Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam mengatakan:”Saya memiliki syafa’at tersebut.” Kemudian beliau sujud kepada yang mengizinkan syafa’at baginya (yaitu Allah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian jelaslah keutamaan Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dari seluruh makhluk. Dan beliau dikhususkan dengan kedudukan yang demikian[8].&lt;br /&gt;Keempat: Risalah beliau adalah umum bagi semesta alam dan beliau diutus kepada jin dan manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah: "Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua.” (QS. Al A’raf: 158)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (QS. Saba: 28)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqaan (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (QS. Al Furqon: 1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al Anbiya’: 107)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآَنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata: "Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)." Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan.” (QS. Al Ahqaf: 29)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –rahimahullah- berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Wajib bagi manusia untuk mengetahui bahwa Allah ‘azza wa jalla telah mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada manusia dan jin. Dan wajib bagi mereka untuk beriman kepada beliau dan beriman dengan wahyu yang beliau bawa dan mentaati beliau. Mereka (manusia) harus menghalalkan yang Allah dan Rasul-Nya halalkan dan mengharamkan yang diharamkan oleh keduanya. Mereka harus pula mencintai yang Allah dan Rasul-Nya cintai dan membenci yang Allah dan Rasul-Nya benci. Setiap orang yang telah tegak hujjah dengan risalah (wahyu) Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dari kalangan manusia dan jin kemudian tidak beriman padanya, maka berhak mendapat adzab Allah Ta’ala, sebagaiman orang kafir yang telah diutus rasul bagi mereka. Inilah landasan yang telah disepakati oleh sahabat, tabi’in (yang mengikuti para sahabat dengan baik), para imam kaum muslimin, dan seluruh kelompok kaum muslimin yang merupakan ahlus sunnah wal jama’ah dan selain mereka –radhiyallahu ‘anhum ajma’in-.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima: Beliau diberikan (diturunkan) Al Qur’an yang merupakan mu’jizat terbesar dan hujjah bagi para hamba. Allah sendiri yang akan menjaga Al Qur’an ini dan Allah menantang orang-orang yang meragukan Al Qur’an untuk membuat yang semisalnya.[9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman pada para penantang Allah yang ingin membuat Al Qur’an,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْآَنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Katakanlah: "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain." (QS. Al Isra’: 88)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tidak mampu membuat seluruh Al Qur’an, Allah menantang lagi dengan cukup membuat 10 ayat. Allah berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ قُلْ فَأْتُوا بِعَشْرِ سُوَرٍ مِثْلِهِ مُفْتَرَيَاتٍ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bahkan mereka mengatakan: "Muhammad telah membuat-buat Al Quran itu", Katakanlah: "(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar." (QS. Hud: 13)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tidak mampu membuat 10 surat, silakan jika mampu membuat satu surat saja!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah[31] satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.” (Al Baqarah: 23)&lt;br /&gt;Keenam: Beliau melakukan isro’ ke Baitul Maqdis dan mi’roj ke Sidrotul Muntaha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keistimewaan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam Dari Umatnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antaranya ialah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Wajibnya shalat tahajud di waktu malam[10]&lt;br /&gt;    * Amalan yang khusus ditetapkan untuk beliau, seperti:&lt;br /&gt;    * Diharamkan zakat bagi beliau dan keluarganya&lt;br /&gt;    * Dihalalkan bagi beliau puasa wishol&lt;br /&gt;    * Dihalalkan bagi beliau menikah lebih dari empat wanita&lt;br /&gt;    * Beliau tidak diwarisi&lt;br /&gt;    * Tidak boleh menikahi istri beliau setelah beliau wafat[11]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel http://rumaysho.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan Jumadats Tsani 1428 H, tiga tahun silam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] HR. Muslim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Tingkatan mahabbah (kecintaan) yang berada di bawah khullah. (-peny)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Lihat Syarh wa ta’liq al-Aqidah al-Wasithiyyah, Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, hal.21. (-peny)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] Tambahan dari editor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] HR. Muslim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6] HR. Tirmidzi, hasan shohih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7] Satu-satunya Nabi yang diberikan hak oleh Allah untuk memberikan syafa’at pada yaumul masyhar nanti adalah Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam. (-peny)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[8] Yaitu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dikhususkan dengan syafa’atul ‘udzma. (-peny)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[9] Kalimat ini adalah bantahan untuk para orientalis dan kaum liberalis (yang berada di kampus-kampus Universitas Islam Negeri atau kampus paramadina) yang ingin membuat Al-Qur’an edisi revisi. Silakan mereka membuat semisal Al Quran atau 10 surat saja semisalnya atau 1 surat saja. Cobalah tantangan ini!! (tambahan editor)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[10] Ada yang berpendapat bahwa shalat tahajud adalah wajib bagi beliau hingga beliau meninggal, sebagaimana dalam ayat,”Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya).” (Al Muzzamil: 1-2). Namun pendapat yang kuat adalah wajib bagi beliau, namun perintah ini telah di-naskh/dihapus dengan firman Allah,”Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu (nafilah); mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (Al Isra’: 79). Lihat Al Irsyad ila Shohihil I’tiqod, hal. 232.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[11] Mayoritas bab ini diringkas dari Al Irsyad ila Shohihil I’tiqod, hal.229-233&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5002548945243865869-5242104909543636554?l=readmoslem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://readmoslem.blogspot.com/feeds/5242104909543636554/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5002548945243865869&amp;postID=5242104909543636554&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/5242104909543636554'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/5242104909543636554'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://readmoslem.blogspot.com/2010/02/keistimewaan-nabi-muhammad.html' title='Keistimewaan Nabi Muhammad'/><author><name>mencoba menjadi lebih baik...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05732610976505096819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_nHva8Y4lnmg/S1Sbw1CbB0I/AAAAAAAAABo/53TaZ0d4BVs/S220/moslem.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5002548945243865869.post-4467289256007529438</id><published>2010-02-18T08:02:00.000-08:00</published><updated>2010-02-21T16:59:40.746-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keajaiban Alqur&apos;an'/><title type='text'>Luangkan Waktumu untuk Membaca Al-Qur’an!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_nHva8Y4lnmg/S31m0lMvqXI/AAAAAAAAADI/reNXH2uQjcQ/s1600-h/18975_103253679701934_100000519075944_82666_2305796_n.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 146px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_nHva8Y4lnmg/S31m0lMvqXI/AAAAAAAAADI/reNXH2uQjcQ/s200/18975_103253679701934_100000519075944_82666_2305796_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5439616978458225010" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Luangkan Waktumu untuk Membaca Al-Qur’an!&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Ummu Yusuf Wikayatu Diny&lt;br /&gt;Muroja’ah: Ust. Aris Munandar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudariku…&lt;br /&gt;Jangan karena kesibukan dan banyaknya kegiatan menjadikan kita lupa untuk membaca dan mentadaburi al-Qur’an. Sesungguhnya ketenangan dan ketentraman dapat diperoleh dari Al-Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini berdasarkan firman Alloh, “Ingatlah hanya dengan mengingat Alloh-lah hati menjadi tentram.” (Qs. ar-Ra’d: 28)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abdullah bin Mas’ud radiallohu ‘anhu Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barang siapa yang membaca satu huruf dari Al-Qur’an maka baginya kebaikan sepuluh kali lipat, aku tidak mengatakan Alif Lam Mim satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, Mim satu huruf.” (Shahih HR.Tirmidzi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bahkan, iri terhadap mereka yang telah mengamalkan Al-Qur’an, dibolehkan. Dari Ibnu Umar radiallohu ‘anhu yang meriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam bahwasannya beliau bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak berlaku iri kecuali terhadap dua orang, seseorang yang dianugrahi Alloh Al-Qur’an lantas dia mengamalkannya sepanjang malam dan sepanjang siang dan seseorang yang dianugerahi Alloh harta lantas dia menginfakkannya sepanjang malam dan sepanjang siang.” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu terdapat permisalan yang baik bagi yang membaca Al-Qur’an, karena Rasululloh pernah bersabda, “Permisalan seorang muslim yang membaca Al-Qur’an bagaikan buah jeruk, baunya wangi dan rasanya lezat, sedangkan orang mukmin yang tidak membaca al-Qur’an bagaikan buah kurma yang tidak ada baunya dan rasanya manis. Permisalan orang munafik yang membaca Al-Qur’an bagaikan kemangi yang baunya wangi rasanya pahit, sedangkan orang munafik yang tidak membaca al-Qur’an bagaikan labu yang tidak ad wanginya dan rasanya pahit.” (HR. Bukhari Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat hikmah yang indah dari perkataan al-Ajuri rahimahullah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barang siapa yang merenungi firman-Nya maka ia akan mengenal Rabbnya, akan mengetahui keutamaannya dibandingkan orang orang mukmin yang lain, dia akan menyadari kewajibannya dalam beribadah hingga senantiasa berusaha untuk menjaga kewajiban tersebut. Ia akan berhati-hati terhadap apa yang dilarang Rabb-Nya, mencintai apa yang dicintai-Nya. Barang siapa yang memiliki sifat yang demikian, ketika membaca al-Qur’an dan ketika mendengarkanya, maka Al-Qur’an akan menjadi penawar hatinya, ia akan merasa cukup tanpa harta, mulia tanpa kesulitan, lembut dalam menyikapi orang yang kasar padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang memiliki sifat demikian, ketika ia memulai membaca sebuah surat yang tergambar dibenaknya adalah sejauh mana  dia  dapat mengambil pelajaran terhadap yang dia baca. Tujuannya membaca Al-Qur’an tidak semata-mata untuk mengkhatamkannya akan tetapi seberapa besar ia dapat memahami perintah Alloh dan mengambil pelajaran darinya. Membaca Al-Qur’an adalah ibadah maka tidaklah pantas membacanya dengan hati yang kosong lagi lalai, dan Allah Ta’ala maha memberi taufik terhadap yang demikian.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai saudariku, jangan sampai waktu kita tidak ada sedikitpun untuk membaca atau membaca Al-Qur’an. Berusahalah, walaupun sedikit waktu tersisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel: muslimah.or.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5002548945243865869-4467289256007529438?l=readmoslem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://readmoslem.blogspot.com/feeds/4467289256007529438/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5002548945243865869&amp;postID=4467289256007529438&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/4467289256007529438'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/4467289256007529438'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://readmoslem.blogspot.com/2010/02/luangkan-waktumu-untuk-membaca-al-quran.html' title='Luangkan Waktumu untuk Membaca Al-Qur’an!'/><author><name>mencoba menjadi lebih baik...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05732610976505096819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_nHva8Y4lnmg/S1Sbw1CbB0I/AAAAAAAAABo/53TaZ0d4BVs/S220/moslem.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_nHva8Y4lnmg/S31m0lMvqXI/AAAAAAAAADI/reNXH2uQjcQ/s72-c/18975_103253679701934_100000519075944_82666_2305796_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5002548945243865869.post-8599814142440199542</id><published>2010-02-14T17:38:00.000-08:00</published><updated>2010-02-16T08:29:58.573-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manajemen Hati'/><title type='text'>Masa Mudamu Mempengaruhi Masa Tuamu</title><content type='html'>Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatlah, penjagaanmu terhadap hak Allah di masa mudamu bisa mempengaruhi masa tuamu! Kita dapat menyaksikannya dalam pelajaran hadits berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah memberi nasehat pada Ibnu 'Abbas -radhiyallahu 'anhuma-,&lt;br /&gt;احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu.”[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud menjaga Allah di sini adalah menjaga batasan-batasan, hak-hak, perintah, dan  larangan-larangan Allah. Yaitu seseorang menjaganya dengan melaksanakan perintah Allah, menjauhi larangan-Nya, dan tidak melampaui batas dari batasan-Nya (berupa perintah maupun larangan Allah). Orang yang melakukan seperti ini, merekalah yang menjaga diri dari batasan-batasan Allah sebagaimana yang Allah puji dalam kitab-Nya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;هَذَا مَا تُوعَدُونَ لِكُلِّ أَوَّابٍ حَفِيظٍ (٣٢)مَنْ خَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ وَجَاءَ بِقَلْبٍ مُنِيبٍ (٣٣)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada Setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya), (yaitu) orang yang takut kepada Tuhan yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan Dia datang dengan hati yang bertaubat.” (QS. Qaaf: 32-33). Yang dimaksud dengan menjaga di sini adalah menjaga setiap perintah Allah dan menjaga diri dari berbagai dosa serta bertaubat darinya.[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjaga Hak Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara bentuk penjagaan hak Allah sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Menjaga shalat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang utama  untuk dijaga adalah shalat lima waktu yang wajib sebagaimana yang Allah firmankan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ (٢٣٨)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa (shalat Ashar)[3]. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu'.” (QS. Al Baqarah: 238). Yang dimaksud shalat wustho di sini adalah shalat Ashar menurut kebanyakan ulama. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan keras orang yang meninggalkan shalat Ashar sebagaimana dalam sabdanya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ تَرَكَ صَلاَةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa meninggalkan shalat Ashar, maka hapuslah amalannya.”[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala pun memuji orang-orang yang menjaga shalatnya dalam ayat lainnya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلاتِهِمْ يُحَافِظُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan orang-orang yang memelihara shalatnya.” (QS. Al Ma’arij: 34)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula termasuk dalam hal ini adalah dengan menjaga thoharoh (bersuci) karena thoharoh adalah pembuka shalat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلاَ يُحَافِظُ عَلَى الْوُضُوءِ إِلاَّ مُؤْمِنٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak ada yang selalu menjaga wudhu melainkan ia adalah seorang mukmin.”[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Menjaga kepala dan perut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula kita diperintahkan untuk menjaga kepala dan perut. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الاِسْتِحْيَاءَ مِنَ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ أَنْ تَحْفَظَ الرَّأْسَ وَمَا وَعَى وَتَحْفَظَ الْبَطْنَ وَمَا حَوَى&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sifat malu pada Allah yang sebenarnya adalah engkau menjaga kepalamu dan setiap yang ada di sekitarnya, begitu pula engkau menjaga perutmu serta apa yang ada di dalamnya.”[6] Yang dimaksud menjaga kepala dan setiap apa yang ada di sekitarnya, termasuk di dalamnya adalah menjaga pendengaran, penglihatan dan lisan dari berbagai keharaman. Sedangkan yang dimaksud menjaga perut dan segala apa yang ada di dalamnya, termasuk di dalamnya adalah menjaga hati dari terjerumus dalam yang haram.[7] Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنْفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; Maka takutlah kepada-Nya.” (QS. Al Baqarah: 235)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala juga berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al Isro’: 36)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga: Menjaga lisan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ يَضْمَنْ لِى مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang menjamin padaku apa yang ada di antara dua janggutnya (yaitu bibirnya) dan antara dua kakinya (yaitu kemaluan), maka ia akan masuk surga.”[8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat: Menjaga kemaluan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah memuji orang-orang yang menjaga kemaluan dalam beberapa ayat. Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat".” (QS. An Nur: 30)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al Ahzab: 35)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (5) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa.” (QS. Al Mu’minun: 5-6)[9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih penting dari hal di atas dan merupakan hak Allah yang paling utama untuk dijaga adalah mentauhidkan Allah dan tidak menyekutukan Allah dengan selain-Nya (baca: berbuat syirik). Karena syirik adalah kezholiman yang teramat besar. Luqman pernah berkata pada anaknya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya kesyirikan adalah kezholiman yang paling besar.” (QS. Luqman: 13)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika membonceng Mu’adz dengan keledai -yang bernama ‘Ufair-, beliau bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;« يَا مُعَاذُ ، هَلْ تَدْرِى حَقَّ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ » . قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ . قَالَ « فَإِنَّ حَقَّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلاَ يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ، وَحَقَّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ أَنْ لاَ يُعَذِّبَ مَنْ لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا »&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai Mu’adz, tahukah engkau apa hak Allah yang wajib ditunaikan oleh hamba-Nya dan apa hak hamba yang berhak ia dapat dari Allah?” Mu’adz mengatakan, ”Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab, “Hak Allah yang wajib ditunaikan oleh setiap hamba adalah mereka harus menyembah Allah dan tidak boleh berbuat syirik pada-Nya dengan sesuatu apa pun. Sedangkan hak hamba yang berhak ia dapat adalah Allahh tidak akan menyiksa orang yang tidak berbuat syirik kepada-Nya dengan sesuatu apa pun.”[10] Inilah hak Allah yang mesti dan wajib ditunaikan oleh setiap hamba sebelum hak-hak lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang Menjaga Hak Allah, maka Allah akan Menjaganya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangsiapa menjaga diri dengan melakukan perintah dan menjauhi larangan, maka ia akan mendapatkan penjagaan dari Allah Ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang dimaksud al jaza’ min jinsil ‘amal, yaitu balasan sesuai dengan amal perbuatan. Sebagaimana Allah mengatakan dalam ayat-ayat lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَأَوْفُوا بِعَهْدِي أُوفِ بِعَهْدِكُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu.” (QS. Al Baqarah: 40)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu.” (QS. Al Baqarah: 152)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu.” (QS. Muhammad: 7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk Penjagaan Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seseorang menjaga hak-hak Allah sebagaimana yang telah disebutkan di atas, maka Allah pun akan selalu menjaganya. Bentuk penjagaan Allah ada dua macam, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjagaan pertama: Allah akan menjaga urusan dunianya yaitu ia akan mendapatkan penjagaan diri, anak, keluarga dan harta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Penjagaan melalui Malaikat Allah]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara bentuk penjagaan Allah adalah ia akan selalu mendapatkan penjagaan dari malaikat Allah. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah.” (QS. Ar Ro’du: 11). Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Setiap hamba memiliki malaikat yang selalu menemaninya. Malaikat tersebut akan menjaganya siang dan malam. Mereka akan menjaganya danri berbagai kejelekan dan kejadian-kejadian.”[11] Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, “Mereka adalah para malaikat yang akan selalu menjaganya atas perintah Allah. Jika datang ajal barulah malaikat-malaikat tadi meninggalkannya.” Inilah salah bentuk penjagaan Allah melalui para malaikat bagi orang yang selalu menjaga hak-hak Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Penjagaan di Kala Usia Senja]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula Allah akan menjaga seseorang di waktu tuanya, jika ia selalu menjaga hak Allah di waktu mudanya. Allah akan menjaga pendengaran, penglihatan, kekuatan dan kecerdasannya. Inilah maksud yang kami singgung dalam judul artikel ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana kami pernah membaca dalam salah satu buku fiqh madzhab Syafi’i, matan Abi Syuja’. Dalam buku tersebut diceritakan mengenai penulis matan yaitu Al Qodhi Abu Syuja’ (Ahmad bin Al Husain bin Ahmad Asy Syafi’i rahimahullah Ta’ala). Perlu diketahui bahwa beliau adalah di antara ulama yang mati di usia sangat tua. Umur beliau ketika meninggal dunia adalah 160 tahun (433-596 Hijriyah). Beliau terkenal sangat dermawan dan zuhud. Beliau sudah diberi jabatan sebagai qodhi pada usia belia yaitu 14 tahun. Keadaan beliau di usia senja (di atas 100 tahun), masih dalam keadaan sehat wal afiat. Begitu pula ketika usia senja semacam itu, beliau masih diberikan kecerdasan. Tahukah Anda apa rahasianya? Beliau tidakk punya tips khusus untuk rutin olahraga atau yang lainnya. Namun perhatikan apa tips beliau, “Aku selalu menjaga anggota badanku ini dari bermaksiat pada Allah di waktu mudaku, maka Allah pun menjaga anggota badanku ini di waktu tuaku.” Cobalah lihat, beliau bukanlah memberikan kita tips untuk banyak olahraga. Namun apa tips beliau? Yaitu taat pada Allah dan menjauhi segala maksiat di waktu muda.[12]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Rajab rahimahullah juga pernah menceritakan bahwa sebagian ulama ada yang sudah berusia di atas 100 tahun. Namun ketika itu, mereka masih diberi kekuatan dan kecerdasan. Coba bayangkan bagaimana dengan keadaan orang-orang saat ini yang berusia seperti itu? Diceritakan bahwa di antara ulama tersebut pernah melompat dengan lompatan yang amat jauh. Kenapa bisa seperti itu? Ulama tersebut mengatakan, “Anggota badan ini selalu aku jaga agar jangan sampai berbuat maksiat di kala aku muda. Balasannya, Allah menjaga anggota badanku ini di waktu tuaku.” Namun ada orang yang sebaliknya, sudah berusia senja, jompo dan biasa mengemis pada manusia. Para ulama pun mengatakan tentang orang tersebut,  “Inilah orang yang selalu melalaikan hak Allah di waktu mudanya, maka Allah pun melalaikan dirinya di waktu tuanya.”[13]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Penjagaan pada keturunan]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula Allah akan menjaga keturunan orang-orang sholih dan selalu taat pada Allah. Di antaranya kita dapat melihat pada kisah dua anak yatim yang mendapat penjagaan Allah karena ayahnya adalah orang yang sholih. Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنْزٌ لَهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh.” (QS. Al Kahfi: 82). ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz pernah mengatakan, “Barangsiapa seorang mukmin itu mati (artinya: ia selalu menjaga hak Allah, pen), maka Allah akan senantiasa menjaga keturunan-keturunannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sa’id bin Al Musayyib mengatakan pada anaknya, “Wahai anakku, aku selalu memperbanyak shalatku dengan tujuan supaya Allah selalu menjagamu.”[14]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Barangsiapa menjaga (hak-hak) Allah, maka Allah akan menjaganya dari berbagai gangguan.” Sebagian salaf mengatakan, “Barangsiapa bertakwa pada Allah, maka Allah akan menjaga dirinya. Barangsiapa lalai dari takwa kepada Allah, maka Allah tidak ambil peduli padanya. Orang itu berarti telah menyia-nyiakan dirinya sendiri. Allah sama sekali tidak butuh padanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seseorang berbuat maksiat, maka ia juga dapat melihat tingkah laku yang aneh pada keluarganya bahkan pada hewan tunggangannya. Sebagaimana sebagian salaf mengatakan, “Jika aku bermaksiat pada Allah, maka pasti aku akan menemui tingkah laku yang aneh pada budakku bahkan juga pada hewan tungganganku.”[15]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjagaan kedua: Penjagaan yang lebih dari penjagaan pertama, yaitu Allah akan menjaga agama dan keimanannya. Allah akan menjaga dirinya dari pemikiran rancu yang bisa menyesatkan dan dari berbagai syahwat yang diharamkan. Inilah penjagaan yang lebih luar biasa dari penjagaan pertama tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini dapat kita lihat sebagaimana dalam do’a sebelum tidur yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;بِاسْمِكَ رَبِّ وَضَعْتُ جَنْبِى وَبِكَ أَرْفَعُهُ ، إِنْ أَمْسَكْتَ نَفْسِى فَاغْفِرْ لَهَا ، وَإِنْ أَرْسَلْتَهَا فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ الصَّالِحِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dengan menyebut nama-Mu, aku meletakkan lambungku, dan dengan nama-Mu aku mengangkatnya. Jika engkau ingin menarik jiwaku, maka ampunilah ia. Jika engkau ingin membiarkannya, maka jagalah ia sebagaimana engkau menjaga hamba-hambaMu yang sholih”[16] Dalam do’a ini terlihat bahwa Allah akan senantiasa menjaga orang-orang yang sholih.[17]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pembahasan yang singkat dari hadits di atas. Semoga hadits ini bisa selalu menjadi pengingat dalam setiap langkah kita. Jagalah hak Allah, niscaya Allah akan menjagamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diselesaikan di Boyolali (Jawa Tengah), 30 Shofar 1431 H (bertepatan dengan 14 Februari 2010)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel http://rumaysho.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] HR. Tirmidzi no. 2516 dan Ahmad 1/303. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Lihat Jaami'ul 'Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al Hambali, hal. 223, Darul Muayyid, cetakan pertama, tahun 1424 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Yang dimaksud shalat wusthaa terdapat lima pendapat. Ada yang mengatakan bahwa itu adalah shalat Ashar. Ada juga yang mengatakan bahwa itu adalah shalat Shubuh, Zhuhur, Maghrib atau Isya (Lihat Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, 1/241, Mawqi’ At Tafaasir).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kebanyakan ulama mengatakan bahwa yang dimaksud shalat wustha adalah shalat Ashar sebagaimana banyak yang meriwayatkan hal ini dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang memilih pendapat ini adalah ‘Ali, Abdullah bin Mas’ud, Abu Ayyub, Abu Hurairah, ‘Aisyah, Ibrahim An Nakhoi, Qotadah dan Al Hasan (Lihat Ma’alimut Tanzil, Al Husain bin Mas’ud Al Baghowi, 1/288, Dar Thoyibah, cetakan keempat, tahun 1417 H)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] HR. Bukhari no. 553, dari Buraidah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] HR. Ibnu Majah no. 277, dari Tsauban. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6] HR.. Tirmidzi no. 2458, dari Abdullah bin Mas’ud. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7] Demikian penjelasan Ibnu Rajab dalam Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, hal. 224.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[8] HR. Bukhari no. 6474, dari Sahl bin Sa’ad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[9] Lihat Jaami'ul 'Ulum wal Hikam, hal. 223-224.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[10] HR. Bukhari no. 2856 dan Muslim no. 30.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[11] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 8/114, Muassasah Qurthubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[12] Demikian cerita yang kami peroleh dengan sedikit perubahan redaksi dari kitab Matan Al Ghoyah wat Taqrib, yang memberikan syarh terhadap Matan Abi Syuja’ (Ikhtishorul Ghoyah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[13] Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, hal. 225.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[14] Idem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[15] Lihat Jaami'ul 'Ulum wal Hikam, hal. 225-226.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[16] HR. Bukhari no. 7393 dan Muslim no. 2714.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[17] Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, hal. 226.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5002548945243865869-8599814142440199542?l=readmoslem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://readmoslem.blogspot.com/feeds/8599814142440199542/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5002548945243865869&amp;postID=8599814142440199542&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/8599814142440199542'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/8599814142440199542'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://readmoslem.blogspot.com/2010/02/masa-mudamu-mempengaruhi-masa-tuamu.html' title='Masa Mudamu Mempengaruhi Masa Tuamu'/><author><name>mencoba menjadi lebih baik...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05732610976505096819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_nHva8Y4lnmg/S1Sbw1CbB0I/AAAAAAAAABo/53TaZ0d4BVs/S220/moslem.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5002548945243865869.post-6391438561077128371</id><published>2010-02-13T14:34:00.000-08:00</published><updated>2010-02-16T08:27:57.181-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puasa'/><title type='text'>Merutinkan Puasa Senin Kamis</title><content type='html'>Puasa adalah amalan yang sangat utama. Dengan puasa seseorang akan terlepas dari berbagai godaan syahwat di dunia dan terlepas dari siksa neraka di akhirat. Puasa pun ada yang diwajibkan dan ada yang disunnahkan. Setelah kita menunaikan yang wajib, maka alangkah bagusnya kita bisa menyempurnakannya dengan amalan yang sunnah. Ketahuilah bahwa puasa sunnah nantinya akan  menambal kekurangan yang ada pada puasa wajib. Oleh karena itu, amalan sunnah sudah sepantasnya tidak diremehkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keutamaan Orang yang Berpuasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.”” (HR. Muslim no. 1151)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat lain dikatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قَالَ اللَّهُ كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامَ ، فَإِنَّهُ لِى&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa. Amalan puasa adalah untuk-Ku”.” (HR. Bukhari no. 1904)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat Ahmad dikatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ كُلُّ الْعَمَلِ كَفَّارَةٌ إِلاَّ الصَّوْمَ وَالصَّوْمُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allah ‘azza wa jalla berfirman (yang artinya), “Setiap amalan adalah sebagai kafaroh/tebusan kecuali amalan puasa. Amalan  puasa adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya”.” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara ganjaran berpuasa sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Pahala yang tak terhingga bagi orang yang berpuasa&lt;br /&gt;   2. Amalan puasa khusus untuk Allah&lt;br /&gt;   3. Sebab pahala puasa, seseorang memasuki surga&lt;br /&gt;   4. Dua kebahagiaan yang diraih orang yang berpuasa yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya.&lt;br /&gt;   5. Bau mulut orang yang berpuasa di sisi Allah lebih harum daripada bau minyak kasturi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lakukanlah Puasa dengan Ikhlas dan Sesuai Tuntunan Nabi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar ibadah diterima di sisi Allah, haruslah terpenuhi dua syarat, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Ikhlas karena Allah.&lt;br /&gt;   2. Mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (ittiba’).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika salah satu syarat saja yang terpenuhi, maka amalan ibadah menjadi tertolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil dari dua syarat di atas adalah firman Allah Ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya".” (QS. Al Kahfi: 110)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh”, maksudnya adalah mencocoki syariat Allah (mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, pen). Dan “janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”, maksudnya selalu mengharap wajah Allah semata dan tidak berbuat syirik pada-Nya. Inilah dua rukun diterimanya ibadah, yaitu harus ikhlas karena Allah dan mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Fudhail bin ‘Iyadh tatkala menjelaskan mengenai firman Allah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al Mulk [67] : 2), beliau mengatakan, “yaitu amalan yang paling ikhlas dan showab (mencocoki tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Al Fudhail berkata,  “Apabila amal dilakukan dengan ikhlas namun tidak mencocoki ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, amalan tersebut tidak akan diterima. Begitu pula, apabila suatu amalan dilakukan mengikuti ajaran beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam namun tidak ikhlas, amalan tersebut juga tidak akan diterima.” (Jami’ul Ulum wal Hikam, hal. 19)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baca tentang syarat diterimanya ibadah di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalil Anjuran Puasa Senin-Kamis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Dalil pertama]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Qotadah Al Anshori radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya mengenai puasa pada hari Senin, lantas beliau menjawab,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَىَّ فِيهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hari tersebut adalah hari aku dilahirkan, hari aku diutus atau diturunkannya wahyu untukku.”[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Dalil kedua]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;تُعْرَضُ الأَعْمَالُ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِى وَأَنَا صَائِمٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berbagai amalan dihadapkan (pada Allah) pada hari Senin dan Kamis, maka aku suka jika amalanku dihadapkan sedangkan aku sedang berpuasa.”[3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Dalil ketiga]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ‘Aisyah, beliau mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَتَحَرَّى صِيَامَ الاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa menaruh pilihan berpuasa pada hari senin dan kamis.”[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faedah Puasa Senin-Kamis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Beramal pada waktu utama yaitu ketika catatan amal dihadapkan di hadapan Allah.&lt;br /&gt;   2. Kemaslahatan untuk badan dikarenakan ada waktu istirahat setiap pekannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: Puasa senin kamis dilakukan hampir sama dengan puasa wajib di bulan Ramadhan. Dianjurkan untuk mengakhirkan makan sahur dan menyegerakan berbuka. Untuk masalah niat, tidak ada lafazh niat tertentu. Niat cukup dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amalan yang Terbaik adalah Amalan yang Bisa Dirutinkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ’Aisyah –radhiyallahu ’anha-, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” ’Aisyah pun ketika melakukan suatu amalan selalu berkeinginan keras untuk merutinkannya. [5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ’Aisyah, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah. Rasul shallallahu ’alaihi wa sallam menjawab,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Amalan yang rutin (kontinu), walaupun sedikit.”[6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;’Alqomah pernah bertanya pada Ummul Mukminin ’Aisyah, ”Wahai Ummul Mukminin, bagaimanakah Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam beramal? Apakah beliau mengkhususkan hari-hari tertentu untuk beramal?” ’Aisyah menjawab,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لاَ. كَانَ عَمَلُهُ دِيمَةً وَأَيُّكُمْ يَسْتَطِيعُ مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَسْتَطِيعُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tidak. Amalan beliau adalah amalan yang kontinu (rutin dilakukan). Siapa saja di antara kalian pasti mampu melakukan yang beliau shallallahu ’alaihi wa sallam lakukan.”[7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baca tentang amalan yang kontinu di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah memudahkan kita melakukan amalan yang mulia ini. Amalan yang rutin biar pun sedikit, itu lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nantikan pembahasan mengenai puasa-puasa sunnah lainnya. Semoga Allah mudahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel http://rumaysho.com&lt;br /&gt;Disusun di Pangukan-Sleman, 14 Shofar 1431 H&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 9/205, Muassasah Qurthubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] HR. Muslim no. 1162.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] HR. Tirmidzi no. 747. At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan ghorib. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih lighoirihi (shahih dilihat dari jalur lainnya). Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1041.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] HR. An Nasai no. 2360 dan Ibnu Majah no. 1739. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahihul Jaami’ no. 4897.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] HR. Muslim no. 783, Kitab shalat para musafir dan qasharnya, Bab Keutamaan amalan shalat malam yang kontinu dan amalan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6] HR. Muslim no. 782&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7] HR. Muslim no. 783&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5002548945243865869-6391438561077128371?l=readmoslem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://readmoslem.blogspot.com/feeds/6391438561077128371/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5002548945243865869&amp;postID=6391438561077128371&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/6391438561077128371'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/6391438561077128371'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://readmoslem.blogspot.com/2010/02/merutinkan-puasa-senin-kamis.html' title='Merutinkan Puasa Senin Kamis'/><author><name>mencoba menjadi lebih baik...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05732610976505096819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_nHva8Y4lnmg/S1Sbw1CbB0I/AAAAAAAAABo/53TaZ0d4BVs/S220/moslem.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5002548945243865869.post-8180689039306428497</id><published>2010-02-11T08:32:00.000-08:00</published><updated>2010-02-16T08:29:58.574-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manajemen Hati'/><title type='text'>Masa Muda, Waktu Utama Beramal Sholeh</title><content type='html'>Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rasulillah wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma'in. Waktu muda, kata sebagian orang adalah waktu untuk hidup foya-foya, masa untuk bersenang-senang. Sebagian mereka mengatakan, “Kecil dimanja, muda foya-foya, tua kaya raya, dan mati masuk surga.” Inilah guyonan sebagian pemuda. Bagaimana mungkin waktu muda foya-foya, tanpa amalan sholeh, lalu mati bisa masuk surga[?] Sungguh hal ini dapat kita katakan sangatlah mustahil. Untuk masuk surga pastilah ada sebab dan tidak mungkin hanya dengan foya-foya seperti itu. Semoga melalui risalah ini dapat membuat para pemuda sadar, sehingga mereka dapat memanfaatkan waktu mudanya dengan sebaik-baiknya. Hanya pada Allah-lah tempat kami bersandar dan berserah diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai Pemuda, Hidup Di Dunia Hanyalah Sementara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah menasehati seorang sahabat yang tatkala itu berusia muda (berumur sekitar 12 tahun) yaitu Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma. (Syarh Al Arba’in An Nawawiyah Syaikh Sholeh Alu Syaikh, 294). Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang pundaknya lalu bersabda,&lt;br /&gt;كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ , أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hiduplah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau pengembara.” (HR. Bukhari no. 6416)&lt;br /&gt;Lihatlah nasehat yang sangat bagus sekali dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada sahabat yang masih berusia belia. Ath Thibiy mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memisalkan orang yang hidup di dunia ini dengan orang asing (al ghorib) yang tidak memiliki tempat berbaring dan tempat tinggal. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan lebih lagi yaitu memisalkan dengan pengembara. Orang asing dapat tinggal di negeri asing. Hal ini berbeda dengan seorang pengembara yang bermaksud menuju negeri yang jauh, di kanan kirinya terdapat lembah-lembah, akan ditemui tempat yang membinasakan, dia akan melewati padang pasir yang menyengsarakan dan juga terdapat perampok. Orang seperti ini tidaklah tinggal kecuali hanya sebentar sekali, sekejap mata.” (Dinukil dari Fathul Bariy, 18/224)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negeri asing dan tempat pengembaraan yang dimaksudkan dalam hadits ini adalah dunia dan negeri tujuannya adalah akhirat. Jadi, hadits ini mengingatkan kita dengan kematian sehingga kita jangan berpanjang angan-angan. Hadits ini juga mengingatkan kita supaya mempersiapkan diri untuk negeri akhirat dengan amal sholeh. (Lihat Fathul Qowil Matin)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;مَا لِى وَمَا لِلدُّنْيَا مَا أَنَا فِى الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa peduliku dengan dunia?! Tidaklah aku tinggal di dunia melainkan seperti musafir yang berteduh di bawah pohon dan beristirahat, lalu musafir tersebut meninggalkannya.” (HR. Tirmidzi no. 2551. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan At Tirmidzi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu juga memberi petuah kepada kita,&lt;br /&gt;ارْتَحَلَتِ الدُّنْيَا مُدْبِرَةً ، وَارْتَحَلَتِ الآخِرَةُ مُقْبِلَةً ، وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُونَ ، فَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الآخِرَةِ ، وَلاَ تَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا ، فَإِنَّ الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلاَ حِسَابَ ، وَغَدًا حِسَابٌ وَلاَ عَمَلَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dunia itu akan pergi menjauh. Sedangkan akhirat akan mendekat. Dunia dan akhirat tesebut memiliki anak. Jadilah anak-anak akhirat dan janganlah kalian menjadi anak dunia. Hari ini (di dunia) adalah hari beramal dan bukanlah hari perhitungan (hisab), sedangkan besok (di akhirat) adalah hari perhitungan (hisab) dan bukanlah hari beramal.” (HR. Bukhari secara mu’allaq –tanpa sanad-)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manfaatkanlah Waktu Muda, Sebelum Datang Waktu Tuamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lakukanlah lima hal sebelum terwujud lima hal yang lain. Dari Ibnu ‘Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] Hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya, dikatakan oleh Adz Dzahabiy dalam At Talkhish berdasarkan syarat Bukhari-Muslim. Hadits ini dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Al Jami’ Ash Shogir)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, maksudnya: “Lakukanlah ketaatan ketika dalam kondisi kuat untuk beramal (yaitu di waktu muda), sebelum datang masa tua renta.” Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, maksudnya: “Beramallah di waktu sehat, sebelum datang waktu yang menghalangi untuk beramal seperti di waktu sakit.” Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, maksudnya: “Manfaatklah kesempatan (waktu luangmu) di dunia ini sebelum datang waktu sibukmu di akhirat nanti. Dan awal kehidupan akhirat adalah di alam kubur.” Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, maksudnya: ”Bersedekahlah dengan kelebihan hartamu sebelum datang bencana yang dapat merusak harta tersebut, sehingga akhirnya engkau menjadi fakir di dunia maupun akhirat.” Hidupmu sebelum datang kematianmu, maksudnya: “Lakukanlah sesuatu yang manfaat untuk kehidupan sesudah matimu, karena siapa pun yang mati, maka akan terputus amalannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Munawi mengatakan,&lt;br /&gt;فَهِذِهِ الخَمْسَةُ لَا يَعْرِفُ قَدْرَهَا إِلاَّ بَعْدَ زَوَالِهَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lima hal ini (waktu muda, masa sehat masa luang, masa kaya dan waktu ketika hidup) barulah seseorang betul-betul mengetahui nilainya setelah kelima hal tersebut hilang.” (At Taisir Bi Syarh Al Jami’ Ash Shogir, 1/356)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarlah kata Al Munawi. Seseorang baru ingat kalau dia diberi nikmat sehat, ketika dia merasakan sakit. Dia baru ingat diberi kekayaan, setelah jatuh miskin. Dan dia baru ingat memiliki waktu semangat untuk beramal di masa muda, setelah dia nanti berada di usia senja yang sulit beramal. Penyesalan tidak ada gunanya jika seseorang hanya melewati masa tersebut dengan sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang Beramal Di Waktu Muda Akan Bermanfaat Untuk Waktu Tuanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam surat At Tiin, Allah telah bersumpah dengan tiga tempat diutusnya para Nabi ‘Ulul Azmi yaitu [1] Baitul Maqdis yang terdapat buah tin dan zaitun –tempat diutusnya Nabi ‘Isa ‘alaihis salam-, [2] Bukit Sinai yaitu tempat Allah berbicara langsung dengan Nabi Musa ‘alaihis salam, [3] Negeri Mekah yang aman, tempat diutus Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah bersumpah dengan tiga tempat tersebut, Allah Ta’ala pun berfirman,&lt;br /&gt;لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ (4) ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ (5) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.” (QS. At Tiin [95] : 4-6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksud ayat “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” ada empat pendapat. Di antara pendapat tersebut adalah “Kami telah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya sebagaimana di waktu muda yaitu masa kuat dan semangat untuk beramal.” Pendapat ini dipilh oleh ‘Ikrimah. “Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya”. Menurut Ibnu ‘Abbas, ‘Ikrimah, Ibrahim dan Qotadah, juga Adh Dhohak, yang dimaksudkan dengan bagian ayat ini adalah “dikembalikan ke masa tua renta setelah berada di usia muda, atau dikembalikan di masa-masa tidak semangat untuk beramal setelah sebelumnya berada di masa semangat untuk beramal”. Masa tua adalah masa tidak semangat untuk beramal. Seseorang akan melewati masa kecil, masa muda, dan masa tua. Masa kecil dan masa tua adalah masa sulit untuk beramal, berbeda dengan masa muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;An Nakho’i mengatakan, “Jika seorang mukmin berada di usia senja dan pada saat itu sangat sulit untuk beramal, maka akan dicatat untuknya pahala sebagaimana amal yang dulu dilakukan pada saat muda. Inilah yang dimaksudkan dengan firman Allah (yang artinya): bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Qutaibah mengatakan, “Makna firman Allah (yang artinya), “Kecuali orang-orang yang beriman” adalah kecuali orang-orang yang beriman di waktu mudanya, di saat kondisi fit (semangat) untuk beramal, maka mereka di waktu tuanya nanti tidaklah berkurang amalan mereka, walaupun mereka tidak mampu melakukan amalan ketaatan di saat usia senja. Karena Allah Ta’ala Maha Mengetahui, seandainya mereka masih diberi kekuatan beramal sebagaimana waktu mudanya, mereka tidak akan berhenti untuk beramal kebaikan. Maka orang yang gemar beramal di waktu mudanya, (di saat tua renta), dia akan diberi ganjaran sebagaimana di waktu mudanya.” (Lihat Zaadul Maysir, 9/172-174)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga kita dapat melihat pada surat Ar Ruum ayat 54.&lt;br /&gt;اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِن بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفاً وَشَيْبَةً يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS. Ar Ruum: 54)&lt;br /&gt;Ibnu Katsir mengatakan, “(Dalam ayat ini), Allah Ta’ala menceritakan mengenai fase kehidupan, tahap demi tahap. Awalnya adalah dari tanah, lalu berpindah ke fase nutfah, beralih ke fase ‘alaqoh (segumpal darah), lalu ke fase mudh-goh (segumpal daging), lalu berubah menjadi tulang yang dibalut daging. Setelah itu ditiupkanlah ruh, kemudian dia keluar dari perut ibunya dalam keadaan lemah, kecil dan tidak begitu kuat. Kemudian si mungil tadi berkembang perlahan-lahan hingga menjadi seorang bocah kecil. Lalu berkembang lagi menjadi seorang pemuda, remaja. Inilah fase kekuatan setelah sebelumnya berada dalam keadaan lemah. Lalu setelah itu, dia menginjak fase dewasa (usia 30-50 tahun). Setelah itu dia akan melewati fase usia senja, dalam keadaan penuh uban. Inilah fase lemah setelah sebelumnya berada pada fase kuat. Pada fase inilah berkurangnya semangat dan kekuatan. Juga pada fase ini berkurang sifat lahiriyah maupun batin. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban”.” (Tafsir Al Qur’an Al Azhim pada surat Ar Ruum ayat 54)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, usia muda adalah masa fit (semangat) untuk beramal. Oleh karena itu, manfaatkanlah dengan sebaik-baiknya. Janganlah disia-siakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika engkau masih berada di usia muda, maka janganlah katakan: jika berusia tua, baru aku akan beramal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daud Ath Tho’i mengatakan, "Sesungguhnya malam dan siang adalah tempat persinggahan manusia sampai dia berada pada akhir perjalanannya. Jika engkau mampu menyediakan bekal di setiap tempat persinggahanmu, maka lakukanlah. Berakhirnya safar boleh jadi dalam waktu dekat. Namun, perkara akhirat lebih segera daripada itu. Persiapkanlah perjalananmu (menuju negeri akhirat). Lakukanlah apa yang ingin kau lakukan. Tetapi ingat, kematian itu datangnya tiba-tiba". (Kam Madho Min ‘Umrika?, Syaikh Abdurrahman As Suhaim)&lt;br /&gt;Semoga maksud kami dalam tulisan ini sama dengan perkataan Nabi Syu’aib,&lt;br /&gt;إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (QS. Hud [11] : 88)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah memperbaiki keadaan segenap pemuda yang membaca risalah ini. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah kepada mereka ke jalan yang lurus. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala wa alihi wa shohbihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu Pagi, 17 Rabi’ul Awwal 1430 H&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel http://rumaysho.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5002548945243865869-8180689039306428497?l=readmoslem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://readmoslem.blogspot.com/feeds/8180689039306428497/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5002548945243865869&amp;postID=8180689039306428497&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/8180689039306428497'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/8180689039306428497'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://readmoslem.blogspot.com/2010/02/masa-muda-waktu-utama-beramal-sholeh.html' title='Masa Muda, Waktu Utama Beramal Sholeh'/><author><name>mencoba menjadi lebih baik...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05732610976505096819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_nHva8Y4lnmg/S1Sbw1CbB0I/AAAAAAAAABo/53TaZ0d4BVs/S220/moslem.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5002548945243865869.post-358606881983904254</id><published>2010-02-10T15:22:00.001-08:00</published><updated>2010-02-18T14:29:24.112-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manajemen Hati'/><title type='text'>Dosa Mengolok2 Ajaran Nabi</title><content type='html'>Segala puji bagi Allah yang telah menetapkan hukum yang sempurna. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seringkali kita saksikan begitu mudahnya sebagian orang mengolok-ngolok saudaranya yang ingin menjalankan syaria't. Ada yang berjenggot kadang diolok-olok dengan kambing dan sebagainya. Ada pula yang mengenakan jilbab atau pun cadar juga dikenakan hal yang sama. Seharusnya setiap muslim tahu bahwa perbuatan seperti ini bukanlah dosa biasa. Simak pembahasan berikut agar mendapat penjelasan. Hanya Allah yang memberi taufik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآَيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ (65) لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman.” (QS. At-Taubah 9: 65-66)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Ibnu Umar, Muhammad bin Ka’ab, Zaid bin Aslam dan Qotadah, hadits dengan rangkuman sebagai berikut. Disebutkan bahwa pada suatu perjalanan perang (yaitu perang Tabuk), ada orang di dalam rombongan tersebut yang berkata, “Kami tidak pernah melihat seperti para ahli baca Al-Qur’an ini (yang dimaksudkan adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya), kecuali sebagai orang yang paling buncit perutnya, yang paling dusta ucapannya dan yang paling pengecut tatkala bertemu dengan musuh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Mendengar hal ini), ‘Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata kepada orang tersebut, “Engkau dusta, kamu ini munafik. Aku akan melaporkan ucapanmu ini kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ‘Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu pun pergi menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun sebelum ‘Auf sampai, wahyu telah turun kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam (tentang peristiwa itu). Kemudian orang yang bersenda gurau dengan menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai bahan candaan itu mendatangi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang saat itu sudah berada di atas untanya. Orang tadi berkata, “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami tadi hanyalah bersenda gurau, kami lakukan itu hanyalah untuk menghilangkan kepenatan dalam perjalanan sebagaimana hal ini dilakukan oleh orang-orang yang berada dalam perjalanan!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Umar (salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berada di dalam rombongan) bercerita, “Sepertinya aku melihat ia berpegangan pada tali pelana unta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedangkan kakinya tersandung-sandung batu sembari mengatakan, “Kami tadi hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya (dengan membacakan firman Allah):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآَيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ (65) لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman.” (QS. At-Taubah 9 : 65-66).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau mengucapkan itu tanpa menoleh orang tersebut dan beliau juga tidak bersabda lebih dari itu.” (HR. Ibnu Jarir Ath Thobariy dan Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Umar dan Syaikh Muqbil dalam Ash-Shohihul Musnad min Asbabin Nuzul mengatakan bahwa sanad Ibnu Abi Hatim hasan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Dinukil dari Imam Syafi’iy bahwa beliau ditanyakan mengenai orang yang bersenda gurau dengan ayat-ayat Allah T’ala. Beliau mengatakan bahwa orang tersebut kafir dan beliau berdalil dengan firman Allah Ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَبِاللَّهِ وَآَيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ (65) لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman.” (QS. At-Taubah 9: 65-66)” -Demikianlah dinukil dari Ash Shorim Al Maslul ‘ala Syatimir Rosul-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat di atas menunjukkan bahwa mengolok-olok Allah, Rasulullah dan ayat-ayat Allah adalah suatu bentuk kekafiran. Dan barang siapa mengolok-olok salah satu dari ketiga hal ini, maka dia juga telah mengolok-olok yang lainnya (semuanya). (Lihat Kitab At Tauhid, Dr. Sholih bin Fauzan bin Abdillah Al Fauzan, hal. 59)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diketahui bahwa mengolok-olok Allah dan agama-Nya ada dua bentuk :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, yang bentuknya jelas dan terang-terangan sebagaimana terdapat dalam kisah turunnya surat At Taubah ayat 65-66.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, yang bentuknya sindiran dan isyarat seperti isyarat mata atau menjulurkan lidah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan termasuk dalam mengolok-olok adalah mengolok-olok orang yang komitmen dengan ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti mengatakan, ‘agama itu bukanlah pada tampilan rambut’. Perkataan ini dimaksudkan untuk mengejek orang-orang yang berjenggot. Atau termasuk juga ucapan-ucapan yang lainnya yang hampir sama. (Lihat Kitab At Tauhid, Dr. Sholih bin Fauzan bin Abdillah Al Fauzan, hal. 62)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini kami akan menukilkan perkataan ulama lainnya untuk mendukung pernyataan di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkataan Pertama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah, seorang ulama besar dan faqih di Saudi Arabia pernah ditanyakan, “Apakah termasuk dalam dua ayat yang disebutkan sebelumnya (yaitu surat At Taubah ayat 65-66 -pen) bagi orang-orang yang mengejek dan mengolok-olok orang yang memelihara jenggot dan yang komitmen dengan agama ini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau rahimahullah menjawab, “Mereka yang mengejek orang yang komitmen dengan agama Allah dan yang menunaikan perintah-Nya, jika mereka mengejek ajaran agama yang mereka laksanakan, maka ini termasuk mengolok-olok mereka dan mengolok-olok syariat (ajaran) Islam. Dan mengolok-olok syariat ini termasuk kekafiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun jika mereka mengolok-olok orangnya secara langsung (tanpa melihat pada ajaran agama yang dilakukannya baik itu pakaian atau jenggot), maka semacam ini tidaklah kafir. Karena seseorang bisa saja mengolok-olok orang tersebut atau perbuatannya. Namun setiap orang seharusnya berhati-hati, jangan sampai dia mengolok-olok para ulama atau orang-orang yang komitmen dengan Kitabullah dan Sunnah (petunjuk) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Lihat Fatawal Aqidah wa Arkanil Islam, Darul ‘Aqidah, hal. 120)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkataan Kedua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah, pernah menjabat ketua Lajnah Da’imah (semacam Komite Fatwa MUI) dan juga pakar hadits, pernah ditanyakan, “Saat ini banyak di tengah masyarakat muslim yang mengolok-olok syariat-syariat agama yang nampak seperti memelihara jenggot, menaikkan celana di atas mata kaki, dan selainnya. Apakah hal ini termasuk mengolok-olok agama yang membuat seseorang keluar dari Islam? Bagaimana nasihatmu terhadap orang yang terjatuh dalam perbuatan seperti ini? Semoga Allah memberi kepahaman padamu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh rahimahullah menjawab, “Tidak diragukan lagi bahwa mengolok-olok Allah, Rasul-Nya, ayat-ayat-Nya dan syariat-Nya termasuk dalam kekafiran sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُلْ أَبِاللَّهِ وَآَيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ (65) لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman.” (QS. At-Taubah 9: 65-66)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk dalam hal ini adalah mengolok-olok masalah tauhid, shalat, zakat, puasa, haji atau berbagai macam hukum dalam agama ini yang telah disepakati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun mengolok-olok orang yang memelihara (memanjangkan) jenggot, yang menaikkan celana di atas mata kaki (tidak isbal) atau semacamnya yang hukumnya masih samar, maka ini perlu diperinci lagi. Tetapi setiap orang wajib berhati-hati melakukan perbuatan semacam ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami menasihati kepada orang-orang yang melakukan perbuatan olok-olok seperti ini untuk segera bertaubat kepada Allah dan hendaklah komitmen dengan syariat-Nya. Kami menasihati untuk berhati-hati melakukan perbuatan mengolok-olok orang yang berpegang teguh dengan syariat ini dalam rangka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Hendaklah seseorang takut akan murka dan azab (siksaan) Allah serta takut akan murtad dari agama ini sedangkan dia tidak menyadarinya. Kami memohon kepada Allah agar kami dan kaum muslimin sekalian mendapatkan maaf atas segala kejelakan dan Allah-lah sebaik-baik tempat meminta. Wallahu waliyyut taufiq. (Lihat Kayfa Nuhaqqiqut Tauhid, Madarul Wathon Linnashr, hal.61-62)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkataan ketiga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fatwa Al Lajnah Ad Da’imah Lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’ (komisi fatwa di Saudi Arabia) no. 4127 tentang mengolok-olok hijab (jilbab) muslimah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa hukum orang yang mengolok-olok wanita yang memakai hijab (jilbab) syar’i dengan menjuluki bahwa wanita semacam itu adalah ifrit (setan) atau dijuluki ‘kemah yang bergerak’ atau ucapan olok-olok lainnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barang siapa mengejek muslimah atau seorang muslim yang berpegang teguh dengan syariat Islam maka dia kafir. Baik mengejek tersebut terhadap hijab (jilbab) muslimah yang menutupi dirinya sesuai tuntunan syariat atau boleh jadi dalam masalah lainnya. Hal ini dikarenakan terdapat riwayat dari Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma. Beliau berkata, “Seorang laki-laki ketika perang Tabuk berkata di suatu majelis (kumpulan) : Aku tidak pernah melihat semisal ahli baca al-Qur’an (yang dimaksudkan adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya, pen) yang paling perutnya buncit, sering berdusta dengan lisannya, dan paling takut (pengecut) ketika bertemu musuh.” Lalu ada seseorang yang berkata :’Engkau dusta. Engkau adalah munafik. Sungguh, aku akan melaporkan hal ini kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian berita ini sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan turunlah ayat mengenai mereka. Lalu Abdullah bin ‘Umar berkata, “Sepertinya aku melihat ia berpegangan pada tali pelana unta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu kakinya tersandung batu sembari berkata, ‘Wahai Rasulullah, kami tadi hanyalah bersendau gurau dan bermain-main saja.’ Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan (dengan membawakan ayat yang turun tadi, pen), “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman. Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” (QS. At Taubah 9: 65-66)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dalam ayat di atas) Allah menjadikan ejekan kepada orang mukmin adalah ejekan kepada Allah, ayat-Nya dan Rasul-Nya. Semoga Allah memberi taufik. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya serta shahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Lajnah Ad Da’imah Lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggota: Abdullah bin Qu’ud, Abdullah bin Ghodayan&lt;br /&gt;Wakil Ketua: Abdur Rozaq Afifi&lt;br /&gt;Ketua: Abdul ‘Aziz bin Abdillah bin Baz&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera Bertaubat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah diketahui bahwa bentuk mengolok-olok atau mengejek orang yang berkomitmen dengan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk kekafiran, maka seseorang hendaknya menjauhinya. Dan jika telah terjatuh dalam perbuatan semacam ini hendaknya segera bertaubat. Semoga firman Allah Ta’ala berikut bisa menjadi pelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’.” (QS. Az Zumar 39: 53)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seseorang bertaubat dari berbagai macam dosa termasuk berbagai hal yang dapat mengeluarkannya dari Islam dan dia melakukan hal ini dengan memenuhi syarat-syaratnya, maka taubatnya tersebut akan diterima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun syarat taubat adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Taubat dilakukan dengan ikhlas dan bukan riya’ atau sum’ah (ingin dipuji orang lain).&lt;br /&gt;   2. Menyesal dengan dosa yang telah dilakukan.&lt;br /&gt;   3. Tidak terus-menerus dalam dosa. Jika meninggalkan yang wajib, segeralah melaksanakannya dan jika melakukan sesuatu yang haram, segeralah meninggalkannya.&lt;br /&gt;   4. Bertekad untuk tidak mengulangi dosa tersebut di waktu akan datang.&lt;br /&gt;   5. Taubat tersebut dilakukan pada saat waktu diterimanya taubat yaitu sebelum kematian datang dan sebelum matahari terbit dari sebelah barat. (Lihat pembahasan syarat Taubat di Syarh Riyadhus Sholihin, Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga kita menjadi hamba Allah yang bertaubat dan hamba Allah yang disucikan. Amin Ya Mujibad Da’awat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel http://rumaysho.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan satu tahun silam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5002548945243865869-358606881983904254?l=readmoslem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://readmoslem.blogspot.com/feeds/358606881983904254/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5002548945243865869&amp;postID=358606881983904254&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/358606881983904254'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/358606881983904254'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://readmoslem.blogspot.com/2010/02/dosa-mengolok2-ajaran-nabi.html' title='Dosa Mengolok2 Ajaran Nabi'/><author><name>mencoba menjadi lebih baik...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05732610976505096819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_nHva8Y4lnmg/S1Sbw1CbB0I/AAAAAAAAABo/53TaZ0d4BVs/S220/moslem.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5002548945243865869.post-3457573697783794420</id><published>2010-02-08T15:18:00.000-08:00</published><updated>2010-02-21T16:59:50.825-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manajemen Hati'/><title type='text'>Keutamaan Berdzikir Sendirian</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Keutamaan Berdzikir Sendirian&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya: Zuhair bin Harb menuturkan kepadaku demikian juga Muhammad bin al-Mutsanna. Mereka semua menuturkan dari Yahya al-Qaththan. Zuhair mengatakan, Yahya bin Sa’id menuturkan kepada kami dari Ubaidillah. Dia berkata, Khubaib bin Abdurrahman mengabarkan kepadaku dari Hafsh bin ‘Ashim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari di saat tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. (1) Seorang pemimpin yang adil, (2) Seorang pemuda yang tumbuh dalam ketekunan beribadah kepada Allah, (3) Seorang lelaki yang hatinya selalu bergantung di masjid, (4) Dua orang lelaki yang saling mencintai karena Allah, bertemu dan berpisah karena-Nya, (5) Seorang lelaki yang diajak berzina oleh seorang perempuan cantik lagi berkedudukan namun mengatakan, ‘Aku merasa takut kepada Allah’, (6) Seorang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi sampai-sampai tangan kanannya tidak mengerti apa yang diinfakkan oleh tangan kirinya (terbalik, seharusnya ’sampai-sampai tangan kirinya tidak mengerti apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya’, pent), (7) Dan juga seorang yang mengingat Allah di saat sendirian hingga kedua matanya mengalirkan air mata.” (Hadits ini juga diriwayatkan oleh Bukhari dalam Kitab az-Zakah dengan judul bab ‘Shadaqah dengan tangan kanan’. Diterjemahkan secara bebas dari as-Shahih al-Musnad min Adzkar al-Yaum wa al-Lailah, Syaikh Musthofa al-Adawi, hal. 12-13)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini mengandung banyak pelajaran berharga, di antaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Penetapan adanya hari kiamat.&lt;br /&gt;   2. Penetapan adanya pembalasan amal.&lt;br /&gt;   3. Dahsyatnya peristiwa di hari kiamat.&lt;br /&gt;   4. Betapa lemahnya manusia di hadapan Allah ta’ala.&lt;br /&gt;   5. Kecintaan Allah kepada orang-orang yang taat kepada-Nya.&lt;br /&gt;   6. Yang dimaksud dengan naungan Allah di sini adalah naungan Arsy-Nya sebagaimana disebutkan dalam hadits lainnya yang disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari.&lt;br /&gt;   7. Allah mencintai keadilan dan membenci kezaliman.&lt;br /&gt;   8. Perintah untuk menegakkan keadilan.&lt;br /&gt;   9. Keutamaan pemimpin yang adil.&lt;br /&gt;  10. Beratnya cobaan dan godaan yang menimpa seorang pemimpin.&lt;br /&gt;  11. Keutamaan pemuda yang tekun beribadah kepada Allah.&lt;br /&gt;  12. Beratnya cobaan dan godaan yang dialami para pemuda, dan perintah kepada para orang tua agar membina generasi muda untuk gemar taat beribadah kepada Rabbnya.&lt;br /&gt;  13. Keutamaan lelaki yang hatinya bergantung di masjid.&lt;br /&gt;  14. Keutamaan masjid.&lt;br /&gt;  15. Cinta dan benci karena Allah.&lt;br /&gt;  16. Beramal karena Allah.&lt;br /&gt;  17. Dahsyatnya godaan wanita.&lt;br /&gt;  18. Jalan ke Surga diliputi oleh hal-hal yang tidak menyenangkan, sedangkan jalan menuju Neraka diliputi hal-hal yang disukai oleh hawa nafsu manusia.&lt;br /&gt;  19. Kewajiban menjauhkan diri dari zina.&lt;br /&gt;  20. Keutamaan rasa takut kepada Allah dan ia merupakan bukti kekuatan iman.&lt;br /&gt;  21. Keutamaan bersedekah, terlebih lagi dengan sembunyi-sembunyi.&lt;br /&gt;  22. Bersedekah dengan tangan kanan.&lt;br /&gt;  23. Keutamaan berdzikir kepada Allah, terlebih apabila sendirian.&lt;br /&gt;  24. Dorongan untuk ikhlas dalam beramal.&lt;br /&gt;  25. Keutamaan menangis karena Allah.&lt;br /&gt;  26. Iman mencakup ucapan, perbuatan, dan keyakinan, bisa bertambah dan berkurang.&lt;br /&gt;  27. Baiknya amal lahir tergantung pada amal hati.&lt;br /&gt;  28. Semakin sulit keadaan seseorang untuk taat kepada Allah namun dia tetap taat kepada-Nya maka balasan dari sisi Allah juga akan semakin besar.&lt;br /&gt;  29. Penetapan kehendak pada diri Allah.&lt;br /&gt;  30. Penetapan kehendak pada diri makhluk, ini adalah bantahan bagi Jabriyah (kelompok yang mengatakan bahwa seorang hamba dipaksa dalam melakukan perbuatan dan tidak ada hak untuk memilih, tidak ada kekuatan, serta tidak ada kehendak baginya -ed).&lt;br /&gt;  31. Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah maka Allah akan menggantikannya dengan sesuatu yang lebih baik. Dan lain sebagainya yang belum kami ketahui, wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi&lt;br /&gt;Artikel www.muslim.or.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5002548945243865869-3457573697783794420?l=readmoslem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://readmoslem.blogspot.com/feeds/3457573697783794420/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5002548945243865869&amp;postID=3457573697783794420&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/3457573697783794420'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/3457573697783794420'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://readmoslem.blogspot.com/2010/02/keutamaan-berdzikir-sendirian.html' title='Keutamaan Berdzikir Sendirian'/><author><name>mencoba menjadi lebih baik...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05732610976505096819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_nHva8Y4lnmg/S1Sbw1CbB0I/AAAAAAAAABo/53TaZ0d4BVs/S220/moslem.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5002548945243865869.post-370271172396462157</id><published>2010-02-08T05:28:00.000-08:00</published><updated>2010-02-22T21:53:44.033-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hati dan Akidah'/><title type='text'>Syirik Yang Sering DiUcapkan</title><content type='html'>”Janganlah engkau menjadikan si fulan (sebagai sekutu bagi Allah, pen)  dalam ucapan-ucapan tersebut. Semua ucapan ini adalah perbuatan SYIRIK.” (HR. Ibnu Abi Hatim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum muslimin yang semoga selalu mendapatkan taufiq Allah Ta’ala. Kita semua telah mengetahui bahwa Allah adalah satu-satunya Rabb (Tuhan) alam semesta, Yang menciptakan kita dan orang-orang sebelum kita, Yang menjadikan bumi sebagai hamparan untuk kita mencari nafkah, dan Yang menurunkan hujan untuk menyuburkan tanaman sebagai rizki bagi kita. Setelah kita mengetahui demikian, hendaklah kita hanya beribadah kepada Allah semata dan tidak menjadikan bagi-Nya tandingan/sekutu dalam beribadah. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (Al Baqarah [2]: 22)&lt;br /&gt;Lebih samar dari jejak semut di atas batu hitam di tengah kegelapan malam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma –yang sangat luas dan mendalam ilmunya- menafsirkan ayat di atas dengan mengatakan,”Yang dimaksud membuat sekutu bagi Allah (dalam ayat di atas, pen) adalah berbuat syirik. Syirik adalah suatu perbuatan dosa yang lebih sulit (sangat samar) untuk dikenali  daripada jejak semut yang merayap di atas batu hitam di tengah kegelapan malam.”&lt;br /&gt;Kemudian Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma mencontohkan perbuatan syirik yang samar tersebut seperti, ‘Demi Allah dan demi hidupmu wahai fulan’, ‘Demi hidupku’ atau ‘Kalau bukan karena anjing kecil orang ini, tentu kita didatangi pencuri-pencuri itu’ atau ‘Kalau bukan karena angsa yang ada di rumah ini tentu datanglah pencuri-pencuri itu’, dan ucapan seseorang kepada kawannya ‘Atas kehendak Allah dan kehendakmu’, juga ucapan seseorang ‘Kalau bukan karena Allah dan karena fulan’.&lt;br /&gt;Akhirnya beliau radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, ”Janganlah engkau menjadikan si fulan (sebagai sekutu bagi Allah, pen)  dalam ucapan-ucapan tersebut. Semua ucapan ini adalah perbuatan SYIRIK.” (HR. Ibnu Abi Hatim) (Lihat Kitab Tauhid, Syaikh Muhammad At Tamimi)&lt;br /&gt;Itulah syirik. Ada sebagian yang telah diketahui dengan jelas seperti menyembelih, bernadzar, berdo’a, meminta dihilangkan musibah (istighotsah) kepada selain Allah. Dan terdapat pula bentuk syirik (seperti dikatakan Ibnu Abbas di atas) yang sangat sulit dikenali (sangat samar). Syirik seperti ini ada 2 macam. Pertama, syirik dalam niat dan tujuan. Ini termasuk perbuatan yang samar karena niat terdapat dalam hati dan yang mengetahuinya hanya Allah Ta’ala. Seperti seseorang yang shalat dalam keadaan ingin dilihat (riya’) atau didengar (sum’ah) orang lain. Tidak ada yang mengetahui perbuatan seperti ini kecuali Allah Ta’ala.&lt;br /&gt;Kedua, syirik yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Syirik seperti ini adalah seperti syirik dalam ucapan (selain perkara i’tiqod/keyakinan). Syirik semacam inilah yang akan dibahas pada kesempatan kali ini. Karena kesamarannya lebih dari jejak semut yang merayap di atas batu hitam di tengah kegelapan malam. Oleh karena itu, sedikit sekali yang mengetahui syirik seperti ini secara jelas. (Lihat I’anatul Mustafid bisyarh Kitabut Tauhid, hal. 158, Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan)&lt;br /&gt;Berikut ini akan disebutkan beberapa contoh syirik yang masih samar, dianggap remeh, dan sering diucapkan dengan lisan oleh manusia saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencela Makhluk yang Tidak Dapat Berbuat Apa-apa&lt;br /&gt;Perbuatan seperti ini banyak dilakukan oleh kebanyakan manusia saat ini –barangkali juga kita-. Lidah ini begitu mudahnya mencela makhluk yang tidak mampu berbuat sedikit pun, seperti di antara kita sering mencela waktu, angin, atau pun hujan. Misalnya dengan mengatakan, ‘Bencana ini bisa terjadi karena bulan ini adalah bulan Suro’ atau mengatakan ‘Sialan! Gara-gara angin ribut ini, kita gagal panen’ atau dengan mengatakan pula, ‘Aduh!! hujan lagi, hujan lagi’.&lt;br /&gt;Lidah ini begitu mudah mengucapkan perkataan seperti itu. Padahal makhluk yang kita cela tersebut tidak mampu berbuat apa-apa kecuali atas kehendak Allah. Mencaci mereka pada dasarnya telah mencaci, mengganggu dan menyakiti yang telah menciptakan dan mengatur mereka yaitu Allah Ta’ala.&lt;br /&gt;Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Allah Ta'ala berfirman, ‘Manusia menyakiti Aku; dia mencaci maki masa (waktu), padahal Aku adalah pemilik dan pengatur masa, Aku-lah yang mengatur malam dan siang menjadi silih berganti.’ ” (HR. Bukhari dan Muslim). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,”Janganlah kamu mencaci maki angin.” (HR. Tirmidzi, beliau mengatakan hasan shohih)&lt;br /&gt;Dari dalil-dalil ini terlihat bahwa mencaci maki masa (waktu), angin dan makhluk lain yang tidak dapat berbuat apa-apa adalah terlarang. Larangan ini bisa termasuk syirik akbar (syirik yang mengeluarkan seseorang dari Islam) jika diyakini makhluk tersebut sebagai pelaku dari sesuatu yang jelek yang terjadi. Meyakini demikian berarti meyakini bahwa makhluk tersebut yang menjadikan baik dan buruk dan ini sama saja dengan menyatakan ada pencipta selain Allah. Namun, jika diyakini yang menakdirkan adalah Allah sedangkan makhluk-makhluk tersebut bukan pelaku dan hanya sebagai sebab saja, maka seperti ini termasuk keharaman, tidak sampai derajat syirik. Dan apabila yang dimaksudkan cuma sekedar pemberitaan, -seperti mengatakan,’Hari ini sangat panas sekali, sehingga kita menjadi capek’-, tanpa tujuan mencela sama sekali maka seperti ini tidaklah mengapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersumpah dengan menyebut Nama selain Allah&lt;br /&gt;Bersumpah dengan nama selain Allah juga sering diucapkan oleh orang-orang saat ini, seperti ucapan, ‘Demi Nyi Roro Kidul’ atau ‘Aku bersumpah dengan nama ...’. Semua perkataan seperti ini diharamkan bahkan termasuk syirik. Karena hal tersebut menunjukkan bahwa dalam hatinya mengagungkan selain Allah kemudian digunakan untuk bersumpah. Padahal pengagungan seperti ini hanya boleh diperuntukkan kepada Allah Ta’ala semata. Barangsiapa mengagungkan selain Allah Ta’ala dengan suatu pengagungan yang hanya layak diperuntukkan kepada Allah Ta’ala, maka dia telah terjatuh dalam syirik akbar (syirik yang mengeluarkan seseorang dari Islam). Namun, apabila orang yang bersumpah tersebut tidak meyakini keagungan sesuatu yang dijadikan sumpahnya tersebut sebagaimana keagungan Allah Ta’ala, maka dia telah terjatuh dalam syirik ashgor (syirik kecil yang lebih besar dari dosa besar).&lt;br /&gt;Berhati-hatilah dengan bersumpah seperti ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda yang artinya,”Barangsiapa bersumpah dengan nama selain Allah, maka ia telah berbuat kekafiran atau kesyirikan.” (HR. Tirmidzi dan Hakim dishahihkan Syaikh Al Albani dalam Shohihul Jaami’)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyandarkan nikmat kepada selain Allah&lt;br /&gt;Perbuatan ini juga dianggap sepele oleh kebanyakan orang saat ini. Padahal menyandarkan nikmat kepada selain Allah termasuk syirik dan kekufuran kepada-Nya. Allah Ta’ala mengatakan tentang orang yang mengingkari nikmat Allah dalam firman-Nya yang artinya,”Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir.” (An Nahl: 83)&lt;br /&gt;Menurut salah satu penafsiran ayat ini : ‘Mereka mengenal berbagai nikmat Allah (yaitu semua nikmat yang disebutkan dalam surat An Nahl) dengan hati mereka, namun lisan mereka menyandarkan berbagai nikmat tersebut kepada selain Allah. Atau mereka mengatakan nikmat tersebut berasal dari Allah, akan tetapi hati mereka menyandarkannya kepada selain Allah’.&lt;br /&gt;Menyandarkan nikmat kepada selain Allah termasuk syirik karena orang yang menyadarkan nikmat kepada selain Allah berarti telah menyatakan bahwa selain Allah-lah yang telah memberikan nikmat (ini termasuk syirik dalam tauhid rububiyah). Dan ini juga berarti dia telah meninggalkan ibadah syukur. Meninggalkan syukur berarti telah menafikan (meniadakan) tauhid. Setiap hamba mempunyai kewajiban untuk bersyukur atas nikmat yang telah Allah berikan.&lt;br /&gt;Contoh dari hal ini adalah mengatakan ‘Rumah ini adalah warisan dari ayahku’. Jika memang cuma sekedar berita tanpa melupakan Sang Pemberi Nikmat yaitu Allah, maka perkataan ini tidaklah mengapa. Namun, yang dimaksudkan termasuk syirik di sini adalah jika dia mengatakan demikian dan melupakan Sang Pemberi Nikmat yaitu Allah Ta’ala.&lt;br /&gt;Marilah kita berusaha tatkala mendapatkan nikmat, selalu bersyukur pada Allah dengan memenuhi 3 rukun syukur, yaitu: [1] Mensykuri nikmat tersebut dengan lisan, [2] Mengakui nikmat tersebut berasal dari Allah dengan hati, dan [3] Berusaha menggunakan nikmat tersebut dengan melakukan ketaatan kepada Allah.  (Lihat I’anatul Mustafid, hal. 148-149 dan Al Qoulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid, II/93)&lt;br /&gt;Perbaikilah Diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jarang sekali manusia mengetahui bahwa hal-hal di atas termasuk kesyirikan dan kebanyakan orang selalu menyepelekan hal ini dengan sering mengucapkannya . Padahal Allah Ta’ala telah berfirman yang artinya,”Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni dosa yang berada di bawah syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. (QS. An Nisa [4]: 116).&lt;br /&gt;Oleh karena itu, sangat penting sekali bagi kita untuk mempelajari aqidah di mana perkara ini sering dilalaikan dan jarang dipelajari oleh kebanyakan manusia. Aqidah adalah poros dari seluruh perkara agama. Jika aqidah telah benar, maka perkara lainnya juga akan benar. Jika aqidah rusak, maka perkara lainnya juga akan rusak.&lt;br /&gt;Hendaknya pula kita memperbaiki diri dengan selalu memikirkan terlebih dahulu apa yang kita hendak ucapkan. Ingatlah sabda Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam,”Boleh jadi seseorang mengucapkan suatu kata yang diridhai Allah namun tidak ia sadari, sehingga karena ucapannya ini Allah mengangkat derajatnya. Namun boleh jadi seseorang mengucapkan suatu kata yang dimurkai Allah dan tidak ia sadari, sehingga karena ucapannya ini Allah memasukkannya dalam neraka.” (HR. Bukhari)&lt;br /&gt;Jika kita sudah terlanjur melakukan syirik yang samar ini, maka leburlah dengan do’a yang pernah diucapkan Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam: ’Allahumma inni a’udzubika an usyrika bika sya’an wa ana a’lamu wa astaghfiruka minadz dzanbilladzi laa a’lamu’ (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan menyukutakan-Mu dengan sesuatu padahal aku mengetahuinya. Aku juga memohon ampunan kepada-Mu dari kesyirikan yang tidak aku sadari) (HR. Ahmad).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel http://rumaysho.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5002548945243865869-370271172396462157?l=readmoslem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://readmoslem.blogspot.com/feeds/370271172396462157/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5002548945243865869&amp;postID=370271172396462157&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/370271172396462157'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/370271172396462157'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://readmoslem.blogspot.com/2010/02/syirik-yang-sering-diucapkan.html' title='Syirik Yang Sering DiUcapkan'/><author><name>mencoba menjadi lebih baik...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05732610976505096819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_nHva8Y4lnmg/S1Sbw1CbB0I/AAAAAAAAABo/53TaZ0d4BVs/S220/moslem.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5002548945243865869.post-4670063237622159952</id><published>2010-02-05T19:21:00.000-08:00</published><updated>2010-02-16T08:29:58.574-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manajemen Hati'/><title type='text'>Sebab Bertambah dan Berkurangnya Iman..</title><content type='html'>Setelah kita mengetahui iman itu bertambah dan berkurang, maka mengenal sebab-sebab bertambah dan berkurangnya iman memiliki manfaat dan menjadi sangat penting sekali. Sudah sepantasnya seorang muslim mengenal kemudian menerapkan dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, agar bertambah sempurna dan kuat imannya. Juga untuk menjauhkan diri dari lawannya yang menjadi sebab berkurangnya iman sehingga dapat menjaga diri dan selamat didunia dan akherat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syeikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menerangkan bahwa seorang hamba yang mendapatkan taufiq dari Allah Ta’ala selalu berusaha melakukan dua perkara:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Merealisasikan iman dan cabang-cabangnya serta menerapkannya baik secara ilmu dan amal secara bersama-sama.&lt;br /&gt;   2. Berusaha menolak semua yang menentang dan menghapus iman atau menguranginya dari fitnah-fitnah yang nampak maupun yang tersembunyi, mengobati kekurangan dari awal dan mengobati yang seterusnya dengan taubat nasuha serta mengetahui satu perkara sebelum hilang.[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mewujudkan iman dan mengokohkannya dilakukan dengan mengenal sebab-sebab bertambahnya iman dan melaksanakannya. Sedangkan berusaha menolak semua yang menghapus dan menentangnya dilakukan dengan mengenal sebab-sebab berkurangnya iman dan berhati-hati dari terjerumus di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab-sebab Bertambahnya Iman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Belajar ilmu yang bermanfaat yang bersumber dari al-Qur`aan dan as Sunnah. Hal ini menjadi sebab pertambahan iman yang terpenting dan bermanfaat karena ilmu menjadi sarana beribadah kepada Allah Ta’ala dan mewujudkan tauhid dengan benar dan pas. Pertambahan iman yang didapatkan dari ilmu bisa terjadi dari beraneka ragam sisi, di antaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Sisi keluarnya ahli ilmu dalam mencari ilmu&lt;br /&gt;   2. Duduknya mereka dalam halaqah ilmu&lt;br /&gt;   3. Mudzakarah (diskusi) di antara mereka dalam masalah ilmu&lt;br /&gt;   4. Penambahan pengetahuan terhadap Allah dan syari’at-Nya&lt;br /&gt;   5. Penerapan ilmu yang telah mereka pelajari&lt;br /&gt;   6. Tambahan pahala dari orang yang belajar dari mereka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Merenungi ayat-ayat kauniyah. Merenungi dan meneliti keadaan dan keberadaan makhluk-makhluk Allah Ta’ala yang beraneka ragam dan menakjubkan merupakan faktor pendorong yang sangat kuat untuk beriman dan mengokohkan iman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syeikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menyatakan, “Di antara sebab dan faktor pendorong keimanan adalah tafakur kepada alam semesta berupa penciptaan langit dan bumi serta makhluk-makhuk penghuninya dan meneliti diri manusia itu sendiri beserta sifat-sifat yang dimiliki. Ini semua adalah faktor pendorong yang kuat untuk meningkatkan iman”.[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga: Berusaha sungguh-sungguh melaksanakan amalan shalih dengan ikhlas, memperbanyak dan mensinambungkannya. Hal ini karena semua amalan syariat yang dilaksanakan dengan ikhlas akan menambah iman. Karena iman bertambah dengan pertambahan amalan ketaatan dan banyaknya ibadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah pernah menuturkan, “Di antara sebab pertambahan iman adalah melakukan ketaatan. Sebab iman akan bertambah sesuai dengan bagusnya pelaksanaan, jenis dan banyaknya amalan. Semakin baik amalan, semakin besar penambahan iman dan bagusnya pelasanaan ada dengan sebab ikhlas dan mutaba’ah (mencontohi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Sedangkan jenis amalan, maka yang wajib lebih utama dari yang sunnah dan sebagian amal ketaatan lebih ditekankan dan utama dari yang lainnya. Semakin utama ketaatan tersebut maka semakin besar juga penambahan imannya. Adapun banyak (kwantitas) amalan, maka akan menambah keimanan, sebab amalan termasuk bagian iman. Sehingga pasti iman bertambah dengan bertambahnya amalan.”[3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab-sebab Berkurangnya Iman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab-sebab berkurangnya iman ada yang berasal dari dalam diri manusia sendiri (faktor internal) dan ada yang berasal dari luar (faktor eksternal).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor internal berkurangnya iman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Kebodohan. Ini adalah sebab terbesar berkurangnya iman, sebagaimana ilmu adalah sebab terbesar bertambahnya iman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Kelalaian, sikap berpaling dari kebenaran dan lupa. Tiga perkara ini adalah salah satu sebab penting berkurangnya iman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga: Perbuatan maksiat dan dosa. Jelas kemaksiatan dan dosa sangat merugikan dan memiliki pengaruh jelek terhadap iman. Sebagaimana pelaksanaan perintah Allah Ta’ala menambah iman, demikian juga pelanggaran atas larangan Allah Ta’ala mengurangi iman. Namun tentunya dosa dan kemaksiatan bertingkat-tingkat derajat, kerusakan dan kerugian yang ditimbulkannya, sebagaimana disampaikan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah dalam ungkapan beliau, “Sudah pasti kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan bertingkat-tingkat sebagaimana iman dan amal shalih pun bertingkat-tingkat”.[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat: Nafsu yang mengajak kepada keburukan (an-nafsu ammaratu bissu’). Inilah nafsu yang ada pada manusia dan tercela. Nafsu ini mengajak kepada keburukan dan kebinasaan, sebagaimana Allah Ta’ala jelaskan dalam menceritakan istri al-Aziz ,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.” (Qs Yusuf: 53)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nafsu ini menyeret manusia kepada kemaksiatan dan kehancuran iman, sehingga wajib bagi kita berlindung kepada Allah Ta’ala darinya dan berusaha bermuhasabah sebelum beramal dan setelahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor eksternal berkurangnya iman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Syeitan musuh abadi manusia yang merupakan satu sebab penting eksternal yang mempengaruhi iman dan mengurangi kekokohannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Dunia dan fitnah (godaan)nya.  Menyibukkan diri dengan dunia dan perhiasannya termasuk sebab yang dapat mengurangi iman. Sebab semakin semangat manusia memiliki dunia dan semakin menginginkannya, maka semakin memberatkan dirinya berbuat ketaatan dan mencari kebahagian akherat, sebagaiman dituturkan Imam Ibnul Qayyim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga: Teman bergaul yang jelek. Teman yang jelek dan jahat menjadi sesuatu yang sangat berbahaya terhadap keimanan, akhlak dan agamanya. Karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan kita dari hal ini dalam sabda beliau,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seorang itu berada di atas agama kekasihnya (teman dekatnya), maka hendaknya salah seorang kalian melihat siapa yang menjadi kekasihnya.”[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah perkara yang harus diperhatikan dalam iman, mudah-mudahan hal ini dapat menggerakkan kita untuk lebih mengokohkan iman  dan menyempurnakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wabillahi taufiq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel www.muslim.or.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5002548945243865869-4670063237622159952?l=readmoslem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://readmoslem.blogspot.com/feeds/4670063237622159952/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5002548945243865869&amp;postID=4670063237622159952&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/4670063237622159952'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/4670063237622159952'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://readmoslem.blogspot.com/2010/02/sebab-bertambah-dan-berkurangnya-iman.html' title='Sebab Bertambah dan Berkurangnya Iman..'/><author><name>mencoba menjadi lebih baik...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05732610976505096819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_nHva8Y4lnmg/S1Sbw1CbB0I/AAAAAAAAABo/53TaZ0d4BVs/S220/moslem.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5002548945243865869.post-5385690625786178980</id><published>2010-02-04T06:03:00.001-08:00</published><updated>2010-02-16T08:25:31.676-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sholat'/><title type='text'>Mari Sholat Jamaah..!</title><content type='html'>Diposting oleh admin ⋅ 11 June 2009 ⋅ Kirim buletin ini Kirim buletin ini ⋅ Cetak buletin ini Cetak buletin ini ⋅ Kirim komentar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;At Tauhid edisi V/24&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku, yang semoga diberi taufik oleh Allah Ta’ala. Saat ini kita lihat di mana masjid-masjid kaum muslimin tampak megah dan indah dengan berbagai hiasan dan aksesoris di dalamnya. Namun sangat-sangat disayangkan masjid-masjid tersebut sering kosong dari jama’ah. Ini sungguh sangat mengherankan. Kita kadang melihat masjid yang megah dan besar hanya dipenuhi satu shaf padahal jumlah kaum muslimin di sekitar masjid itu amat banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlatar belakang inilah, dalam risalah yang ringkas ini kami berusaha mendorong setiap orang yang membaca tulisan ini untuk melakukan shalat yang memiliki banyak keutamaan yaitu shalat berjama’ah. Semoga Allah selalu memberi hidayah dan taufik kepada kita sekalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalat Jama’ah Memiliki Pahala yang Berlipat daripada Shalat Sendirian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلاَةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Shalat jama’ah lebih utama daripada shalat sendirian sebanyak 27 derajat.” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Sa’id Al Khudri, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الصَّلاَةُ فِى جَمَاعَةٍ تَعْدِلُ خَمْسًا وَعِشْرِينَ صَلاَةً فَإِذَا صَلاَّهَا فِى فَلاَةٍ فَأَتَمَّ رُكُوعَهَا وَسُجُودَهَا بَلَغَتْ خَمْسِينَ صَلاَةً&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Shalat jama’ah itu senilai dengan 25 shalat. Jika seseorang mengerjakan shalat ketika dia bersafar, lalu dia menyempurnakan ruku’ dan sujudnya, maka shalatnya tersebut bisa mencapai pahala 50 shalat.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Baththol rahimahullah mengatakan, “Kadang keutamaan shalat jama’ah disebutkan sebanyak 27 derajat, kadang pula disebut 25 kali lipat, dan kadang juga disebut 25 bagian. Ini semua menunjukkan berlipatnya pahala shalat jama’ah dibanding dengan shalat sendirian dengan kelipatan sebagaimana yang disebutkan.” (Syarh Shohih Al Bukhari li Ibni Baththol, 2/271, Maktabah Ar Rusyd)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan Shalat Jama’ah Akan Mendapat Pengampunan Dosa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ‘Utsman bin ‘Affan, beliau berkata bahwa saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ تَوَضَّأَ لِلصَّلاَةِ فَأَسْبَغَ الْوُضُوءَ ثُمَّ مَشَى إِلَى الصَّلاَةِ الْمَكْتُوبَةِ فَصَلاَّهَا مَعَ النَّاسِ أَوْ مَعَ الْجَمَاعَةِ أَوْ فِى الْمَسْجِدِ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ ذُنُوبَهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa berwudhu untuk shalat, lalu dia menyempurnakan wudhunya, kemudian dia berjalan untuk menunaikan shalat wajib yaitu dia melaksanakan shalat bersama manusia atau bersama jama’ah atau melaksanakan shalat di masjid, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan Setiap Langkah Menuju Masjid dan Menunggu Shalat Jama’ah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;صَلاَةُ الرَّجُلِ فِى جَمَاعَةٍ تَزِيدُ عَلَى صَلاَتِهِ فِى بَيْتِهِ وَصَلاَتِهِ فِى سُوقِهِ بِضْعًا وَعِشْرِينَ دَرَجَةً وَذَلِكَ أَنَّ أَحَدَهُمْ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْمَسْجِدَ لاَ يَنْهَزُهُ إِلاَّ الصَّلاَةُ لاَ يُرِيدُ إِلاَّ الصَّلاَةَ فَلَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إِلاَّ رُفِعَ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ حَتَّى يَدْخُلَ الْمَسْجِدَ فَإِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ كَانَ فِى الصَّلاَةِ مَا كَانَتِ الصَّلاَةُ هِىَ تَحْبِسُهُ وَالْمَلاَئِكَةُ يُصَلُّونَ عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِى مَجْلِسِهِ الَّذِى صَلَّى فِيهِ يَقُولُونَ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ تُبْ عَلَيْهِ مَا لَمْ يُؤْذِ فِيهِ مَا لَمْ يُحْدِثْ فِيهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Shalat seseorang dalam jama’ah memiliki nilai lebih 20 sekian derajat daripada shalat seseorang di rumahnya, juga melebihi shalatnya di pasar. Oleh karena itu, jika salah seorang di antara mereka berwudhu, lalu menyempurnakan wudhunya, kemudian mendatangi masjid, tidaklah mendorong melakukan hal ini selain untuk melaksanakan shalat; maka salah satu langkahnya akan meninggikan derajatnya, sedangkan langkah lainnya akan menghapuskan kesalahannya. Ganjaran ini semua diperoleh sampai dia memasuki masjid. Jika dia memasuki masjid, dia berarti dalam keadaan shalat selama dia menunggu shalat. Malaikat pun akan mendo’akan salah seorang di antara mereka selama dia berada di tempat dia shalat. Malaikat tersebut nantinya akan mengatakan: “Ya Allah, rahmatilah dia. Ya Allah, ampunilah dia. Ya Allah, terimalah taubatnya”. Hal ini akan berlangsung selama dia tidak menyakiti orang lain (dengan perkataan atau perbuatannya) dan selama dia dalam keadaan tidak berhadats.” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melaksanakan Shalat Jama’ah Berarti Menjalankan Ajaran Nabi, Meninggalkannya Berarti Meninggalkan Ajarannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat sebuah atsar dari dari ‘Abdullah bin Mas’ud, beliau berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَلْقَى اللَّهَ غَدًا مُسْلِمًا فَلْيُحَافِظْ عَلَى هَؤُلاَءِ الصَّلَوَاتِ حَيْثُ يُنَادَى بِهِنَّ فَإِنَّ اللَّهَ شَرَعَ لِنَبِيِّكُمْ -صلى الله عليه وسلم- سُنَنَ الْهُدَى وَإِنَّهُنَّ مِنْ سُنَنِ الْهُدَى وَلَوْ أَنَّكُمْ صَلَّيْتُمْ فِى بُيُوتِكُمْ كَمَا يُصَلِّى هَذَا الْمُتَخَلِّفُ فِى بَيْتِهِ لَتَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ وَلَوْ تَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ لَضَلَلْتُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang ingin bergembira ketika berjumpa dengan Allah besok dalam keadaan muslim, maka jagalah shalat ini (yakni shalat jama’ah) ketika diseru untuk menghadirinya. Karena Allah telah mensyari’atkan bagi nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam sunanul huda (petunjuk Nabi). Dan shalat jama’ah termasuk sunanul huda (petunjuk Nabi). Seandainya kalian shalat di rumah kalian, sebagaimana orang yang menganggap remeh dengan shalat di rumahnya, maka ini berarti kalian telah meninggalkan sunnah (ajaran) Nabi kalian. Seandainya kalian meninggalkan sunnah (ajaran) Nabi kalian, niscaya kalian akan sesat.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembicaraan Hukum Shalat Jama’ah dalam Al Qur’an&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala menceritakan dalam firman-Nya mengenai shalat khouf (shalat dalam keadaan perang),&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَإِذَا كُنْتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلَاةَ فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا أَسْلِحَتَهُمْ فَإِذَا سَجَدُوا فَلْيَكُونُوا مِنْ وَرَائِكُمْ وَلْتَأْتِ طَائِفَةٌ أُخْرَى لَمْ يُصَلُّوا فَلْيُصَلُّوا مَعَكَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan seraka’at) , maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum shalat, shalatlah mereka denganmu.” (QS. An Nisa’ [4]: 102)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ayat ini, Ibnul Qoyyim menjelaskan mengenai wajibnya shalat jama’ah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ini merupakan dalil bahwa shalat jama’ah hukumnya adalah fardhu ’ain karena dalam ayat ini Allah tidak menggugurkan perintah-Nya pada pasukan kedua setelah dilakukan oleh kelompok pertama. Dan seandainya shalat jama’ah itu sunnah, maka shalat ini tentu gugur karena ada udzur yaitu dalam keadaan takut. Seandainya pula shalat jama’ah itu fardhu kifayah maka sudah cukup dilakukan oleh kelompok pertama tadi. Maka dalam ayat ini, tegaslah bahwa hukum shalat jama’ah adalah fardhu ’ain dilihat dari tiga sisi: [1] Allah memerintahkan kepada kelompok pertama, [2] Selanjutnya diperintahkan pula pada kelompok kedua, [3] Tidak diberi keringanan untuk meninggalkannya meskipun dalam keadaan takut.” (Ash Sholah wa Hukmu Tarikiha, Ibnu Qoyyim Al Jauziyah, hal. 110, Dar Al Imam Ahmad)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ وَيُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ فَلَا يَسْتَطِيعُونَ (42) خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ وَقَدْ كَانُوا يُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ وَهُمْ سَالِمُونَ (43)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; maka mereka tidak kuasa, (dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan mereka dalam keadaan sejahtera .” (QS. Al Qalam [68]: 42-43)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala menghukumi orang-orang tersebut pada hari kiamat. Mereka tatkala itu tidak bisa sujud karena ketika di dunia mereka diajak untuk bersujud (yaitu shalat jama’ah), mereka pun enggan. Jika memang seperti ini, maka ini menunjukkan bahwa memenuhi panggilan adzan adalah dengan mendatangi masjid yaitu dengan melaksanakan shalat jama’ah, bukan hanya melaksanakan shalat di rumah atau cuma shalat sendirian. Yang dimaksud dengan memenuhi panggilan adzan (dengan menghadiri shalat jama’ah di masjid), inilah yang ditafsirkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits mengenai orang buta yang akan kami sebutkan nanti. (Ash Sholah wa Hukmu Tarikiha, hal. 110)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembicaraan Hukum Shalat Jama’ah dalam As Sunnah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam memperingatkan keras pria yang meninggalkan shalat jama’ah yaitu ingin membakar rumah mereka. Tentu saja hal ini menunjukkan bahwa shalat jama’ah adalah wajib. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;والذي نفسي بيده لقد هممت أن آمر بحطب فيحطب ثم آمر بالصلاة فيؤذن لها ثم آمر رجلا فيؤم الناس ثم أخالف إلى رجال فأحرق عليهم بيوتهم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, ingin kiranya aku memerintahkan orang-orang untuk mengumpulkan kayu bakar, kemudian aku perintahkan mereka untuk menegakkan shalat yang telah dikumandangkan adzannya, lalu aku memerintahkan salah seorang untuk menjadi imam, lalu aku menuju orang-orang yang tidak mengikuti sholat jama’ah, kemudian aku bakar rumah-rumah mereka”. (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Abu Hurairah, seorang lelaki buta datang kepada Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ لَيْسَ لِى قَائِدٌ يَقُودُنِى إِلَى الْمَسْجِدِ. فَسَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ يُرَخِّصَ لَهُ فَيُصَلِّىَ فِى بَيْتِهِ فَرَخَّصَ لَهُ فَلَمَّا وَلَّى دَعَاهُ فَقَالَ « هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلاَةِ ». فَقَالَ نَعَمْ. قَالَ « فَأَجِبْ ».&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Wahai Rasulullah, saya tidak memiliki penunjuk jalan yang dapat mendampingi saya untuk mendatangi masjid.” Maka ia meminta keringanan kepada Rasulullah untuk tidak shalat berjama’ah dan agar diperbolehkan shalat di rumahnya. Kemudian Rasulullah memberikan keringanan kepadanya. Namun ketika lelaki itu hendak beranjak, Rasulullah memanggilnya lagi dan bertanya, “Apakah kamu mendengar adzan?” Ia menjawab, ”Ya”. Rasulullah bersabda, ”Penuhilah seruan (adzan) itu.”.”(HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang buta ini tidak dibolehkan shalat di rumah apabila dia mendengar adzan. Hal ini menunjukkan bahwa memenuhi panggilan adzan adalah dengan menghadiri shalat jama’ah. Hal ini ditegaskan kembali dalam hadits Ibnu Ummi Maktum. Dia berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ الْمَدِينَةَ كَثِيرَةُ الْهَوَامِّ وَالسِّبَاعِ. فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « أَتَسْمَعُ حَىَّ عَلَى الصَّلاَةِ حَىَّ عَلَى الْفَلاَحِ فَحَىَّ هَلاَ ».&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai Rasulullah, di Madinah banyak sekali tanaman dan binatang buas. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kamu mendengar seruan adzan hayya ‘alash sholah, hayya ‘alal falah? Jika iya, penuhilah seruan adzan tersebut”.” (HR. Abu Daud. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah laki-laki tersebut memiliki beberapa udzur: [1] dia adalah seorang yang buta, [2] dia tidak punya teman sebagai penunjuk jalan untuk menemani, [3] banyak sekali tanaman, dan [4] banyak binatang buas. Namun karena dia mendengar adzan, dia tetap diwajibkan menghadiri shalat jama’ah. Walaupun punya berbagai macam udzur semacam ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap memerintahkan dia untuk memenuhi panggilan adzan yaitu melaksanakan shalat jama’ah di masjid. Bagaimana dengan orang yang dalam keadaan tidak ada udzur sama sekali, masih diberi kenikmatan penglihatan dan sebagainya?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan Pendapat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang diakui bahwa terjadi perselisihan pendapat mengenai hukum shalat jama’ah. Ada yang mengatakan bahwa hukum shalat jama’ah adalah wajib, ada yang mengatakan sunnah mu’akkad dan ada pula yang mengatakan fardhu kifayah. Namun berdasarkan berbagai dalil di atas, -menurut pendapat yang lebih kuat- shalat jama’ah adalah wajib (fardhu ‘ain) sebagaimana hal ini adalah pendapat ‘Atho’ bin Abi Robbah, Al Hasan Al Bashri, Abu ‘Amr Al Awza’i, Abu Tsaur, Al Imam Ahmad (yang nampak dari pendapatnya) dan pendapat Imam Asy Syafi’i dalam Mukhtashor Al Muzanniy. Imam Asy Syafi’i mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وأما الجماعة فلا ارخص في تركها إلا من عذر&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Adapun shalat jama’ah, aku tidaklah memberi keringanan bagi seorang pun untuk meninggalkannya kecuali bila ada udzur.” (Ash Sholah wa Hukmu Tarikiha, hal. 107)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalat Jama’ah bagi Wanita Tidaklah Wajib&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalat jama’ah tidaklah wajib bagi wanita dan ini berdasarkan kesepakatan para ulama kaum muslimin. Akan tetapi shalat jama’ah tetap dibolehkan bagi wanita –secara global- menurut mayoritas ulama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Sholeh Al Fauzan –hafizhohullah- ketika ditanya apakah wanita wajib mengerjakan shalat secara jama’ah setiap melaksanakan shalat fardhu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau –hafizhohullah- menjawab, “Wanita tidak wajib melaksanakan shalat secara berjama’ah. Shalat jama’ah hanya wajib bagi laki-laki. Para wanita tidak wajib mengerjakan shalat secara berjama’ah, akan tetapi boleh atau mungkin dianjurkan bagi mereka melaksanakan shalat secara jama’ah dengan imam di antara mereka (para wanita). Namun sebagaimana yang kami katakan bahwa imam mereka berdiri di antara shaf yang ada (bukan maju ke depan)” (Fatawa Al Mar’ah Al Muslimah, hal. 103, Dar Ibnul Haitsam)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga risalah yang ringkas ini bermanfaat bagi kaum muslimin sekalian. Semoga Allah membuka hati-hati setiap muslim untuk tergerak mengerjakan shalat jama’ah dan memakmurkan masjid-masjid mereka. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam. [Muhammad Abduh Tuasikal]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5002548945243865869-5385690625786178980?l=readmoslem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://readmoslem.blogspot.com/feeds/5385690625786178980/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5002548945243865869&amp;postID=5385690625786178980&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/5385690625786178980'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/5385690625786178980'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://readmoslem.blogspot.com/2010/02/mari-sholat-jamaah.html' title='Mari Sholat Jamaah..!'/><author><name>mencoba menjadi lebih baik...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05732610976505096819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_nHva8Y4lnmg/S1Sbw1CbB0I/AAAAAAAAABo/53TaZ0d4BVs/S220/moslem.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5002548945243865869.post-6453815585198505620</id><published>2010-02-03T09:41:00.000-08:00</published><updated>2010-02-16T08:26:08.806-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sholat'/><title type='text'>Sholat Jama'ah 5 Waktu Wajib Atau Sunnah..???</title><content type='html'>Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ’ala Rosulillah wa ’ala alihi wa shohbihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku, yang semoga diberi taufik oleh Allah Ta’ala. Saat ini kita lihat di mana masjid-masjid kaum muslimin tampak megah dan indah dengan berbagai hiasan dan aksesoris di dalamnya. Namun sangat-sangat disayangkan masjid-masjid tersebut sering kosong dari jama’ah. Ini sungguh sangat mengherankan, kita kadang melihat masjid yang megah dan besar hanya dipenuhi satu shaf padahal jumlah kaum muslimin di sekitar masjid itu amat banyak. Oleh karena itu, sangat penting sekali untuk dijelaskan kepada saudara-saudara kita ini mengenai hukum shalat jama’ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diakui bahwa dalam hal ini terdapat perselisihan dikalangan para pakar fiqih apakah shalat jama’ah itu fardhu ’ain (wajib bagi setiap muslim), sunnah, atau fardhu kifayah (jika sebagian sudah menunaikannya maka gugur kewajiban yang lain). Namun kami tegaskan bahwa dalam setiap masalah perselisihan agama yang ada hendaklah kita kembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah telah berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An Nisa’ [4] : 59). Itulah yang seharusnya dilakukan seorang muslim.&lt;br /&gt;Dalil dari Al Qur’an&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala menceritakan dalam firman-Nya mengenai shalat khouf (shalat dalam keadaan perang),&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَإِذَا كُنْتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلَاةَ فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا أَسْلِحَتَهُمْ فَإِذَا سَجَدُوا فَلْيَكُونُوا مِنْ وَرَائِكُمْ وَلْتَأْتِ طَائِفَةٌ أُخْرَى لَمْ يُصَلُّوا فَلْيُصَلُّوا مَعَكَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan seraka'at) , maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum shalat, shalatlah mereka denganmu.” (QS. An Nisa’ [4] : 102)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ayat ini, Ibnul Qoyyim menjelaskan mengenai wajibnya shalat jama’ah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Allah memerintahkan untuk shalat dalam jama’ah [dan hukum asal perintah adalah wajib[1] yaitu Allah berfirman: (فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ مَعَكَ), ”perintahkan segolongan dari mereka berdiri (shalat) bersamamu”]. Kemudian Allah mengulangi perintah-Nya lagi [dalam ayat (وَلْتَأْتِ طَائِفَةٌ أُخْرَى لَمْ يُصَلُّوا فَلْيُصَلُّوا مَعَكَ), ”dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum shalat,perintahkan mereka shalat bersamamu”]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini merupakan dalil bahwa shalat jama’ah hukumnya adalah fardhu ’ain karena dalam ayat ini Allah tidak menggugurkan perintah-Nya pada pasukan kedua setelah dilakukan oleh kelompok pertama. Dan seandainya shalat jama’ah itu sunnah, maka shalat ini tentu gugur karena ada udzur yaitu dalam keadaan takut. Seandainya pula shalat jama’ah itu fardhu kifayah maka sudah cukup dilakukan oleh kelompok pertama tadi. Maka dalam ayat ini, tegaslah bahwa shalat jama’ah hukumnya adalah fardhu ’ain dilihat dari tiga sisi: [1] Allah memerintahkan kepada kelompok pertama, [2] Selanjutnya diperintahkan pula pada kelompok kedua, [3] Tidak diberi keringanan untuk meninggalkannya meskipun dalam keadaan takut.”[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ وَيُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ فَلَا يَسْتَطِيعُونَ (42) خَاشِعَةً أَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ وَقَدْ كَانُوا يُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ وَهُمْ سَالِمُونَ (43)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; maka mereka tidak kuasa, (dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan mereka dalam keadaan sejahtera .” (QS. Al Qalam [68]: 42-43)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala menghukumi orang-orang tersebut pada hari kiamat. Mereka tatkala itu tidak bisa sujud karena ketika di dunia mereka diajak untuk bersujud (yaitu shalat jama’ah), mereka pun enggan. Jika memang seperti ini, maka ini menunjukkan bahwa memenuhi panggilan adzan adalah dengan mendatangi masjid yaitu dengan melaksanakan shalat jama’ah, bukan hanya melaksanakan shalat di rumah atau cuma shalat sendirian. Yang dimaksud dengan memenuhi panggilan adzan (dengan menghadiri shalat jama’ah di masjid), inilah yang ditafsirkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits mengenai orang buta yang akan kami sebutkan nanti. [3]&lt;br /&gt;Dalil dari As Sunnah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam memperingatkan keras pria yang meninggalkan shalat jama’ah yaitu ingin membakar rumah mereka. Tentu saja hal ini menunjukkan bahwa shalat jama’ah adalah wajib. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;والذي نفسي بيده لقد هممت أن آمر بحطب فيحطب ثم آمر بالصلاة فيؤذن لها ثم آمر رجلا فيؤم الناس ثم أخالف إلى رجال فأحرق عليهم بيوتهم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, ingin kiranya aku memerintahkan orang-orang untuk mengumpulkan kayu bakar, kemudian aku perintahkan mereka untuk menegakkan shalat yang telah dikumandangkan adzannya, lalu aku memerintahkan salah seorang untuk menjadi imam, lalu aku menuju orang-orang yang tidak mengikuti sholat jama'ah, kemudian aku bakar rumah-rumah mereka”. [4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Abu Hurairah, seorang lelaki buta datang kepada Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ لَيْسَ لِى قَائِدٌ يَقُودُنِى إِلَى الْمَسْجِدِ. فَسَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ يُرَخِّصَ لَهُ فَيُصَلِّىَ فِى بَيْتِهِ فَرَخَّصَ لَهُ فَلَمَّا وَلَّى دَعَاهُ فَقَالَ « هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلاَةِ ». فَقَالَ نَعَمْ. قَالَ « فَأَجِبْ ».&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Wahai Rasulullah, saya  tidak memiliki penunjuk jalan yang dapat mendampingi saya untuk mendatangi masjid.” Maka ia meminta keringanan kepada Rasulullah untuk tidak shalat berjama'ah dan agar diperbolehkan shalat di rumahnya. Kemudian Rasulullah memberikan keringanan kepadanya. Namun  ketika lelaki itu hendak beranjak, Rasulullah memanggilnya lagi dan bertanya,“Apakah kamu mendengar adzan?” Ia menjawab,”Ya”. Rasulullah bersabda,”Penuhilah seruan (adzan) itu.” [5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang buta ini tidak dibolehkan shalat di rumah apabila dia mendengar adzan. Hal ini menunjukkan bahwa memenuhi panggilan adzan adalah dengan menghadiri shalat jama’ah. Hal ini ditegaskan kembali dalam hadits Ibnu Ummi Maktum. Dia berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ الْمَدِينَةَ كَثِيرَةُ الْهَوَامِّ وَالسِّبَاعِ. فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « أَتَسْمَعُ حَىَّ عَلَى الصَّلاَةِ حَىَّ عَلَى الْفَلاَحِ فَحَىَّ هَلاَ ».&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai Rasulullah, di Madinah banyak sekali tanaman dan binatang buas. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kamu mendengar seruan adzan hayya ‘alash sholah, hayya ‘alal falah? Jika iya, penuhilah seruan adzan tersebut”.” [6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah laki-laki tersebut memiliki beberapa udzur: [1] dia adalah seorang yang buta, [2] dia tidak punya teman sebagai penunjuk jalan untuk menemani, [3] banyak sekali tanaman, dan [4] banyak binatang buas. Namun karena  dia mendengar adzan, dia tetap diwajibkan menghadiri shalat jama’ah. Walaupun punya berbagai macam udzur semacam ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap memerintahkan dia untuk memenuhi panggilan adzan yaitu melaksanakan shalat jama’ah di masjid. Bagaimana dengan orang yang dalam keadaan tidak ada udzur sama sekali, masih diberi kenikmatan penglihatan dan sebagainya?!&lt;br /&gt;Kesimpulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalat jama’ah adalah wajib (fardhu ‘ain) sebagaimana hal ini adalah pendapat ‘Atho’ bin Abi Robbah, Al Hasan Al Bashri, Abu ‘Amr Al Awza’i, Abu Tsaur, Al Imam Ahmad (yang nampak dari pendapatnya) dan pendapat Imam Asy Syafi’i dalam Mukhtashor Al Muzanniy. Imam Asy Syafi’i mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وأما الجماعة فلا ارخص في تركها إلا من عذر&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Adapun shalat jama’ah, aku tidaklah memberi keringanan bagi seorang pun untuk meninggalkannya kecuali bila ada udzur.” [7] Pendapat Imam Asy Syafi’i ini sangat berbeda dengan ulama-ulama Syafi’iyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Hanafiyyah –yang benar dari pendapat mereka- dan ini juga adalah pendapat mayoritas Malikiyah, juga pendapat Syafi’iyah bahwa shalat jama’ah 5 waktu adalah sunnah mu’akkad. Namun sunnah mu’akkad menurut Hanafiyyah adalah hampir mirip dengan wajib yaitu nantinya akan mendapat dosa. Dan ada sebagian mereka (Hanafiyyah) yang menegaskan bahwa hukum shalat jama’ah adalah wajib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu pendapat yang paling kuat dari Syaf’iyah, shalat jama’ah 5 waktu adalah fardhu kifayah. Pendapat ini juga adalah pendapat sebagian ulama Hanafiyah semacam Al Karkhiy dan Ath Thohawiy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sebagian Malikiyah, mereka memberi rincian. Shalat jama’ah menurut mereka adalah fardhu kifayah bagi suatu negeri. Jika di negeri tersebut tidak ada yang melaksanakan shalat jama’ah, maka mereka harus diperangi. Namun menurut mereka, hukum shalat jama’ah 5 waktu adalah sunnah di setiap masjid yang ada dan merupakan keutamaan bagi para pria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun menurut Hanabilah, juga salah satu pendapat Hanafiyyah dan Syafi’iyyah bahwa shalat jama’ah adalah wajib, namun bukan syarat sah shalat.[8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah perselisihan ulama yang ada. Ada yang mengatakan shalat jama’ah 5 waktu adalah fardhu ‘ain, ada pula yang mengatakan fardhu kifayah, dan ada pula yang mengatakan sunnah mu’akkad. Namun, agar lebih-lebih hati-hati dan tidak sampai terjerumus dalam dosa, maka pendapat yang lebih tepat kita pilih sebagaimana dalil-dalil yang telah diutarakan di atas: shalat jama’ah 5 waktu adalah wajib, fardhu ‘ain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah penjelasan singkat mengenai hukum shalat berjama’ah di masjid dari Al Qur’an dan As Sunnah. Kami tegaskan bahwa untuk wanita, tidak diwajibkan bagi mereka untuk shalat jama’ah di masjid berdasarkan kesepakatan (ijma’) para ulama. [9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah dengan izin-Mu, berilah kami petunjuk kepada kebenaran atas semua perkara yang dipersilisihkan. Amin Ya Mujibbas Sa’ilin. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pangukan, Sleman, 6 Robi’ul Akhir 1430 H&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel http://rumaysho.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Hal ini berdasarkan kaedah dalam Ilmu Ushul Fiqih yaitu hukum asal perintah adalah wajib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Ash Sholah wa Hukmu Tarikiha, Ibnu Qoyyim Al Jauziyah, hal. 110,  Dar Al Imam Ahmad&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Ash Sholah wa Hukmu Tarikiha, hal. 110&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] HR. Bukhari dan Muslim. [Bukhari: 15-Kitab Al Jama’ah wal Imamah, 1-Bab Wajibnya Shalat Jama’ah. Muslim: 6-Kitab Al Masajid, 43-Bab Keutamaan Shalat Jama’ah dan Penjelasan Mengenai Hukuman Keras bagi Orang yang Meninggalkannya]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] HR. Muslim [Muslim: 6-Kitab Al Masajid, 44-Bab Wajib Mendatangi Masjid bagi Siapa Saja yang Mendengar Adzan]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6] HR. Abu Daud [Abu Daud: 2-Kitab Ash Sholah, 47-Bab Peringatan Keras Karena Meninggalkan Shalat Jama’ah]. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7] Ash Sholah wa Hukmu Tarikiha, hal. 107&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[8] Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 27/165-167, Wizarotul Awqof wasy Syu’un Al Islamiyah-Al Kuwait&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[9] Lihat Shohih Fiqh Sunnah, 1/508, Al Maktabah At Taufiqiyah&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5002548945243865869-6453815585198505620?l=readmoslem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://readmoslem.blogspot.com/feeds/6453815585198505620/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5002548945243865869&amp;postID=6453815585198505620&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/6453815585198505620'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/6453815585198505620'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://readmoslem.blogspot.com/2010/02/sholat-jamaah-5-waktu-wajib-atau-sunnah.html' title='Sholat Jama&apos;ah 5 Waktu Wajib Atau Sunnah..???'/><author><name>mencoba menjadi lebih baik...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05732610976505096819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_nHva8Y4lnmg/S1Sbw1CbB0I/AAAAAAAAABo/53TaZ0d4BVs/S220/moslem.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5002548945243865869.post-3413791233763095970</id><published>2010-02-02T14:49:00.001-08:00</published><updated>2010-02-16T09:06:23.457-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Zakat dan Sedekah'/><title type='text'>Sedekah Tidaklah Mengurangi Harta</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_nHva8Y4lnmg/S3rP0c2OIWI/AAAAAAAAAC0/2olvufNRP48/s1600-h/20675_102014776492491_100000519075944_50058_6423834_n.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 192px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_nHva8Y4lnmg/S3rP0c2OIWI/AAAAAAAAAC0/2olvufNRP48/s200/20675_102014776492491_100000519075944_50058_6423834_n.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5438888000007053666" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sedekah tidaklah mungkin mengurangi harta ... Yakinlah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Asma’ binti Abi Bakr, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda padaku,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لاَ تُوكِي فَيُوكى عَلَيْكِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Janganlah engkau menyimpan harta (tanpa mensedekahkannya). Jika tidak, maka Allah akan menahan rizki untukmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat lain disebutkan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أنفقي أَوِ انْفَحِي ، أَوْ انْضَحِي ، وَلاَ تُحصي فَيُحْصِي اللهُ عَلَيْكِ ، وَلاَ تُوعي فَيُوعي اللهُ عَلَيْكِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Infaqkanlah hartamu. Janganlah engkau menghitung-hitungnya (menyimpan tanpa mau mensedekahkan). Jika tidak, maka Allah akan menghilangkan barokah rizki tersebut[1]. Janganlah menghalangi anugerah Allah untukmu. Jika tidak, maka Allah akan menahan anugerah dan kemurahan untukmu.”[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini dibawakan oleh Yahya bin Syarf An Nawawi dalam Riyadhus Shalihin pada Bab “Kemuliaan, berderma dan berinfaq”, hadits no. 559 (60/16).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa faedah hadits:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Hadits di atas memberikan motivasi untuk berinfaq.[3] Bukhari sendiri membawakan hadits ini dalam Bab “Motivasi untuk bersedekah (mengeluarkan zakat) dan memberi syafa’at dalam hal itu”. An Nawawi membuat bab untuk hadits ini “Motivasi untuk berinfaq (mengeluarkan zakat) dan larangan untuk menghitung-hitungnya (menyimpan tanpa mau mensedekahkan).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Hadits ini menunjukkan tercelanya sifat bakhil dan pelit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga: Hadits di atas menunjukkan bahwa al jaza’ min jinsil ‘amal, balasan sesuai dengan amalan perbuatan.[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat: Ibnu Baththol menerangkan riwayat pertama di atas dengan mengatakan, “Janganlah engkau menyimpan-nyimpan harta tanpa mensedekahkannya (menzakatkannya). Janganlah engkau enggan bersedekah (membayar zakat) karena takut hartamu berkurang. Jika seperti ini, Allah akan menahan rizki untukmu sebagaimana Allah menahan rizki untuk para peminta-minta.”[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima: Menyimpan harta yang terlarang adalah jika enggan mengeluarkan zakat dan sedekah dari harta tersebut. Itulah yang tercela.[6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam: Hadits ini menunjukkan larangan enggan bersedekah karena takut harta berkurang. Kekhawatiran semacam ini adalah sebab hilangnya barokah dari harta tersebut. Karena Allah berjanji akan memberi balasan bagi orang yang berinfaq tanpa batasan. Inilah yang diterangkan oleh Ibnu Hajar Al Asqolani.[7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketujuh: Bukhari dan Muslim sama-sama membawakan hadits di atas ketika membahas zakat. Ini menunjukkan bahwa yang mesti diprioritaskan adalah menunaikan sedekah yang wajib (yaitu zakat) daripada sedekah yang sunnah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedelapan: Ibnu Baththol mengatakan, “Hadits ini menunjukkan sedekah (zakat) itu dapat mengembangkan harta. Maksudnya adalah sedekah merupakan sebab semakin berkah dan bertambahnya harta. Barangsiapa yang memiliki keluasan harta, namun enggan untuk bersedekah (mengeluarkan zakat), maka Allah akan menahan rizki untuknya. Allah akan menghalangi keberkahan hartanya. Allah pun akan menahan perkembangan hartanya.”[8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesembilan: Sedekah tidaklah mengurangi harta. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sedekah tidaklah mengurangi harta.”[9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna hadits di atas sebagaimana dijelaskan oleh Yahya bin Syarf An Nawawi rahimahullah ada dua penafsiran:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Harta tersebut akan diberkahi dan akan dihilangkan berbagai dampak bahaya padanya. Kekurangan harta tersebut akan ditutup dengan keberkahannya. Ini bisa dirasakan secara inderawi dan kebiasaan.&lt;br /&gt;   2. Walaupun secara bentuk harta tersebut berkurang, namun kekurangan tadi akan ditutup dengan pahala di sisi Allah dan akan terus ditambah dengan kelipatan yang amat banyak.[10]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah menerangkan hadits di atas dengan mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah mengucapkan sesuatu berdasarkan hawa nafsunya semata. Beliau bersabda, “Sedekah tidaklah mungkin mengurangi harta”. Kalau dilihat dari sisi jumlah, harta tersebut mungkin saja berkurang. Namun kalau kita lihat dari hakekat dan keberkahannya justru malah bertambah. Boleh jadi kita bersedekah dengan 10 riyal, lalu Allah beri ganti dengan 100 riyal. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39). Allah akan mengganti bagi kalian sedekah tersebut segera di dunia. Allah pun akan memberikan balasan dan ganjaran di akhirat. Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِئَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 261)”. -Demikian penjelasan sangat menarik dari Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah[11]-.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, beberapa faedah sangat berharga telah kita gali dari hadits di atas. Semoga hal ini semakin mendorong kita untuk mengeluarkan zakat yang nilainya wajib dan sedekah-sedekah lainnya. Perhatikanlah syarat nishob dan haul setiap harta kita yang berhak untuk dizakati. Semoga Allah selalu memberkahi harta tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ingatlah, tetapkanlah niatkan sedekah dan zakat ikhlas karena Allah dan jangan cuma mengharap keuntungan dunia semata. Kami mohon pembaca bisa baca artikel menarik lainnya di sini: Amat disayangkan, banyak sedekah hanya untuk memperlancar rizki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga penjelasan ini dapat menjadi ilmu bermanfaat bagi kita sekalian. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel http://rumasyho.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diselesaikan selepas shalat Maghrib, di Pangukan-Sleman, 19 Shofar 1431 H&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Lihat tafsiran hadits ini sebagaimana yang disampaikan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqolani dalam Fathul Bari Syarh Shahih Al Bukhari, 3/300, Darul Ma’rifah, 1379.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] HR. Bukhari no. 1433 dan Muslim no. 1029, 88.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Nuzhatul Muttaqin Syarh Riyadhis Sholihin, Dr. Musthofa Sa’id Al Khin dkk, hal. 480, Muassasah Ar Risalah, cetakan keempat belas, tahun 1407 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] Idem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] Syarh Shahih Al Bukhari, Ibnu Baththol, 4/435-436, Maktabah Ar Rusyd, cetakan kedua, tahun 1423 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6] Faedah dari Fathul Bari, 3/300, juga dari perkataan Ibnu Baththol di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7] Lihat Fathul Bari, 3/300.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[8] Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, 3/436.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[9] HR. Muslim no. 2558, dari Abu Hurairah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[10] Lihat Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 16/141, Dar Ihya’ At Turots Al ‘Arobi, cetakan kedua, 1392.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[11] Lihat Syarh Riyadhis Sholihin, Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, 2/342, Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah, cetakan ketiga, 1424 H&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5002548945243865869-3413791233763095970?l=readmoslem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://readmoslem.blogspot.com/feeds/3413791233763095970/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5002548945243865869&amp;postID=3413791233763095970&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/3413791233763095970'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/3413791233763095970'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://readmoslem.blogspot.com/2010/02/sedekah-tidaklah-mengurangi-harta.html' title='Sedekah Tidaklah Mengurangi Harta'/><author><name>mencoba menjadi lebih baik...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05732610976505096819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_nHva8Y4lnmg/S1Sbw1CbB0I/AAAAAAAAABo/53TaZ0d4BVs/S220/moslem.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_nHva8Y4lnmg/S3rP0c2OIWI/AAAAAAAAAC0/2olvufNRP48/s72-c/20675_102014776492491_100000519075944_50058_6423834_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5002548945243865869.post-5318955939541285724</id><published>2010-01-31T04:05:00.000-08:00</published><updated>2010-02-22T21:53:44.033-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hati dan Akidah'/><title type='text'>Syarat Kalimat Laa Ilaha Illallah Yang harus Dipenuhi</title><content type='html'>Pada awal tulisan ini kami telah menjelaskan mengenai keutamaan laa ilaha illallah, di mana kalimat ini adalah sebaik-baik dzikir dan akan mendapatkan buah yang akan diperoleh di dunia dan di akhirat. Namun, perlu diketahui bahwasanya kalimat laa ilaha illallah tidaklah diterima dengan hanya diucapkan semata. Banyak orang yang salah dan keliru dalam memahami hadits-hadits tentang keutamaan laa ilaha illallah. Mereka menganggap bahwa cukup mengucapkannya di akhir kehidupan –misalnya-, maka seseorang akan masuk surga dan terbebas dari siksa neraka. Hal ini tidaklah demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua muslim pasti telah memahami bahwa segala macam bentuk ibadah tidaklah diterima begitu saja kecuali dengan terpenuhi syarat-syaratnya. Misalnya saja shalat. Ibadah ini tidak akan diterima kecuali jika terpenuhi syaratnya seperti wudhu. Begitu juga dengan puasa, haji dan ibadah lainnya, semua ibadah tersebut tidak akan diterima kecuali dengan memenuhi syarat-syaratnya. Maka begitu juga dengan kalimat yang mulia ini. Kalimat laa ilaha illallah tidak akan diterima kecuali dengan terpenuhi syarat-syaratnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, para ulama terdahulu (baca : ulama salaf) telah mengisyaratkan kepada kita mengenai pentingnya memperhatikan syarat laa ilaha illallah. Lihatlah di antara perkataan mereka berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Hasan Al Bashri rahimahullah pernah diberitahukan bahwa orang-orang mengatakan,”Barangsiapa mengucapkan laa ilaha illallah maka dia akan masuk surga.” Lalu beliau rahimahullah mengatakan, ”Barangsiapa menunaikan hak kalimat tersebut dan juga kewajibannya, maka dia akan masuk surga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahab bin Munabbih telah ditanyakan,”Bukankah kunci surga adalah laa ilaha illallah?” Beliau rahimahullah menjawab,”Iya betul. Namun, setiap kunci itu pasti punya gerigi. Jika kamu memasukinya dengan kunci yang memiliki gerigi, pintu tersebut akan terbuka. Jika tidak demikian, pintu tersebut tidak akan terbuka.” Beliau rahimahullah mengisyaratkan bahwa gerigi tersebut adalah syarat-syarat kalimat laa ilaha illallah. (Lihat Fiqhul Ad’iyyah wal Adzkar I/179-180)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenal Syarat Laa Ilaha Illallah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hasil penelusuran dan penelitian terhadap Al Qur’an dan As Sunnah, para ulama akhirnya menyimpulkan bahwa kalimat laa ilaha illallah tidaklah diterima kecuali dengan memenuhi tujuh syarat berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1]      Mengilmui maknanya yang meniadakan kejahilan (bodoh)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2]      Yakin yang meniadakan keragu-raguan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3]      Menerima yang meniadakan sikap menentang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4]      Patuh yang meniadakan sikap meninggalkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5]      Jujur yang meniadakan dusta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6]      Ikhlas yang meniadakan syirik dan riya’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7]      Cinta yang meniadakan benci&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelasan ketujuh syarat di atas adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat pertama adalah mengilmui makna laa ilaha illallah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya adalah menafikan peribadahan (penghambaan) kepada selain Allah dan menetapkan bahwa Allah satu-satunya yang patut diibadahi dengan benar serta menghilangkan sifat kejahilan (bodoh) terhadap makna ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada sesembahan yang benar selain Allah.” (QS. Muhammad [47] : 19)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِلَّا مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa'at ialah) orang yang mengakui dengan benar (laa ilaha illallah) dan mereka meyakini(nya).” (QS. Az Zukhruf : 86)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az Zumar [39] : 9)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (QS. Fathir [35] : 28)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kitab shohih dari ‘Utsman, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa mati dalam keadaan mengetahui bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah, maka dia akan masuk surga.” (HR. Muslim no.145)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat kedua adalah meyakini kalimat laa ilaha illallah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya adalah seseorang harus meyakini kalimat ini seyakin-yakinnya tanpa boleh ada keraguan sama sekali. Yakin adalah ilmu yang sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala memberikan syarat benarnya keimanan seseorang kepada Allah dan Rasul-Nya, dengan sifat tidak ada keragu-raguan. Sebagaimana dapat dilihat pada firman Allah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al Hujurat [49] : 15)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila seseorang ragu-ragu dalam keimanannya, maka termasuklah dia dalam orang-orang munafik –wal ‘iyadzu billah [semoga Allah melindungi kita dari sifat semacam ini]. Allah Ta’ala mengatakan kepada orang-orang munafik tersebut,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّمَا يَسْتَأْذِنُكَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَارْتَابَتْ قُلُوبُهُمْ فَهُمْ فِي رَيْبِهِمْ يَتَرَدَّدُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keraguannya.”(QS. At Taubah : 45)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa hadits, Allah mengatakan bahwa orang yang mengucapkan laa ilaha illallah akan masuk surga dengan syarat yakin dan tanpa ada keraguan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنِّى رَسُولُ اللَّهِ لاَ يَلْقَى اللَّهَ بِهِمَا عَبْدٌ غَيْرَ شَاكٍّ فِيهِمَا إِلاَّ دَخَلَ الْجَنَّةَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah dan aku adalah utusan Allah. Tidak ada seorang hamba pun yang bertemu Allah (baca: meninggal dunia) dengan membawa keduanya dalam keadaan tidak ragu-ragu kecuali Allah akan memasukkannya ke surga” (HR. Muslim no. 147)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah juga, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنِّى رَسُولُ اللَّهِ لاَ يَلْقَى اللَّهَ بِهِمَا عَبْدٌ غَيْرَ شَاكٍّ فَيُحْجَبَ عَنِ الْجَنَّةِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah dan aku adalah utusan Allah. Seorang hamba yang bertemu Allah dengan keduanya dalam keadaan tidak ragu-ragu, Allah tidak akan menghalanginya untuk masuk surga.” (HR. Muslim no. 148)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat ketiga adalah menerima kalimat laa ilaha illallah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya adalah seseorang menerima kalimat tauhid ini dengan hati dan lisan, tanpa menolaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah telah mengisahkan kebinasaan orang-orang sebelum kita dikarenakan menolak kalimat ini. Lihatlah pada firman Allah Ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَكَذَلِكَ مَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا وَجَدْنَا آَبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آَثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ (23) قَالَ أَوَلَوْ جِئْتُكُمْ بِأَهْدَى مِمَّا وَجَدْتُمْ عَلَيْهِ آَبَاءَكُمْ قَالُوا إِنَّا بِمَا أُرْسِلْتُمْ بِهِ كَافِرُونَ (24) فَانْتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ (25)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatan pun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: "Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka".(Rasul itu) berkata: "Apakah (kamu akan mengikutinya juga) sekalipun aku membawa untukmu (agama) yang lebih (nyata) memberi petunjuk daripada apa yang kamu dapati bapak-bapakmu menganutnya?" Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami mengingkari agama yang kamu diutus untuk menyampaikannya." Maka Kami binasakan mereka maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu.” (QS. Az Zukhruf [43] : 23-25)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kitab shohih dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;« مَثَلُ مَا بَعَثَنِى اللَّهُ بِهِ مِنَ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ الْغَيْثِ الْكَثِيرِ أَصَابَ أَرْضًا ، فَكَانَ مِنْهَا نَقِيَّةٌ قَبِلَتِ الْمَاءَ ، فَأَنْبَتَتِ الْكَلأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيرَ ، وَكَانَتْ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتِ الْمَاءَ ، فَنَفَعَ اللَّهُ بِهَا النَّاسَ ، فَشَرِبُوا وَسَقَوْا وَزَرَعُوا ، وَأَصَابَتْ مِنْهَا طَائِفَةً أُخْرَى ، إِنَّمَا هِىَ قِيعَانٌ لاَ تُمْسِكُ مَاءً ، وَلاَ تُنْبِتُ كَلأً ، فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقِهَ فِى دِينِ اللَّهِ وَنَفَعَهُ مَا بَعَثَنِى اللَّهُ بِهِ ، فَعَلِمَ وَعَلَّمَ ، وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا ، وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ الَّذِى أُرْسِلْتُ بِهِ » .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang aku bawa dari Allah adalah seperti air hujan lebat yang turun ke tanah. Di antara tanah itu ada yang subur yang dapat menyimpan air dan menumbuhkan rerumputan. Juga ada tanah yang tidak bisa menumbuhkan rumput (tanaman), namun dapat menahan air. Lalu Allah memberikan manfaat kepada manusia (melalui tanah tadi, pen); mereka bisa meminumnya, memberikan minum (pada hewan ternaknya, pen) dan bisa memanfaatkannya untuk bercocok tanam. Tanah lainnya yang mendapatkan hujan adalah tanah kosong, tidak dapat menahan air dan tidak bisa menumbuhkan rumput (tanaman). Itulah permisalan orang yang memahami agama Allah dan apa yang aku bawa (petunjuk dan ilmu, pen) bermanfaat baginya yaitu dia belajar dan mengajarkannya.  Permisalan lainnya adalah permisalah orang yang menolak (petunjuk dan ilmu tadi, pen) dan tidak menerima petunjuk Allah yang aku bawa.” (HR. Bukhari no. 79 dan Muslim no. 2093. Lihat juga Syarh An Nawawi, 7/483 dan Fathul Bari , 1/130)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat keempat adalah inqiyad (patuh) kepada syari’at Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya adalah meniadakan sikap meninggalkan yaitu seorang yang mengucapkan laa ilaha illallah haruslah patuh terhadap syari’at Allah serta tunduk dan berserah diri kepada-Nya. Karena dengan inilah, seseorang akan berpegang teguh dengan kalimat laa ilaha illallah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh.” (QS. Luqman [31] : 22). Yang dimaksudkan dengan ‘telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh’ adalah telah berpegang dengan laa ilaha illallah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat ini, Allah mempersyaratkan untuk berserah diri (patuh) pada syari’at Allah dan inilah yang disebut muwahhid (orang yang bertauhid) yang berbuat ihsan (kebaikan). Maka barangsiapa tidak berserah diri kepada Allah maka dia bukanlah orang yang berbuat ihsan sehingga dia bukanlah orang yang berpegang teguh dengan buhul tali yang kuat yaitu kalimat laa ilaha illallah. Inilah makna firman Allah pada ayat selanjutnya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَنْ كَفَرَ فَلَا يَحْزُنْكَ كُفْرُهُ إِلَيْنَا مَرْجِعُهُمْ فَنُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ (23) نُمَتِّعُهُمْ قَلِيلًا ثُمَّ نَضْطَرُّهُمْ إِلَى عَذَابٍ غَلِيظٍ (24)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan barangsiapa kafir (tidak patuh) maka kekafirannya itu janganlah menyedihkanmu. Hanya kepada Kami-lah mereka kembali, lalu Kami beritakan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati. Kami biarkan mereka bersenang-senang sebentar, kemudian Kami paksa mereka (masuk) ke dalam siksa yang keras.” (QS. Luqman [31] : 23-24).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Jadi perbedaan qobul (menerima, syarat ketiga) dengan inqiyad (patuh, syarat keempat) adalah sebagai berikut. Qobul itu terkait dengan hati dan lisan. Sedangkan inqiyad terkait dengan ketundukkan anggota badan,ed).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat kelima adalah jujur dalam mengucapkannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya adalah seseorang yang mengucapkan kalimat ikhlas laa ilaha illallah harus benar-benar jujur (tidak ada dusta) dalam hatinya dan juga diikuti dengan pembenaran dalam lisannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, Allah mencela orang-orang munafik -karena kedustaan mereka- pada firman-Nya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ آَمَنَّا بِاللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ (8) يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ (9) فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ (10)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian ," pada hal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit , lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” (QS. Al Baqarah [2] : 8-10).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga pada firman-Nya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ (1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: "Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah". Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.” (QS. Al Munafiqun [63] : 1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mendapatkan keselamatan dari api neraka tidak hanya cukup dengan mengucapkan kalimat tauhid tersebut, tetapi juga harus disertai dengan pembenaran (kejujuran) dalam hati. Maka semata-mata diucapkan tanpa disertai dengan kejujuran dalam hati, tidaklah bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah hadits dari Mu’adz bin Jabal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَا مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ صِدْقًا مِنْ قَلْبِهِ إِلاَّ حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidaklah seseorang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya dengan kejujuran dari dalam hatinya, kecuali Allah akan mengharamkan neraka baginya.” (HR. Bukhari  no. 128)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat keenam adalah ikhlas dalam beramal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya adalah seseorang harus membersihkan amal -dengan benarnya niat- dari segala macam kotoran syirik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah ketaatan (baca: ibadah) yang ikhlas (bersih dari syirik).” (QS. Az Zumar [39] : 3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan ikhlas (memurnikan) keta'atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (QS. Al Bayyinah [98] : 5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka sembahlah Allah dengan ikhlas (memurnikan) keta'atan kepada-Nya.” (QS. Az Zumar [39] : 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang yang berbahagia karena mendapat syafa’atku pada hari kiamat nanti adalah orang yang mengucapkan laa ilaha illallah dengan ikhlas dalam hatinya atau dirinya.” (HR. Bukhari no. 99)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat ketujuh adalah mencintai kalimat laa ilaha illallah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya adalah seseorang yang mengucapkan kalimat ini mencintai (tidak benci pada) Allah, Rasul dan agama Islam serta mencintai pula kaum muslimin yang menegakkan kalimat ini dan menahan diri dari larangan-Nya. Dia juga membenci orang yang menyelisihi kalimat laa ilaha illallah, dengan melakukan kesyirikan dan kekufuran yang merupakan pembatal kalimat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menunjukkan adanya syarat ini pada keimanan seorang muslim adalah firman Allah Ta’ala,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.” (QS. Al Baqarah [2] : 165)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat ini, Allah mengabarkan bahwa orang-orang mukmin sangat cinta kepada Allah. Hal ini dikarenakan mereka tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun dalam cinta ibadah. Sedangkan orang-orang musyrik mencintai sesembahan-sesembahan mereka sebagaimana mereka mencintai Allah. Tanda kecintaan seseorang kepada Allah adalah mendahulukan kecintaan kepada-Nya walaupun menyelisihi hawa nafsunya dan juga membenci apa yang dibenci Allah walaupun dia condong padanya. Sebagai bentuk cinta pada Allah adalah mencintai wali Allah dan Rasul-Nya serta membenci musuhnya, juga mengikuti Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, mencocoki jalan hidupnya dan menerima petunjuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Pembahasan syarat laa ilaha illallah ini diringkas dari dua kitab: (1) Ma’arijul Qobul, I/ 327-332 dan (2) Fiqhul Ad’iyyah wal Adzkar, I/180-184)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah syarat-syarat yang harus dipenuhi agar seseorang bisa mendapatkan keutamaan laa ilaha illallah. Jadi, untuk mendapatkan keutamaan-keutamaan laa ilaha illallah bukanlah hanyalah di lisan saja, namun hendaknya seseorang memenuhi syarat-syarat ini dengan amalan/ praktek (tanpa mesti dihafal). Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mampu meyakini makna kalimat tauhid, mengamalkan konsekuensi-konsekuensinya dalam perkataan maupun perbuatan, dan semoga kita mati dalam keadaan mu’min.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5002548945243865869-5318955939541285724?l=readmoslem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://readmoslem.blogspot.com/feeds/5318955939541285724/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5002548945243865869&amp;postID=5318955939541285724&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/5318955939541285724'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/5318955939541285724'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://readmoslem.blogspot.com/2010/01/syarat-kalimat-laa-ilaha-illallah-yang.html' title='Syarat Kalimat Laa Ilaha Illallah Yang harus Dipenuhi'/><author><name>mencoba menjadi lebih baik...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05732610976505096819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_nHva8Y4lnmg/S1Sbw1CbB0I/AAAAAAAAABo/53TaZ0d4BVs/S220/moslem.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5002548945243865869.post-8714284731234527533</id><published>2010-01-31T00:18:00.000-08:00</published><updated>2010-02-18T14:29:24.113-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manajemen Hati'/><title type='text'>Memiliki Sifat Zuhud</title><content type='html'>egala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah sifat yang mulia yang patut setiap hamba belajar untuk memilikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abul ‘Abbas, Sahl bin Sa’ad As-Sa’idi radhiallahu ‘anhu, ia berkata:&lt;br /&gt;جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فَقَالَ : يَا رَسُوْلَ اللهِ ، دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ إِذَا عَمِلْتُهُ اَحَبَّنِيَ اللهُ وَ اَحَبَّنِيَ النَّاسُ فَقَالَ : – اِزْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبُّكَ اللهُ ، وَازْهَدْ فِيْمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحِبُّكَ النَّاسُ-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;حَدِيْثٌ حَسَنٌ رَوَاهُ اِبْنُ مَاجَه وَ غَيْرُهُ بِاَسَانِيْدَ حَسَنَةٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata: ‘Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku suatu perbuatan yang jika aku mengerjakannya, maka aku akan dicintai Allah dan dicintai manusia’. Beliau lantas bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    ‘Zuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah akan mencintaimu. Zuhudlah pula terhadap apa yang ada pada manusia, niscaya manusia mencintaimu’.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Hadits Hasan. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan selainnya dengan sanad hasan]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa Pelajaran dari Hadits Di Atas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama&lt;br /&gt;Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat tamak dalam melakukan setiap kebaikan, mereka adalah manusia yang terdepan dalam melaksanakan kebaikan daripada yang lainnya. Mereka (para sahabat) betul-betul ingin mengetahui suatu amalan yang dapat menyebabkan mereka mendapat kecintaan Allah dan kecintaan manusia. Oleh karena itu, mereka menanyakan hal ini pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “Zuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah akan mencintaimu” menunjukkan bahwa kecintaan Allah diperoleh dengan seseorang zuhud terhadap dunia. Definisi yang paling bagus, ‘zuhud terhadap dunia’ adalah seseorang meninggalkan sesuatu yang dapat melalaikannya dari mengingat Allah. Definisi ini sebagaimana dinukil dari Al Hafizh Ibnu Rojab ketika beliau menjelaskan hadits ini dalam Jami’ul ‘Ulum wal Hikam (2/186) dari Abu Sulaiman Ad Daaroniy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    “Para ‘alim ulama di Iraq berselisih pendapat mengenai pengertian zuhud. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa zuhud adalah menjauhi dari manusia. Ada pula yang mengatakan bahwa zuhud adalah meninggalkan berbagai nafsu syahwat. Ada juga yang mengatakan bahwa zuhud adalah meninggalkan diri dari kekenyangan. Semua definisi ini memiliki maksud yang sama.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Ad Daaroniy mengatakan bahwa beliau cenderung berpendapat bahwa zuhud adalah meninggalkan sesuatu yang dapat melalaikan dari mengingat Allah ‘azza wa jalla. Definis beliau ini sangatlah bagus. Karena definisi yang beliau ajukan telah mencakup makna dan macam-macam zuhud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Zuhudlah pula terhadap apa yang ada pada manusia, niscaya manusia mencintaimu”. Manusia dikenal begitu tamak terhadap harta dan berbagai kesenangan di kehidupan dunia. Kebanyakan manusia sangat kikir untuk mengeluarkan hartanya dan enggan untuk berderma. Padahal Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَأَنفِقُوا خَيْراً لِّأَنفُسِكُمْ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ&lt;br /&gt;    “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta ta’atlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu . Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. At Taghaabun: 16)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya seseorang tidak terkagum-kagum dengan orang yang sangat tamak terhadap dunia dan menampakkan padanya. Jika seseorang merasa cukup dengan apa yang ada pada manusia, dia akan memperoleh kecintaan mereka dan manusia pun akan mencintainya. Jika sudah demikian, maka dia akan selamat dari kejelekan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa faedah berharga dari hadits di atas:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    1. Para sahabat sangat bersemangat melakukan sesuatu yang dapat mendatangkan kecintaann Allah dan manusia.&lt;br /&gt;    2. Dalam hadits di atas terdapat dalil adanya sifat mahabbah (kecintaan) bagi Allah ‘azza wa jalla.&lt;br /&gt;    3. Sesungguhnya kebaikan bagi hamba adalah jika Allah mencintainya.&lt;br /&gt;    4. Untuk memperoleh kecintaan Allah dengan zuhud pada dunia.&lt;br /&gt;    5. Sesungguhnya jika seseorang zuhud terhadap apa yang ada pada manusia, maka itu merupakan sebab baginya untuk mendapatkan kecintaan mereka. Dengan zuhud seperti ini akan membuatnya memperoleh kebaikan dan selamat dari berbagai kejelekan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sumber: Penjelasan Hadits 31 Al Arba’in An Nawawiyah, oleh Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad Al Badr dalam Fathu Qowil Matin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Artikel http://rumaysho.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Catatan ilmu di masa silam, 6 Rabi’ul Awwal 1430 H&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5002548945243865869-8714284731234527533?l=readmoslem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://readmoslem.blogspot.com/feeds/8714284731234527533/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5002548945243865869&amp;postID=8714284731234527533&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/8714284731234527533'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/8714284731234527533'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://readmoslem.blogspot.com/2010/01/memiliki-sifat-zuhud.html' title='Memiliki Sifat Zuhud'/><author><name>mencoba menjadi lebih baik...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05732610976505096819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_nHva8Y4lnmg/S1Sbw1CbB0I/AAAAAAAAABo/53TaZ0d4BVs/S220/moslem.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5002548945243865869.post-8704699964687797332</id><published>2010-01-28T17:50:00.000-08:00</published><updated>2010-02-18T14:29:24.113-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manajemen Hati'/><title type='text'>Letak Kebahagiaan Adalah Di Hati</title><content type='html'>“Yang namanya kaya (ghina’) bukanlah dengan banyaknya harta (atau banyaknya kemewahan dunia). Namun yang namanya ghina’ adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang pasti menginginkan hidup bahagia. Namun banyak orang yang menempuh jalan yang salah dan keliru. Sebagian menyangka bahwa kebahagiaan adalah dengan memiliki mobil mewah, Handphone sekelas Blackberry, memiliki rumah real estate, dapat melakukan tur wisata ke luar negeri, dan lain sebagainya. Mereka menyangka bahwa inilah yang dinamakan hidup bahagia. Namun apakah betul seperti itu? Simak tulisan berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebahagiaan untuk Orang yang Beriman dan Beramal Sholeh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku … Orang yang beriman dan beramal sholeh, merekalah yang sebenarnya merasakan manisnya kehidupan dan kebahagiaan karena hatinya yang selalu tenang, berbeda dengan orang-orang yang lalai dari Allah yang selalu merasa gelisah. Walaupun mungkin engkau melihat kehidupan mereka begitu sederhana, bahkan sangat kekurangan harta. Namun jika engkau melihat jauh, engkau akan mengetahui bahwa merekalah orang-orang yang paling berbahagia. Perhatikan seksama firman-firman Allah Ta’ala berikut.&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. An Nahl: 97). Ini adalah balasan bagi orang mukmin di dunia, yaitu akan mendapatkan kehidupan yang baik.&lt;br /&gt;وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An Nahl: 97). Sedangkan dalam ayat ini adalah balasan di akhirat, yakni alam barzakh.&lt;br /&gt;Begitu pula Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَلَأَجْرُ الْآَخِرَةِ أَكْبَرُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui.” (QS. An Nahl: 41)&lt;br /&gt;وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertobat kepada-Nya. (Jika kamu, mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya.” (QS. Huud: 3). Kedua ayat ini menjelaskan balasan di akhirat bagi orang yang beriman dan beramal sholeh.&lt;br /&gt;Begitu pula Allah Ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az Zumar: 10)&lt;br /&gt;Inilah empat tempat dalam Al Qur’an yang menjelaskan balasan bagi orang yang beriman dan beramal sholeh. Ada dua balasan yang mereka peroleh yaitu balasan di dunia dan balasan di akhirat. Itulah dua kebahagiaan yang nantinya mereka peroleh. Ini menunjukkan bahwa mereka lah orang yang akan berbahagia di dunia dan akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah Satu Bukti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seringkali kita mendengar nama Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Namanya begitu harum di tengah-tengah kaum muslimin karena pengaruh beliau dan  karyanya begitu banyak di tengah-tengah umat ini. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, nama aslinya adalah Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam bin Abdullah bin Muhammad bin Al Khodr bin Muhammad bin Al Khodr bin Ali bin Abdullah bin Taimiyyah Al Haroni Ad Dimasqi. Nama Kunyah beliau adalah Abul ‘Abbas.&lt;br /&gt;Berikut adalah cerita dari murid beliau Ibnul Qayyim mengenai keadaannya yang penuh kesusahan, begitu juga keadaan yang penuh kesengsaraan di dalam penjara. Namun di balik itu, beliau termasuk orang yang paling berbahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,&lt;br /&gt;"Allah Ta’ala pasti tahu bahwa aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih bahagia hidupnya daripada beliau, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Padahal kondisi kehidupan beliau sangat susah, jauh dari kemewahan dan kesenangan duniawi, bahkan sangat memprihatinkan. Ditambah lagi dengan siksaan dan penderitaan yang beliau alami di jalan Allah Ta’ala, yaitu berupa siksaan dalam penjara, ancaman dan penindasan dari musuh-musuh beliau. Namun bersamaan dengan itu semua, aku dapati bahwa beliau adalah termasuk orang yang paling bahagia hidupnya, paling lapang dadanya, paling tegar hatinya dan paling tenang jiwanya. Terpancar pada wajah beliau sinar kenikmatan hidup yang beliau rasakan. Kami (murid-murid Ibnu Taimiyyah), jika kami ditimpa perasaan gundah gulana atau muncul dalam diri kami prasangka-prasangka buruk atau ketika kami merasakan kesempitan hidup, kami segera mendatangi beliau untuk meminta nasehat, maka dengan hanya memandang wajah beliau dan mendengarkan nasehat beliau, serta merta hilang semua kegundahan yang kami rasakan dan berganti dengan perasaan lapang, tegar, yakin dan tenang”.&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pun sering mengatakan berulang kali pada Ibnul Qoyyim, “Apa yang dilakukan oleh musuh-musuhku terhadapku? Sesungguhnya keindahan surga dan tamannya ada di hatiku.”&lt;br /&gt;Begitu pula Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah mengatakan tatkala beliau berada di dalam penjara, padahal di dalamnya penuh dengan kesulitan, namun beliau masih mengatakan, “Seandainya benteng ini dipenuhi dengan emas, tidak ada yang bisa menandingi kenikmatanku berada di sini.”&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga pernah mengatakan, "Sebenarnya orang yang dikatakan dipenjara adalah orang yang hatinya tertutup dari mengenal Allah 'azza wa jalla. Sedangkan orang yang ditawan adalah orang yang masih terus menuruti (menawan) hawa nafsunya (pada kesesatan). "&lt;br /&gt;Bahkan dalam penjara pun, Syaikhul Islam masih sering memperbanyak do’a agar dapat banyak bersyukur pada Allah, yaitu do’a: Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik (Ya Allah, aku meminta pertolongan agar dapat berdzikir, bersyukur dan beribadah dengan baik pada-Mu). Masih sempat di saat sujud, beliau mengucapkan do’a ini. Padahal beliau sedang dalam belenggu, namun itulah kebahagiaan yang beliau rasakan.&lt;br /&gt;Tatkala beliau masuk dalam sel penjara, hingga berada di balik dinding, beliau mengatakan,&lt;br /&gt;فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa.” (QS. Al Hadid: 13)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah kenikmatan yang dirasakan oleh orang yang memiliki keimanan yang kokoh. Kenikmatan seperti ini tidaklah pernah dirasakan oleh para raja dan juga pangeran.&lt;br /&gt;Para salaf mengatakan,&lt;br /&gt;لَوْ يَعْلَمُ المُلُوْكُ وَأَبْنَاءُ المُلُوْكِ مَا نَحْنُ فِيْهِ لَجَلِدُوْنَا عَلَيْهِ بِالسُّيُوْفِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seandainya para raja dan pangeran itu mengetahui kenikmatan yang ada di hati kami ini, tentu mereka akan menyiksa kami dengan pedang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendapatkan Surga Dunia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Di dunia itu terdapat surga. Barangsiapa yang tidak memasukinya, maka dia tidak akan memperoleh surga akhirat.”&lt;br /&gt;Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa surga dunia adalah mencintai Allah, mengenal Allah, senantiasa mengingat-Nya, merasa tenang dan thuma’ninah ketika bermunajat pada-Nya, menjadikan kecintaan hakiki hanya untuk-Nya, memiliki rasa takut dan dibarengi rasa harap kepada-Nya, senantiasa bertawakkal pada-Nya dan menyerahkan segala urusan hanya pada-Nya.&lt;br /&gt;Inilah surga dunia yang dirindukan oleh para pecinta surga akhirat.&lt;br /&gt;Itulah saudaraku surga yang seharusnya engkau raih, dengan meraih kecintaan Allah, senantiasa berharap pada-Nya, serta dibarengi dengan rasa takut, juga selalu menyandarkan segala urusan hanya kepada-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inti dari ini semua adalah letak kebahagiaan bukanlah dengan memiliki istana yang megah, mobil yang mewah, harta yang melimpah. Namun letak kebahagiaan adalah di dalam hati.&lt;br /&gt;Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang namanya kaya (ghina’) bukanlah dengan banyaknya harta (atau banyaknya kemewahan dunia). Namun yang namanya ghina’ adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah memberi petunjuk kepada kita dan memberikan kita surga dunia yaitu dengan memiliki hati yang selalu bersandar pada-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati yang selalu merasa cukup itulah yang lebih utama dari harta yang begitu melimpah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi  wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber rujukan: Shahih Al Wabilush Shoyyib, 91-96, Dar Ibnul Jauziy&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Pogung Kidul, 24 Jumadits Tsani 1430 H, selesai di waktu ‘Ashar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5002548945243865869-8704699964687797332?l=readmoslem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://readmoslem.blogspot.com/feeds/8704699964687797332/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5002548945243865869&amp;postID=8704699964687797332&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/8704699964687797332'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/8704699964687797332'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://readmoslem.blogspot.com/2010/01/letak-kebahagiaan-adalah-di-hati.html' title='Letak Kebahagiaan Adalah Di Hati'/><author><name>mencoba menjadi lebih baik...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05732610976505096819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_nHva8Y4lnmg/S1Sbw1CbB0I/AAAAAAAAABo/53TaZ0d4BVs/S220/moslem.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5002548945243865869.post-8940546787214106891</id><published>2010-01-28T17:48:00.000-08:00</published><updated>2010-02-18T14:29:24.114-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manajemen Hati'/><title type='text'>10 Hal Yg Tidak Bermanfaat Dan Sia - Sia</title><content type='html'>Alhamdulillah wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada posting kali ini, kami akan membawakan beberapa faedah dari kitab Al Fawa’id mengenai hal-hal yang sia-sia dan tidak berfaedah. Hal-hal inilah yang banyak dilalaikan oleh kaum muslimin saat ini, termasuk juga kami. Semoga posting kali ini bisa menjadi nasehat bagi kami dan pembaca sekalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Qoyyim Al Jauziyah mengatakan bahwa ada sepuluh hal yang tidak bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: memiliki ilmu namun tidak diamalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: beramal namun tidak ikhlash dan tidak mengikuti tuntunan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga: memiliki harta namun enggan untuk menginfakkan. Harta tersebut tidak digunakan untuk hal yang bermanfaat di dunia dan juga tidak diutamakan untuk kepentingan akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat: hati yang kosong dari cinta dan rindu pada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima: badan yang lalai dari taat dan mengabdi pada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam: cinta yang di dalamnya tidak ada ridho dari yang dicintai dan cinta yang tidak mau patuh pada perintah-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketujuh: waktu yang tidak diisi dengan kebaikan dan pendekatan diri pada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedelapan: pikiran yang selalu berputar pada hal yang tidak bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesembilan: pekerjaan yang tidak membuatmu semakin mengabdi pada Allah dan juga tidak memperbaiki urusan duniamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesepuluh: rasa takut dan rasa harap pada makhluk yang dia sendiri berada pada genggaman Allah. Makhluk tersebut tidak dapat melepaskan bahaya dan mendatangkan manfaat pada dirinya, juga tidak dapat menghidupkan dan mematikan serta tidak dapat menghidupkan yang sudah mati.&lt;br /&gt;Itulah sepuluh hal yang melalaikan dan sia-sia. Di antara sepuluh hal tersebut yang paling berbahaya dan merupakan asal muasal segala macam kelalaian adalah dua hal yaitu: hati yang selalu lalai dan waktu yang tersia-siakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati yang lalai akan membuat seseorang mengutamakan dunia daripada akhirat, sehingga dia cenderung mengikuti hawa nafsu. Sedangkan menyia-nyiakan waktu akan membuat seseorang panjang angan-angan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Padahal segala macam kerusakan terkumpul karena mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan. Sedangkan segala macam kebaikan ada karena mengikuti al huda (petunjuk) dan selalu menyiapkan diri untuk berjumpa dengan Rabb semesta alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga kita selalu mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Segala puji bagi Allah, yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faedah ilmu dari Al Fawa’id, Ibnu Qoyyim Al Jauziyah, Darul ‘Aqidah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;Artikel Rumaysho.com&lt;br /&gt;Catatan di masa silam, Panggang, Gunung Kidul, pagi hari yang penuh berkah, 16 Muharram 1430 H&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5002548945243865869-8940546787214106891?l=readmoslem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://readmoslem.blogspot.com/feeds/8940546787214106891/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5002548945243865869&amp;postID=8940546787214106891&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/8940546787214106891'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/8940546787214106891'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://readmoslem.blogspot.com/2010/01/10-hal-yg-tidak-bermanfaat-dan-sia-sia.html' title='10 Hal Yg Tidak Bermanfaat Dan Sia - Sia'/><author><name>mencoba menjadi lebih baik...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05732610976505096819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_nHva8Y4lnmg/S1Sbw1CbB0I/AAAAAAAAABo/53TaZ0d4BVs/S220/moslem.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5002548945243865869.post-6428726928169892727</id><published>2010-01-18T09:02:00.000-08:00</published><updated>2010-02-22T21:54:17.851-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hati dan Akidah'/><title type='text'>Mengenal Dasar-dasar Keimanan</title><content type='html'>Mengenal Dasar-dasar Keimanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah wa sholatu wa salaam ‘ala Nabiyina Muhammad wa ‘ala aalihi wa shohbihi ajma’in.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu realita yang cukup memprihatinkan pada saat sekarang ini, adalah kondisi kaum muslimin yang mulai tidak peduli terhadap ajaran agama Islam, terutama terhadap perkara aqidah. Sebagian besar kaum muslimin saat ini lebih disibukkan dengan usaha-usaha perbaikan dan pembangunan fisik, peningkatan ekonomi umat, kesejahteraan kaum muslimin dan lain sebagainya, yang pada hakikatnya seluruh jerih payah tersebut tidak membawa banyak perubahan bagi kaum muslimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka lupa bahwa perkara yang harus dibenahi pertama kali dari umat ini adalah perkara aqidah dan pembenaran iman. Bukankah perkara yang pertama kali diserukan oleh para rasul Allah kepada umatnya, termasuk Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah perkara aqidah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan sungguh Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut”. (QS. An Nahl : 36)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap rasul tidaklah diutus oleh Allah ta’ala melainkan dalam rangka pembenaran dan pelurusan aqidah umat. Setiap kitab tidaklah diturunkan oleh Allah ta’ala melainkan dalam rangka menjelaskan aqidah yang selamat dan menjelaskan segala perkara yang dapat membatalkan atau menguranginya. Dan setiap manusia tidaklah diciptakan melainkan karena tujuan ini. Inilah hakikat kunci kebahagiaan manusia di dunia dan di akhirat. (Lihat Al Irsyad ila Shahihil I’tiqad, hal. 9)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Landasilah Amal Ibadah dengan Iman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sah dan tidaknya amalan seorang hamba, ditentukan dengan benar atau tidaknya keimanannya dan keadaan hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَىٰ تَقْوَىٰ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَمْ مَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَىٰ شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka apakah orang-orang yang membangun bangunan (masjid) atas dasar taqwa kepada Allah dan keridhaan-Nya adalah lebih baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh , lalu (bangunan) tersebut roboh bersama dia ke dalam neraka jahannam.” (QS. At Taubah :109)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh As Sa’diy rahimahullah menjelaskan dalam tafsirnya tatkala menafsirkan ayat tersebut, “Maksud dari membangun bangunan (amal ibadah) atas dasar taqwa adalah ‘atas dasar niat yang sholeh dan keikhlasan kepada Allah’. (Taisir Karimirrahman, hal 352)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan beliau rahimahullah juga mengatakan, “Sesungguhnya iman merupakan syarat sah dan diterimanya amal sholeh. Dan sebuah amal tidaklah dikatakan sebagai amal yang sholeh melainkan jika didasari dengan iman.” (Taisir Karimirrahman, hal 449)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Qayyim Al Jauziyah rahimahullah mengatakan, “Barangsiapa yang hendak meninggikan bangunannya, maka hendaklah dia mengokohkan pondasinya dan memberikan perhatian penuh terhadapnya. Sesungguhnya kadar tinggi bangunan yang bisa dia bangun adalah sebanding dengan kekuatan pondasi yang dia buat. Amalan manusia adalah ibarat bangunan dan pondasinya adalah iman” (Al Fawa’id, hal. 229)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian beliau melanjutkan, “Adapun pondasi tersebut mencakup dua perkara : Pertama adalah pengenalan yang baik seorang hamba kepada Allah ‘Azza wa Jalla, seluruh perintah-Nya, nama dan kepada sifat-sifat-Nya yang mulia, dan yang kedua adalah ketundukan yang sempurna kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam” (Al Fawa’id, hal 229-230)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, hendaklah seorang muslim memberi perhatian untuk memperbaiki keimanannya dan apa yang diyakini oleh hatinya dan berusaha meninggalkan berbagai bentuk keraguan yang dapat mengurangi dan membatalkan keimanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sufyan Ibnu ‘Uyainah rahimahullahu berkata, “Ulama-ulama terdahulu biasa saling mengirim nasehat satu dengan yang lainnya, ‘Barang siapa yang memperbaiki apa yang tersembunyi dalam hatinya, maka Allah akan memperbaiki apa yang nampak dari dirinya, dan barang siapa yang memperbaiki hubungannya dengan Allah, maka Allah akan memperbaiki hubungannya dengan para manusia’”[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iman, Sumber Kebahagiaan di Dunia dan di Akhirat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barang siapa yang beramal sholeh, baik laki-laki maupun perempuan, dan dia adalah seorang yang beriman, maka Kami akan memberikan kehidupan yang baik, dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik, dari pada apa yang telah mereka kerjakan.”(QS. An Nahl : 97)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kehidupan yang baik di dunia adalah lapangnya dada dan tenangnya hati. Walaupun seorang mukmin sedang dilanda musibah yang sangat berat, maka dia akan tetap merasakan kehidupan yang baik, karena kebahagiaan yang hakiki adalah apa yang dirasakan oleh hatinya, yaitu kelapanganan dada dan ketenangan hati. Dan nikmat yang semacam ini tidaklah didapatkan oleh orang-orang yang tidak beriman (orang kafir).[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh As Sa’diy rahimahullah berkata, “Sebab yang paling agung dan paling mendasar yang dapat menyebabkan manusia memperoleh kebahagiaan, adalah iman dan amalan sholih”. Kemudian beliau membawakan ayat di atas (An Nahl : 97) dan mengatakan, “Allah ta’ala telah mengkhabarkan dan menjanjikan bagi orang yang menggabungkan antara iman dan amalan sholeh, bahwa mereka akan mendapatkan kehidupan yang baik di dunia dan balasan yang lebih baik ketika di dunia maupun kelak di alam yang abadi (kampung akhirat)”[3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, apa yang menghalangi dan membuat kita enggan untuk segera membenarkan dan meluruskan iman dan keyakinan kita? Bukankah Allah subhaanahu wa ta’ala telah menawarkan janji berupa kebahagiaan hidup bagi orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya iman? Sesungguhnya Allah tidak akan menyelisihi janji-Nya. Allahul Muwaffiq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iman pun Membutuhkan Bukti dan Realisasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum membahas banyak tentang sub judul ini, ada baiknya apabila kita mengenal apa yang dimaksudkan dengan kata “iman”. Al Azhari berkata, ”Ahli ilmu dari kalangan pakar bahasa sepakat bahwa yang dimaksudkan dengan iman secara bahasa adalah ‘at tashdiq’ (pembenaran/keyakinan)”[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun secara istilah makna iman adalah keyakinan dalam hati, yang diucapkan melalui lisan dan diamalkan dengan anggota badan. Pengertian semacam ini merupakan ijma’ (kesepakatan) ahlussunnah wal jama’ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai mana dikatakan oleh Imam Syafi’i rahimahullahu, “…dan telah menjadi kesepakatan di kalangan para shahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka, bahwa yang dimaksud dengan iman adalah perkataan, amal perbuatan, dan niat (keyakinan di dalam hati), dan tidaklah seseorang diberi balasan pahala melainkan karena ketiga hal tersebut”.[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Al Ajuri rahimahullahu membuat sebuah bab dalam kitab beliau Asy Syari’ah, “Bab : Sesungguhnya iman adalah pembenaran dan keyakinan dalam hati, pengakuan dengan lisan, dan pengamalan dengan anggota badan. Dan seseorang tidak disebut beriman melainkan jika mengumpulkan ketiga unsur iman tersebut.”[6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah keimanan yang hakiki, terpatri kokoh di dalam hati seorang mukmin, terpancar dari lisannya dan tercermin dari tingkah laku dan perbuatannya. Terkumpul pada dirinya tiga hal, keyakinan, pengakuan dan pengamalan, satu dengan lainnya tidak terpisahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahl bin Abdillah At Tustury rahimahullahu berkata, “Iman adalah perkataan, amalan, niat dan sunnah. Karena barangsiapa yang hanya mengumpulkan perkataan tanpa disertai amalan, maka ini adalah bentuk kekafiran, jika hanya mengumpulkan perkataan dan perbuatan tanpa disertai niat (keyakinan) maka ini adalah bentuk kemunafikan, dan jika hanya terkumpul perkataan, perbuatan, dan niat tanpa disertai sunnah, maka ini adalah bid’ah”.[7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenal Rukun Iman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rukun iman yang harus diyakini oleh seorang mukmin ada enam. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya oleh Malaikat Jibril ‘alaihis salam tentang iman, beliau shallallahu wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iman adalah engkau beriman kepada Allah, kepada malaikat-Nya, kepada kitab-kitab-Nya,kepada para rasul-Nya, kepada hari akhir dan engkau beriman terhadap taqdir (ketetapan) Allah, baik (ketetapan) yang baik maupun yang buruk”[8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah pondasi yang sangat mendasar dalam Islam, yang keenam hal tersebut disebut dengan “rukun iman”, pondasi yang harus dibenahi sebelum kita membenahi perkara-perkara lainnya dari kehidupan ini. Masing-masing rukun iman tersebut membutuhkan penjelasan tersendiri. Semoga Allah memberikan kemudahan dalam membahas rukun iman lain secara lebih lengkap. Allahul Muwwafiq. Washallallahu ‘ala Nabiyina Muhammad wa ‘ala aalihi wa shohbihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Abu Fauzan Hanif Nur Fauzi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muroja’ah: M. A. Tuasikal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel www.muslim.or.id&lt;br /&gt;[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Diriwayatkan oleh Hinad bin Sirriy dalam Kitab Az Zuhud, Al Wakii’ dalam Az Zuhud dan Abu Nu’aim dalam Hilyah (kami mengutip dari Kitab Mukhtashor Al Iman Al Kabir, Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab, hal. 31, Maktabah Darul Minhaj)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Kitabul ‘Ilmi, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3] Al Wasailul Mufidah Lil Hayyatis Sa’iidah, Syaikh Abdurrahman As Sa’diy, As Syamilah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4] Tahdzib Lughah (15/513) (Penulis mengutip dari Kitab Mukhtashor Al Iman Al Kabir, Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab, hal. 31, Maktabah Darul Minhaj)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5] Sebagaimana disebutkan oleh Imam Al Lalika’I dalam syarah Ushul I’tiqad Ahli Sunnah wal jama’ah, hal. 1593.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6] Asy Syari’ah (2/211)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7] Lihat Mukhtashor Al Iman Al Kabir, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, Cet. Maktabah Darul Minhaj, hal. 94-95.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[8] HR. Muslim, dalam shahihnya no. 8, dari shahabat Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu&lt;br /&gt;Klik dan sebarkan:&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5002548945243865869-6428726928169892727?l=readmoslem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://readmoslem.blogspot.com/feeds/6428726928169892727/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5002548945243865869&amp;postID=6428726928169892727&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/6428726928169892727'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/6428726928169892727'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://readmoslem.blogspot.com/2010/01/mengenal-dasar-dasar-keimanan.html' title='Mengenal Dasar-dasar Keimanan'/><author><name>mencoba menjadi lebih baik...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05732610976505096819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_nHva8Y4lnmg/S1Sbw1CbB0I/AAAAAAAAABo/53TaZ0d4BVs/S220/moslem.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5002548945243865869.post-1850693469161107177</id><published>2010-01-18T08:53:00.000-08:00</published><updated>2010-02-16T08:26:08.806-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sholat'/><title type='text'>Dirikanlah Shalat (3): Waktu-waktu Terlarang dan Tempat-Tempat Terlarang untuk Melaksanakan Shalat</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dirikanlah Shalat&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; (3): Waktu-waktu Terlarang dan Tempat-Tempat Terlarang untuk Melaksanakan Shalat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Ummul Hasan Athirah&lt;br /&gt;Muraja’ah: Ustadz Abu Ukkasyah Aris Munandar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, atas kemudahan dan taufik dari Allah kita akan memulai kembali pelajaran singkat kita tentang shalat. Pada edisi kali ini, kita akan sedikit mengkaji waktu-waktu terlarang dan tempat-tempat terlarang untuk melaksanakan shalat. Semoga bermanfaat bagi kita semua di dunia dan akhirat. Aamiin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu-Waktu Terlarang untuk Melaksanakan Shalat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu-waktu terlarang yang kita maksud pada pembahasan ini adalah waktu untuk melaksanakan shalat sunnah. Terdapat tiga waktu terlarang untuk mengerjakan shalat sunnah, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Waktu terbit matahari.&lt;br /&gt;   2. Waktu condong matahari pada tengah hari.&lt;br /&gt;   3. Waktu tenggelamnya matahari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Ada tiga waktu yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kami untuk shalat atau mengubur mayat pada waktu-waktu tersebut, yaitu ketika matahari terbit hingga dia meninggi, ketika bayangan seseorang tampak tegak lurus saat dia berdiri dia bawah sinar matahari hingga condongnya matahari, ketika pancaran sinar matahari semakin berkurang saat hendak terbenam hingga waktu terbenamnya.” (Hadits shahih, diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Muslim, Abu Daud, dan Tirmidzi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara ulama terdapat perbedaan pendapat ilmiah tentang tetap boleh atau tidaknya melaksanakan shalat sunnah pada waktu terlarang, jika ada sebab melaksanakannya. Dua pendapat ulama tersebut adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Shalat sunnah boleh dilaksanakan pada waktu-waktu terlarang untuk melaksanakan shalat, jika ada sebab melaksanakannya.&lt;br /&gt;   2. Shalat sunnah tidak boleh dilaksanakan pada waktu-waktu terlarang untuk melaksanakan shalat, meskipun ada sebab melaksanakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam permasalahan ini pendapat yang lebih kuat adalah pendapat pertama (yang membolehkan jika ada sebab). Wallahu a’lam. Di antara contoh sebab tersebut adalah shalat tahiyyatul masjid, shalat gerhana, istisqa’, dan shalat sunnah dua rakaat setelah berwudhu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita sertakan beberapa contoh tentang penjelasan di atas. Semoga menambah pemahaman kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat kita masuk ke sebuah masjid pukul 06.00, misalnya untuk mengikuti pengajian, bolehkah kita shalat tahiyyatul masjid padahal saat itu adalah waktu terlarang untuk shalat? Jawabannya: Boleh, karena kita memiliki sebab untuk melaksanakan shalat di waktu terlarang tersebut, yaitu karena kita masuk ke dalam masjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lain, yaitu saat kita berwudhu pada pukul 11.30, apakah kita boleh melaksanakan shalat sunnah dua rakaat setelah wudhu? Jawabannya: Boleh, karena sebab kita melaksanakan shalat sunnah tersebut adalah kita selesai melaksanakan wudhu. Shalat sunnah dua rakaat setelah berwudhu merupakan salah satu tuntunan dalam Islam yang ganjarannya begitu mulia. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Bilal ketika shalat shubuh, “Wahai Bilal, beritahukanlah kepadaku tentang sebuah amal yang paling engkau harapkan dalam Islam, karena aku mendengar suara kedua sendalmu berada di hadapanku di surga.” Bilal berkata, “Aku tidak mengetahui amalan yang paling aku harapkan (sebagai amal andalan) selain bahwasanya aku tidaklah berwudhu pada malam atau siang hari, melainkan aku akan shalat semampuku.” (Hadits muttafaq ‘alaih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun jika kita sekadar hendak shalat di waktu terlarang, tanpa ada sebab tertentu, maka itu tidak diperbolehkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu-Waktu dan Tempat-Tempat yang Dikecualikan dari Pelarangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عن عقبة بن عامر رضي الله عنه قال: ((ثلاث ساعات كان رسول الله صلى الله عليه وسلم ينهان أن نصلي فيهن أو أن نقبر فيهن موتانا: حين تطلع الشمس بازغة حتى ترتفع، و حين يقوم قائم الظهيرة حتى تميل الشمس و حين تضيف الشمس للغروب حتى تغرب&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ‘Uqbah bin Anir radhiyallhu ‘anhu, dia berkata, “Tiga waktu yang Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam melarang kami untuk shalat pada waktu-waktu tersebut atau menguburkan mayat pada saat tersebut adalah ketika matahari terbit hingga matahari tersebut meninggi, ketika tengah hari hingga matahari condong, dan ketika petang hari hingga saat matahari terbenam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat-Tempat Terlarang untuk Melaksanakan Shalat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku diberi keutamaan atas para nabi dengan enam hal: aku diberi jawaami’il kalim (kalimat ringkas namun padat makna –pen), aku ditolong pada peperangan (dengan rasa takut pada dada musuhku), harta rampasan perang dihalalkan bagiku, bagiku bumi dijadikan untuk bersuci (tayamum) dan sebagai masjid (tempat untuk shalat –pen), aku diutus kepada seluruh makhluk, dan aku menjadi penutup para nabi.” (Hadits shahih, riwayat Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan hadits tersebut, dapat dipahami bahwa seluruh bagian permukaan bumi adalah masjid (tempat untuk shalat), kecuali kuburan, kamar mandi, dan kandang unta. Pengecualian tersebut disebutkan pada hadits-hadits berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Jundub bin Abdullah Al-Bajlaa, dia berkata, “Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lima hari sebelum beliau wafat, beliau bersabda, “Ketahuilah bahwa umat sebelum kalian menjadikan kubur para nabi mereka dan orang-orang shalih mereka sebagai masjid. Ketahuilah, jangnlah kalian menjadikan kuburan sebagai masjid-masjid. Sesungguhnya aku melarang kalian dari hal tersebut.” (Hadits shahih, riwayat Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Sa’id Al-Khudry, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Seluruh bagian bumi adalah masjid, kecuali kuburan dan kamar mandi’.” (Hadits shahih, riwayat Ibnu Majah, Abu Daud, dan Tirmidzi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Barra ‘ bin Azib, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang shalat di kandang unta, maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Janganlah kalian shalat di kandang unta, karena sesungguhnnya itu di antara tempat setan-setan.’ Dan beliau ditanya tentang shalat di kandang kambing, maka beliau bersabda, ‘Shalatlah kalian di sana karena dia merupakan tempat yang mengandung berkah.’.” (Hadits shahih, riwayat Ibnu Majah dan Abu Daud)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;–&lt;br /&gt;Maraji`:&lt;br /&gt;Al-Wajiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil  ‘Aziiz oleh Syaikh ‘Abdul ‘Azhim Ibnu Badawi, tahun terbit 1421 H/2001 M, Mesir: Daar Ibnu Rajab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel muslimah.or.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5002548945243865869-1850693469161107177?l=readmoslem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://readmoslem.blogspot.com/feeds/1850693469161107177/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5002548945243865869&amp;postID=1850693469161107177&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/1850693469161107177'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/1850693469161107177'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://readmoslem.blogspot.com/2010/01/dirikanlah-shalat-3-waktu-waktu.html' title='Dirikanlah Shalat (3): Waktu-waktu Terlarang dan Tempat-Tempat Terlarang untuk Melaksanakan Shalat'/><author><name>mencoba menjadi lebih baik...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05732610976505096819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_nHva8Y4lnmg/S1Sbw1CbB0I/AAAAAAAAABo/53TaZ0d4BVs/S220/moslem.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5002548945243865869.post-4264899710038470671</id><published>2010-01-18T08:49:00.001-08:00</published><updated>2010-02-18T14:29:55.916-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sekedar info'/><title type='text'>Cinta Bukanlah Disalurkan Lewat Pacaran</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Cinta Bukanlah Disalurkan Lewat Pacaran&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diposting oleh admin ⋅ 23 April 2009 ⋅ Kirim buletin ini Kirim buletin ini ⋅ Cetak buletin ini Cetak buletin ini ⋅ Kirim komentar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;At Tauhid edisi V/17&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta kepada lain jenis merupakan hal yang fitrah bagi manusia. Karena sebab cintalah, keberlangsungan hidup manusia bisa terjaga. Oleh sebab itu, Allah Ta’ala menjadikan wanita sebagai perhiasan dunia dan kenikmatan bagi penghuni surga. Islam sebagai agama yang sempurna juga telah mengatur bagaimana menyalurkan fitrah cinta tersebut dalam syariatnya yang rahmatan lil ‘alamin. Namun, bagaimanakah jika cinta itu disalurkan melalui cara yang tidak syar`i? Fenomena itulah yang melanda hampir sebagian besar anak muda saat ini. Penyaluran cinta ala mereka biasa disebut dengan pacaran. Berikut adalah beberapa tinjauan syari’at Islam mengenai pacaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajaran Islam Melarang Mendekati Zina&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Isro’ [17]: 32)&lt;br /&gt;Dalam Tafsir Jalalain dikatakan bahwa larangan dalam ayat ini lebih keras daripada perkataan ‘Janganlah melakukannya’. Artinya bahwa jika kita mendekati zina saja tidak boleh, apalagi sampai melakukan zina, jelas-jelas lebih terlarang. Asy Syaukani dalam Fathul Qodir mengatakan, ”Apabila perantara kepada sesuatu saja dilarang, tentu saja tujuannya juga haram dilihat dari maksud pembicaraan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilihat dari perkataan Asy Syaukani ini, maka kita dapat simpulkan bahwa setiap jalan (perantara) menuju zina adalah suatu yang terlarang. Ini berarti memandang, berjabat tangan, berduaan dan bentuk perbuatan lain yang dilakukan dengan lawan jenis karena hal itu sebagai perantara kepada zina adalah suatu hal yang terlarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam Memerintahkan untuk Menundukkan Pandangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah memerintahkan kaum muslimin untuk menundukkan pandangan ketika melihat lawan jenis. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah kepada laki–laki yang beriman : ”Hendaklah mereka menundukkan pandangannya dan memelihara kemaluannya.” (QS. An Nuur [24]: 30 )&lt;br /&gt;Dalam lanjutan ayat ini, Allah juga berfirman, “Katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman : “Hendaklah mereka menundukkan pandangannya, dan kemaluannya” (QS. An Nuur [24]: 31)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat pertama di atas mengatakan, ”Ayat ini merupakan perintah Allah Ta’ala kepada hamba-Nya yang beriman untuk menundukkan pandangan mereka dari hal-hal yang haram. Janganlah mereka melihat kecuali pada apa yang dihalalkan bagi mereka untuk dilihat (yaitu pada istri dan mahromnya). Hendaklah mereka juga menundukkan pandangan dari hal-hal yang haram. Jika memang mereka tiba-tiba melihat sesuatu yang haram itu dengan tidak sengaja, maka hendaklah mereka memalingkan pandangannya dengan segera.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menafsirkan ayat kedua di atas, Ibnu Katsir juga mengatakan, ”Firman Allah (yang artinya) ‘katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman : hendaklah mereka menundukkan pandangan mereka’ yaitu hendaklah mereka menundukkannya dari apa yang Allah haramkan dengan melihat kepada orang lain selain suaminya. Oleh karena itu, mayoritas ulama berpendapat bahwa tidak boleh seorang wanita melihat laki-laki lain (selain suami atau mahromnya, pen) baik dengan syahwat dan tanpa syahwat. … Sebagian ulama lainnya berpendapat tentang bolehnya melihat laki-laki lain dengan tanpa syahwat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana jika kita tidak sengaja memandang lawan jenis?&lt;br /&gt;Dari Jarir bin Abdillah, beliau mengatakan, “Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pandangan yang cuma selintas (tidak sengaja). Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepadaku agar aku segera memalingkan pandanganku.” (HR. Muslim no. 5770)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faedah dari menundukkan pandangan, sebagaimana difirmankan Allah dalam surat An Nur ayat 30 (yang artinya) “yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka” yaitu dengan menundukkan pandangan akan lebih membersihkan hati dan lebih menjaga agama orang-orang yang beriman. Inilah yang dikatakan oleh Ibnu Katsir –semoga Allah merahmati beliau- ketika menafsirkan ayat ini. –Semoga kita dimudahkan oleh Allah untuk menundukkan pandangan sehingga hati dan agama kita selalu terjaga kesuciannya-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama Islam Melarang Berduaan dengan Lawan Jenis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu Abbas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita kecuali jika bersama mahromnya.” (HR. Bukhari, no. 5233)&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita yang tidak halal baginya karena sesungguhnya syaithan adalah orang ketiga di antara mereka berdua kecuali apabila bersama mahromnya.” (HR. Ahmad no. 15734. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan hadits ini shohih ligoirihi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jabat Tangan dengan Lawan Jenis Termasuk yang Dilarang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu , Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.” (HR. Muslim no. 6925)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita melihat pada hadits di atas, menyentuh lawan jenis -yang bukan istri atau mahrom- diistilahkan dengan berzina. Hal ini berarti menyentuh lawan jenis adalah perbuatan yang haram karena berdasarkan kaedah ushul “apabila sesuatu dinamakan dengan sesuatu lain yang haram, maka menunjukkan bahwa perbuatan tersebut adalah haram”. (Lihat Taysir Ilmi Ushul Fiqh, Abdullah bin Yusuf Al Juda’i)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meninjau Fenomena Pacaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah pemaparan kami di atas, jika kita meninjau fenomena pacaran saat ini pasti ada perbuatan-perbuatan yang dilarang di atas. Kita dapat melihat bahwa bentuk pacaran bisa mendekati zina. Semula diawali dengan pandangan mata terlebih dahulu. Lalu pandangan itu mengendap di hati. Kemudian timbul hasrat untuk jalan berdua. Lalu berani berdua-duan di tempat yang sepi. Setelah itu bersentuhan dengan pasangan. Lalu dilanjutkan dengan ciuman. Akhirnya, sebagai pembuktian cinta dibuktikan dengan berzina. –Naudzu billahi min dzalik-. Lalu pintu mana lagi paling lebar dan paling dekat dengan ruang perzinaan melebihi pintu pacaran?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkinkah ada pacaran Islami? Sungguh, pacaran yang dilakukan saat ini bahkan yang dilabeli dengan ’pacaran Islami’ tidak mungkin bisa terhindar dari larangan-larangan di atas. Renungkanlah hal ini!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mustahil Ada Pacaran Islami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang dai terkemuka pernah ditanya, ”Ngomong-ngomong, dulu bapak dengan ibu, maksudnya sebelum nikah, apa sempat berpacaran?”&lt;br /&gt;Dengan diplomatis, si dai menjawab,”Pacaran seperti apa dulu? Kami dulu juga berpacaran, tapi berpacaran secara Islami. Lho, gimana caranya? Kami juga sering berjalan-jalan ke tempat rekreasi, tapi tak pernah ngumpet berduaan. Kami juga gak pernah melakukan yang enggak-enggak, ciuman, pelukan, apalagi –wal ‘iyyadzubillah- berzina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nuansa berpikir seperti itu, tampaknya bukan hanya milik si dai. Banyak kalangan kaum muslimin yang masih berpandangan, bahwa pacaran itu sah-sah saja, asalkan tetap menjaga diri masing-masing. Ungkapan itu ibarat kalimat, “Mandi boleh, asal jangan basah.” Ungkapan yang hakikatnya tidak berwujud. Karena berpacaran itu sendiri, dalam makna apapun yang dipahami orang-orang sekarang ini, tidaklah dibenarkan dalam Islam. Kecuali kalau sekedar melakukan nadzar (melihat calon istri sebelum dinikahi, dengan didampingi mahramnya), itu dianggap sebagai pacaran. Atau setidaknya, diistilahkan demikian. Namun itu sungguh merupakan perancuan istilah. Istilah pacaran sudah kadong dipahami sebagai hubungan lebih intim antara sepasang kekasih, yang diaplikasikan dengan jalan bareng, jalan-jalan, saling berkirim surat, ber SMS ria, dan berbagai hal lain, yang jelas-jelas disisipi oleh banyak hal-hal haram, seperti pandangan haram, bayangan haram, dan banyak hal-hal lain yang bertentangan dengan syariat. Bila kemudian ada istilah pacaran yang Islami, sama halnya dengan memaksakan adanya istilah, meneggak minuman keras yang Islami. Mungkin, karena minuman keras itu di tenggak di dalam masjid. Atau zina yang Islami, judi yang Islami, dan sejenisnya. Kalaupun ada aktivitas tertentu yang halal, kemudian di labeli nama-nama perbuatan haram tersebut, jelas terlalu dipaksakan, dan sama sekali tidak bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pacaran Terbaik adalah Setelah Nikah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam yang sempurna telah mengatur hubungan dengan lawan jenis. Hubungan ini telah diatur dalam syariat suci yaitu pernikahan. Pernikahan yang benar dalam Islam juga bukanlah yang diawali dengan pacaran, tapi dengan mengenal karakter calon pasangan tanpa melanggar syariat. Melalui pernikahan inilah akan dirasakan percintaan yang hakiki dan berbeda dengan pacaran yang cintanya hanya cinta bualan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kami tidak pernah mengetahui solusi untuk dua orang yang saling mencintai semisal pernikahan.” (HR. Ibnu Majah no. 1920. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani)&lt;br /&gt;Kalau belum mampu menikah, tahanlah diri dengan berpuasa. Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mampu untuk menikah, maka menikahlah. Karena itu lebih akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu bagaikan kebiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;Ibnul Qayyim berkata, ”Hubungan intim tanpa pernikahan adalah haram dan merusak cinta, malah cinta di antara keduanya akan berakhir dengan sikap saling membenci dan bermusuhan, karena bila keduanya telah merasakan kelezatan dan cita rasa cinta, tidak bisa tidak akan timbul keinginan lain yang belum diperolehnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta sejati akan ditemui dalam pernikahan yang dilandasi oleh rasa cinta pada-Nya. Mudah-mudahan Allah memudahkan kita semua untuk menjalankan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya. Allahumma inna nas’aluka ’ilman nafi’a wa rizqon thoyyiban wa ’amalan mutaqobbbalan. [Muhammad Abduh Tuasikal]&lt;br /&gt;Print This PostTag: cinta, nikah, pacaran, pacaran islami, zina&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5002548945243865869-4264899710038470671?l=readmoslem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://readmoslem.blogspot.com/feeds/4264899710038470671/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5002548945243865869&amp;postID=4264899710038470671&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/4264899710038470671'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/4264899710038470671'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://readmoslem.blogspot.com/2010/01/cinta-bukanlah-disalurkan-lewat-pacaran.html' title='Cinta Bukanlah Disalurkan Lewat Pacaran'/><author><name>mencoba menjadi lebih baik...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05732610976505096819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_nHva8Y4lnmg/S1Sbw1CbB0I/AAAAAAAAABo/53TaZ0d4BVs/S220/moslem.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5002548945243865869.post-4414956137064716814</id><published>2010-01-18T08:43:00.000-08:00</published><updated>2010-01-18T08:45:16.063-08:00</updated><title type='text'>Masuk Surga Tanpa Hisab dan Tanpa Adzab</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Masuk Surga Tanpa Hisab dan Tanpa Adzab&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diposting oleh admin ⋅ 14 January 2010 ⋅ Kirim buletin ini Kirim buletin ini ⋅ Cetak buletin ini Cetak buletin ini ⋅ Kirim komentar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;At Tauhid edisi VI/03&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Hanif Nur Fauzi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca yang dimuliakan oleh Allah ta’ala, kebahagiaan yang hakiki dalam hidup ini adalah ketika seorang hamba dijauhkan oleh Allah ta’ala dari siksa api neraka dan ketika Allah memasukkannya ke dalam surga-Nya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang dijauhkan dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh dia telah memperoleh kemenangan, dan bukanlah kehidupan dunia melainkan kehidupan yang menipu.” (QS. ‘Ali Imran: 185) Syaikh As Sa’diy rahimahullah mengatakan, “Orang yang memperoleh kemenangan adalah mereka yang selamat dari adzab yang pedih, dia bisa menikmati berbagai macam kenikmatan di surga. Kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata manusia sebelumnya, belum pernah didengar oleh telinga manusia, dan belum pernah terlintas di dalam hati manusia.”[1] Demikianlah seharusnya orientasi kehidupan seorang muslim, menjadikan kebahagiaan akhirat sebagai puncak cita dan harapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tauhid, Kunci Kebahagiaan Manusia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kita mengetahui bahwa kabahagiaan yang hakiki adalah kebahagiaan akhirat, yaitu ketika manusia menikmati kenikmatan surga, sudah selayaknya kita memahami apa sarana yang dapat menghantarkan seseorang menuju surga dengan berbagai kenikmatan yang ada di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku, ketahuilah bahwa kunci kebahagiaan tersebut adalah tauhid, menyerahkan segala bentuk ibadah hanya kepada Allah ta’ala semata. Barangsiapa yang dapat merealisasikan tauhid dalam seluruh perjalanan hidupnya, dan menjauhi kesyirikan maka sungguh dia adalah orang yang memperoleh kemenangan yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Yaitu orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan keimanan dengan kedzoliman (kesyirikan[2]), mereka lah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mendapatkan petunjuk” (Al An’am:82)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ketika beliau menerangkan hakikat hak Allah kepada shahabat Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, “Sesungguhnya hak Allah yang wajib dipenuhi hambanya adalah hendaklah mereka beribadah kepada Allah semata dan tidak berbuat kesyirikan sedikit pun, dan hak hamba yang akan dipenuhi oleh Allah, adalah Allah tidak akan mengadzab orang-orang yang tidak berbuat kesyirikan”[3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh As Sa’diy rahimahullah menjelaskan bahwa diantara keutamaan orang yang merealisasikan tauhid adalah terbebasnya ahli tauhid dari kekekalan siksa neraka, bisa jadi orang tersebut disiksa di neraka untuk menghapus dosa-dosanya, namun tidak selama-lamanya. Tetapi jika ahli tauhid mampu merealisasikan tauhid dengan sebenar-benarnya, maka niscaya Allah ta’ala akan menjaga dirinya dari siksa api neraka secara sempurna.[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesempurnaan tauhid yang terpateri dalam hati seorang ahli tauhid akan memerdekakannya dari penghambaan diri dan ketergantungan hati kepada makhluk, akan membebaskan diri dari rasa takut dan berharap kepada makhluk. Inilah hakikat dari kemuliaan seorang manusia.[5] Hanyalah kepada Allah, seorang ahli tauhid akan menghambakan diri dan menggantungkan hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hakikat Merealisasikan Tauhid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang hamba yang merealisasikan tauhid maknanya adalah mensucikan diri dari segala cabang-cabang kesyirikan, bid’ah dan kemaksiatan.[6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rahimahullahu menjelaskan secara ringkas bahwa makna ‘merealisasikan tauhid’ adalah membersihkan diri dari noda-noda kesyirikan. Ini tidak akan pernah terwujud dalam diri hamba melaikan terpenuhi tiga perkara: Al Ilmu (mengetahui makna tauhid), Al I’tiqod (meyakini kandungan tauhid) dan Al Inqiyad (tunduk terhadap konsekuensi-konsekuensi tauhid).[7] Jika ketiga hal tadi telah terwujud dan terbukti secara nyata pada seseorang (secara umum) maka masuk surga tanpa hisab menjadi jaminan bagi dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah Balasan bagi Sang Perealisasi Tauhid&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku, diantara balasan orang yang merealisasikan tauhid adalah masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab. Ibnu ‘Abbas -radhiyallahu ‘anhuma- mengatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, dalam hadits yang panjang:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Telah diperlihatkan kepada diriku umat-umat manusia. Aku melihat seorang Nabi yang bersamanya beberapa orang dan bersamanya satu dan dua orang, serta seorang Nabi yang tidak ada seorang pun bersamanya. Tiba-tiba ditampakkan kepada diriku sekelompok manusia yang berjumlah banyak, dan aku pun mengira bahwa mereka adalah umatku. Tetapi dikatakan kepadaku, ‘Ini adalah Musa bersama kaumnya’. Lalu tiba-tiba aku melihat sekelompok manusia yang banyak pula. Kemudian dikatakan kepadaku ini adalah umatmu, dan bersama mereka ada tujuh puluh ribu orang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit dan bergegas masuk ke dalam rumahnya. Maka para shahabat mulai membicarakan siapakah mereka itu. Di antara mereka ada yang mengatakan, ‘Mungkin mereka adalah orang-orang yang menjadi shahabat Rasulullah’. Ada lagi yang mengatakan, ‘Mungkin mereka adalah orang-orang yang dilahirkan dalam lingkungan Islam, sehingga mereka tidak pernah berbuat kesyirikan’. Dan ada di antara mereka yang menyebutkan kemungkinan lainnya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dan menemui mereka dan menjelaskan, “Mereka adalah orang-orang tidak meminta diruqyah, tidak meminta diobati dengan cara kai (menempel luka dengan besi panas), tidak melakukan tathayur, dan mereka adalah orang-orang yang bertawakal kepada Rabb mereka”. (HR. Bukhari 5705, 6541 dan Muslim 220)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna Istirqa’ (Meminta untuk Diruqyah oleh Orang Lain)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruqyah adalah bacaan-bacaan tertentu untuk perlindungan yang dibacakan kepada seseorang yang menderita penyakit, semisal penyakit demam, penyakit ayan dan penyakit yang lainnya.[8] Pada asalnya, ruqyah adalah sebagaimana cara pengobatan pada umumnya. Ada beberapa syarat yang harus ada agar ruqyah tersebut tergolong ruqyah yang disyariatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara syarat-syarat ruqyah yang disyari’atkan adalah: (1) Tidak meyakini bahwa ruqyah tersebut mampu menyembuhkan dengan sendirinya, tanpa izin dari Allah ta’ala. (2) Tidak mengandung kata-kata yang menyelisihi syariat, semisal lafadz-lafadz doa kepada selain Allah, meminta bantuan kepada jin dan yang semisalnya. (3) Lafadz-lafadz ruqyah hendaklah dapat dipahami maknanya.[9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun ruqyah yang tidak memenuhi syarat di atas, maka merupakan ruqyah yang terlarang, bisa menjadi sarana kesyirikan atau bahkan bisa termasuk ke dalam syirik besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Qayyim, menukil perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahumallahu, menjelaskan bahwa yang terlarang adalah meminta untuk diruqyah oleh orang lain. Karena pada diri orang yang meminta diruqyah, terdapat kecondongan dan penyandaran hati kepada selain Allah ta’ala. Adapun jika kita meruqyah orang lain, maka hal ini tidak termasuk dalam larangan makruh ini.[10] Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah meruqyah[11] diri beliau sendiri, demikian pula Malaikat Jibril pernah meruqyah beliau[12], demikian pula para shahabat juga pernah meruqyah.[13]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna Pengobatan Kai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengobatan kai adalah pengobatan dengan cara menempelkan besi panas pada luka dengan tujuan agar darah yang keluar dari luka cepat mengering dan berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnul Atsir rahimahullahu membawakan pendapat bahwa hukum pengobatan kai adalah terlarang jika digunakan sebagai media pencegahan penyakit, namun hukumnya mubah ketika ada kebutuhan.[14] Hanya saja, seseorang yang tidak meminta diobati dengan cara kai, menunjukkan adanya kesempurnaan tawakal kepada Allah ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makna Tathayur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Atsir rahimahullahu dalam kitabnya An Nihayah menjelaskan, tathayur adalah merasa sial terhadap sesuatu, yang karenanya dia membatalkan niat untuk melakukan aktivitasnya.[15] Tathayur diambil dari kata ‘thairun’ (Indonesia: burung), karena orang arab biasa beranggapan sial atau merasa beruntung dengan mengaitkannya dengan burung. Ketika hendak safar, dalam rangka ‘penunjuk jalan’, mereka menggertak burung, jika burung terbang ke arah kanan maka mereka meneruskan perjalanannya, tetapi jika burung ke arah kiri, maka mereka membatalkan perjalanan mereka.[16]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Thiyarah adalah syirik, thiyarah adalah syirik, thiyarah adalah syirik, tidak ada seorang pun di antara kita melainkan (dalam hatinya terdapat hal ini), hanya saja Allah menghilangkannya dengan tawakalnya”[17] (Thiyarah -dalam bahasa arab- adalah bentuk jamak dari tathayur)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tathayur adalah perkara yang terlarang dalam agama Islam, karena tathayur menyebabkan berkurangnya kemurnian tauhid seseorang. Seseorang yang melakukan tathayur maka dia telah bertawakal dan menyandarkan hatinya kepada selain Allah ta’ala, dan dia telah melakukan sebab yang pada hakikatnya tidak ada kaitan dan hubungannya sama sekali dengan keinginannya.[18]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tawakal hanya kepada Allah ta’ala Semata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa sifat yang terakhir dari orang yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa azdab adalah bertawakal kepada Allah ta’ala. Inilah pangkal dari segalanya. Tawakal adalah penyandaran hati dengan sebenarnya kepada Allah ta’ala dalam mewujudkan kebaikan dan dalam menangkal bahaya, dengan diiringi usaha-usha yang diijinkan dalam syari’at Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab utama yang menghantarkan seseorang masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab, adalah adanya kesempurnaan tauhid pada dirinya. Karena kesempurnaan tauhid dan penyandaran hati kepada Allah itulah, mereka enggan untuk meminta ruqyah, meminta di-kay kepada orang lain, karena pada hakikatnya perbuatan semacam itu sangat besar kemungkinan hilangnya tawakal kepada Allah ta’ala dalam dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah ta’ala berfirman (yang artinya): “Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya).” (Ath Tholaq : 3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tawakal pun Membutuhkan Usaha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukanlah maksud hadits di atas, seseorang tidak perlu berusaha dalam mewujudkan keinginannya, hanya berpangku tangan menunggu pertolongan Allah datang. Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu menjelaskan[19] bahwa, tawakal harus memenuhi dua hal, yaitu (1) Penyandaran hati yang sebenarnya kepada Allah ta’ala, (2) Melakukan sebab-sebab yang diijinkan dalam syari’at.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua hal tersebut harus beriringan, tidak boleh seseorang bersandar kepada Allah tanpa ada usaha sedikit pun, atau melakukan usaha tanpa menyandarkan hati kepada Allah ta’ala. Ibnul Qayyim rahimahullahu mengatakan, ”Barang siapa yang meniadakan sebab dalam usahanya, maka hal ini menunjukkan kecacatan tawakalnya, barang siapa yang tidak berusaha maka hanya akan menjadikan harapannya sebatas angan-angan semata.”[20]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah ta’ala menjadikan kita sebagai bagian dari barisan muwahhidin (ahli tauhid), yang mendapatkan janji dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk surga tanpa adzab dan tanpa hisab. Amiin. [Hanif Nur Fauzi]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;_____________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Taisir Karimirrahman, hal. 159, Cetakan Maktabah Ar Rusyd&lt;br /&gt;[2] Sebagaimana dijelaskan dalam hadits Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, riwayat Bukhari no. 3360 dan Muslim no.124&lt;br /&gt;[3] HR. Bukhori, no.2856&lt;br /&gt;[4] Al Qoulul Sadid Syarh Kitabit Tauhid, Syaikh Abdurrahman As Sa’diy, hal.57&lt;br /&gt;[5] Al Qoulul Sadid Syarh Kitabit Tauhid, Syaikh Abdurrahman As Sa’diy, hal.60&lt;br /&gt;[6] Fathul Majiid, Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh, hal. 75&lt;br /&gt;[7] Al Qoulul Mufid ‘Ala Kitabit Tauhid, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin, hal. 91.&lt;br /&gt;[8] An Nihayah fi Gharibil Atsar, Ibnul Atsir, Maktabah Syamilah&lt;br /&gt;[9] Al Qoulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid, Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 187&lt;br /&gt;[10] Zaadul Ma’ad, Ibnul Qayyim Al Jauziyah, Maktabah Syamilah&lt;br /&gt;[11] HR. Bukhari, Kitab At Thibi, Bab Ruqyatun Nabiy, no. 5744&lt;br /&gt;[12] HR. Muslim, Kitab As Salam, Bab At Thibi wal Marodhi war Ruqa, no. 5828&lt;br /&gt;[13] HR. Bukhari, no. 2276, 5007&lt;br /&gt;[14] An Nihayah fi Gharibil Atsar, Ibnul Atsir, Maktabah Syamilah&lt;br /&gt;[15] An Nihayah fi Gharibil Atsar, Ibnul Atsir, Maktabah Syamilah&lt;br /&gt;[16] Lihat Al Qoulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, jilid 1, hal. 559&lt;br /&gt;[17] HR. Abu Dawud, no 3912, di shahihkan oleh Syaikh Al Albani&lt;br /&gt;[18] Lihat Al Qoulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin,jilid 1, hal. 560&lt;br /&gt;[19] Lihat Al Qoulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, jilid 2, hal. 8&lt;br /&gt;[20] Al Fawa’id, Hakikat At Tawakul wa Darajatuhu, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, cetakan Maktabah Ar Rusyd, hal. 139.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5002548945243865869-4414956137064716814?l=readmoslem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://readmoslem.blogspot.com/feeds/4414956137064716814/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5002548945243865869&amp;postID=4414956137064716814&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/4414956137064716814'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/4414956137064716814'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://readmoslem.blogspot.com/2010/01/masuk-surga-tanpa-hisab-dan-tanpa-adzab.html' title='Masuk Surga Tanpa Hisab dan Tanpa Adzab'/><author><name>mencoba menjadi lebih baik...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05732610976505096819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_nHva8Y4lnmg/S1Sbw1CbB0I/AAAAAAAAABo/53TaZ0d4BVs/S220/moslem.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5002548945243865869.post-2688479863090044265</id><published>2010-01-15T07:33:00.000-08:00</published><updated>2010-02-21T17:01:01.373-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Manajemen Hati'/><title type='text'>Siapa Yg Menanam Dia Yg Akan Menuai..</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;egala puji itu hanyalah milik Allah. Dialah zat yang telah menyempurnakan nikmat-Nya untuk kita dan secara berturut-turut memberikan berbagai pemberian dan anugerah kepada kita.&lt;br /&gt;Semoga Allah menyanjung dan memberi keselamatan untuk Nabi kita Muhammad, keluarganya yang merupakan manusia pilihan dan semua sahabatnya yang merupakan manusia-manusia yang bertakwa seiring silih bergantinya malam dan siang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita pasti pernah mendengar peribahasa ini, “Siapa yang menanam, Dia yang akan menuai.” Maksudnya, jika seseorang menanam kebaikan, maka ia akan menuai kebaikan pula. Dan jika seseorang menanam kejelekan, maka ia akan menuai hasil yang jelek pula. Berikut beberapa contoh dalam Al Qur'an dan hadits yang menceritakan maksud dari peribahasa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjaga Hak Allah, Menuai Penjagaan Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah mengajarkan pada Ibnu 'Abbas -radhiyallahu 'anhuma- sebuah kalimat,&lt;br /&gt;احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu.”1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud menjaga Allah di sini adalah menjaga batasan-batasan, hak-hak, perintah, dan larangan-larangan Allah. Yaitu seseorang menjaganya dengan melaksanakan perintah Allah, menjauhi larangan-Nya, dan tidak melampaui batas dari batasan-Nya (berupa perintah maupun larangan Allah). Orang yang melakukan seperti ini, merekalah yang menjaga diri dari batasan-batasan Allah. Yang utama untuk dijaga adalah shalat lima waktu yang wajib. Dan yang patut dijaga lagi adalah pendengaran, penglihatan dan lisan dari berbagai keharaman. Begitu pula yang mesti dijaga adalah kemaluan, yaitu meletakkannya pada yang halal saja dan bukan melalui jalan haram yaitu zina.2&lt;br /&gt;Barangsiapa menjaga diri dengan melakukan perintah dan menjauhi larangan, maka ia akan mendapatkan dua penjagaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjagaan pertama: Allah akan menjaga urusan dunianya yaitu ia akan mendapatkan penjagaan diri, anak, keluarga dan harta.&lt;br /&gt;Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Barangsiapa menjaga (hak-hak) Allah, maka Allah akan menjaganya dari berbagai gangguan.” Sebagian salaf mengatakan, “Barangsiapa bertakwa pada Allah, maka Allah akan menjaga dirinya. Barangsiapa lalai dari takwa kepada Allah, maka Allah tidak ambil peduli padanya. Orang itu berarti telah menyia-nyiakan dirinya sendiri. Allah sama sekali tidak butuh padanya.”&lt;br /&gt;Jika seseorang berbuat maksiat, maka ia juga dapat melihat tingkah laku yang aneh pada keluarganya bahkan pada hewan tunggangannya. Sebagaimana sebagian salaf mengatakan, “Jika aku bermaksiat pada Allah, maka pasti aku akan menemui tingkah laku yang aneh pada budakku bahkan juga pada hewan tungganganku.”3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjagaan kedua: Penjagaan yang lebih dari penjagaan pertama, yaitu Allah akan menjaga agama dan keimanannya. Allah akan menjaga dirinya dari pemikiran rancu yang bisa menyesatkan dan dari berbagai syahwat yang diharamkan.4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga dengan menjaga hak-hak Allah, kita semua bisa menuai dua penjagaan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Berlaku Jujur, Menuai Kebaikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sahabat 'Abdullah bin Mas'ud, ia menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran akan megantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.”5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkhusus lagi, beliau memerintahkan kejujuran ini pada pedagang karena memang kebiasaan para pedagang adalah melakukan penipuan dan menempuh segala cara demi melariskan barang dagangan.&lt;br /&gt;Dari Rifa'ah, ia mengatakan bahwa ia pernah keluar bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ke tanah lapang dan melihat manusia sedang melakukan transaksi jual beli. Beliau lalu menyeru, “Wahai para pedagang!” Orang-orang pun memperhatikan seruan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sambil menengadahkan leher dan pandangan mereka pada beliau. Lantas Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;إِنَّ التُّجَّارَ يُبْعَثُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فُجَّارًا إِلاَّ مَنِ اتَّقَى اللَّهَ وَبَرَّ وَصَدَقَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya para pedagang akan dibangkitkan pada hari kiamat nanti sebagai orang-orang fajir (jahat) kecuali pedagang yang bertakwa pada Allah, berbuat baik dan berlaku jujur.”6&lt;br /&gt;Berlaku jujur juga akan menuai berbagai keberkahan. Yang dimaksud keberkahan adalah tetapnya dan bertambahnya kebaikan. Dari sahabat Hakim bin Hizam, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا - أَوْ قَالَ حَتَّى يَتَفَرَّقَا - فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِى بَيْعِهِمَا ، وَإِنْ كَتَمَا وَكَذَبَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kedua orang penjual dan pembeli masing-masing memiliki hak pilih (khiyar) selama keduanya belum berpisah. Bila keduanya berlaku jujur dan saling terus terang, maka keduanya akan memperoleh keberkahan dalam transaksi tersebut. Sebaliknya, bila mereka berlaku dusta dan saling menutup-nutupi, niscaya akan hilanglah keberkahan bagi mereka pada transaksi itu.”7&lt;br /&gt;Inilah buah yang dipetik dari pedagang yang tidak berlaku jujur. Sedangkan sebaliknya jika pedagang bisa berlaku jujur, maka ia pun akan menuai berbagai kebaikan dan keberkahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah Memaafkan dan Tawadhu', Menuai Kemuliaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ رَجُلاً بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sedekah tidak mungkin mengurangi harta. Tidaklah seseorang suka memaafkan, melainkan ia akan semakin mulia. Tidaklah seseorang bersikap tawadhu' (rendah diri) karena Allah, melainkan Allah akan meninggikan derajatnya. “8&lt;br /&gt;Seseorang yang selalu memaafkan akan semakin mulia dan bertambah kemuliaannya. Ia juga akan mendapatkan balasan dan kemuliaan di akhirat. Begitu pula orang yang tawadhu' (rendah diri) karena Allah, ia akan ditinggikan derajatnya di dunia, Allah akan senantiasa meneguhkan hatinya dan meninggikan derajatnya di sisi manusia, serta kedudukannya pun akan semakin mulia. Di akhirat pun, Allah akan meninggikan derajatnya karena ketawadhu'annya di dunia.9&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berperilaku Baik, Menjadi Teman Akrab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta'ala berfirman,&lt;br /&gt;وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (34) وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ (35)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.” (QS. Fushilat: 34-35)&lt;br /&gt;Sahabat yg mulia, Ibnu 'Abbas -radhiyallahu 'anhuma- mengatakan, "Allah memerintahkan pada orang beriman untuk bersabar ketika ada yang membuat marah, membalas dengan kebaikan jika ada yang buat jahil, dan memaafkan ketika ada yang buat jelek. Jika setiap hamba melakukan semacam ini, Allah akan melindunginya dari gangguan setan dan akan menundukkan musuh-musuhnya. Malah yang semula bermusuhan bisa menjadi teman dekatnya karena tingkah laku baik semacam ini."&lt;br /&gt;Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, "Namun yang mampu melakukan seperti ini adalah orang yang memiliki kesabaran. Karena membalas orang yg menyakiti kita dengan kebaikan adalah suatu yang berat bagi setiap jiwa."10&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menolong dan Memudahkan Sesama, Menuai Pertolongan dan Kemudahan dari Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللَّهُ فِى عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِى عَوْنِ أَخِيهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa meringankan sebuah kesusahan (kesedihan) seorang mukmin di dunia, Allah akan meringankan kesusahannya pada hari kiamat. Barangsiapa memudahkan urusan seseorang yang dalam keadaan sulit, Allah akan memberinya kemudahan di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutup ‘aib seseorang, Allah pun akan menutupi ‘aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya, selama hamba tersebut menolong saudaranya.”11&lt;br /&gt;Di antara bentuk pertolongan di sini adalah seseorang memberikan kemudahan dalam masalah utang. Ini bisa dilakukan dengan dua cara. Cara pertama, memberikan tenggang waktu pelunasan dari tempo yang diberikan, ini hukumnya wajib. Karena Allah Ta'ala berfirman,&lt;br /&gt;وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan.” (QS. Al Baqarah: 280). Cara kedua, dengan memutihkan hutang tersebut, dan ini dianjurkan. Sebagaimana Allah Ta'ala berfirman,&lt;br /&gt;وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 280)&lt;br /&gt;Berkebalikan dari sikap baik ini adalah mengenakan riba pada saudaranya yang menunda utang. Ini adalah berkebalikan dari memberi kemudahan. Maka tentu saja orang yang memberi kesulitan pada saudaranya akan menuai hasil yang sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha disertai Tawakkal akan Menuai Hasil&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Umar bin Al Khoththob radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ ، تَغْدُو خِمَاصاً وَتَرُوحُ بِطَاناً&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Seandainya kalian betul-betul bertawakkal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rizki sebagaimana burung mendapatkan rizki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.”12 Burung ini melakukan usaha dan bertawakkal pada Allah, akhirnya ia pun kenyang ketika pulang di sore hari. Ini berarti tanpa usaha, tidak akan memperoleh hasil apa-apa. Dan usaha tanpa tawakkal, hanya akan memperoleh sekadar yang Allah takdirkan. Yang tepat adalah usaha disertai tawakkal, niscaya hasil memuaskan yang akan dituai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbuat Curang, Menuai Berbagai Musibah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;وَلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيزَانَ إِلاَّ أُخِذُوا بِالسِّنِينَ وَشِدَّةِ الْمَؤُنَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan tidaklah mereka berbuat curang ketika menakar dan menimbangm melainkan mereka akan ditimpa kekeringan, mahalnya biaya hidup dan kelaliman para penguasa.”13&lt;br /&gt;Dan sebab curang dalam perniagaaan inilah sebab dibinasakannya kaum Madyan, umat Nabi Syu'aib 'alaihis salam. Allah Ta'ala memerintahkan pada kaum Madyan,&lt;br /&gt;أَوْفُوا الْكَيْلَ وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُخْسِرِينَ (181) وَزِنُوا بِالْقِسْطَاسِ الْمُسْتَقِيمِ (182) وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ (183)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang- orang yang merugikan; dan timbanglah dengan timbangan yang lurus. Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan.” (QS. Asy Syu'ara: 181-183)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi ingatlah, setiap yang kita tanam -baik kebaikan maupun kejelekan-, pasti kita akan menuai hasilnya. Oleh karenanya, bersemangatlah dalam menanam kebaikan dan janganlah pernah mau menanam kejelekan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama seringkali mengutarakan, “Balasan dari kebaikan adalah kebaikan setelahnya. Sedangkan balasan dari kejelekan adalah kejelekan setelahnya.”14&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Referensi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Al Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj, Yahya bin Syarf An Nawawi, Dar Ihya' At Turots Al 'Arobiy, Beirut, cetakan kedua, 1392.&lt;br /&gt;   2. Jaami'ul 'Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al Hambali, Darul Muayyid, cetakan pertama, tahun 1424 H.&lt;br /&gt;   3. Tafsir Al Qur'an Al 'Azhim, Ibnu Katsir, Muassasah Qurthubah, cetakan pertama, tahun 1421 H.&lt;br /&gt;   4. Sifat Perdagangan Nabi, Muhammad Arifin Badri, MA, Pustaka Darul Ilmi, cetakan pertama, tahun 1429 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;Artikel Rumaysho.com&lt;br /&gt;Disempurnakan pada siang hari, 16 Muharram 1431 H di Panggang-Gunung Kidul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Footnote:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 HR. Tirmidzi no. 2516 dan Ahmad 1/303. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 Lihat Jaami'ul 'Ulum wal Hikam, hal. 223-224.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3 Lihat Jaami'ul 'Ulum wal Hikam, hal. 225-226.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4 Faedah dari Jaami'ul 'Ulum wal Hikam, hal. 224-226.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5 HR. Muslim no. 2607.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6 HR. Tirmidzi no. 1210 dan Ibnu Majah no. 2146. Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib 1785 mengatakan bahwa hadits tersebut shahih lighoirihi (shahih dilihat dari jalur lainnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7 HR. Bukhari no. 2079 dan Muslim no. 1532.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8 HR. Muslim no. 2588, dari Abu Hurairah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9 Al Minhaj Syarh Muslim, 16/141-142.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10 Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 12/243.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11 HR. Muslim no. 2699, dari Abu Hurairah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12 HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Al Hakim. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Shohihah no.310.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13 HR. Ibnu Majah no. 4019. Syaikh Al Albani mengatkan bahwa hadits ini hasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14 Lihat Tafsir Al Qur'an Al 'Azhim, 14/372 [Tafsir Surat Al Lail ayat 7]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5002548945243865869-2688479863090044265?l=readmoslem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://readmoslem.blogspot.com/feeds/2688479863090044265/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5002548945243865869&amp;postID=2688479863090044265&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/2688479863090044265'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/2688479863090044265'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://readmoslem.blogspot.com/2010/01/siapa-yg-menanam-dia-yg-akan-menuai.html' title='Siapa Yg Menanam Dia Yg Akan Menuai..'/><author><name>mencoba menjadi lebih baik...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05732610976505096819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_nHva8Y4lnmg/S1Sbw1CbB0I/AAAAAAAAABo/53TaZ0d4BVs/S220/moslem.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5002548945243865869.post-9071098696317359605</id><published>2010-01-15T02:13:00.000-08:00</published><updated>2010-02-21T17:00:47.457-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keajaiban Alqur&apos;an'/><title type='text'>Lemah Lembutlah Dalam Bertutur Kata..</title><content type='html'>Segala puji bagi Allah, Rabb yang berhak disembah. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin maju zaman, semakin manusia menjauh dari akhlaq yang mulia. Perangai jahiliyah dan kekasaran masih meliputi sebagian kaum muslimin. Padahal Islam mencontohkan agar umatnya berakhlaq mulia, di antaranya adalah dengan bertutur kata yang baik. Akhlaq ini semakin membuat orang tertarik pada Islam dan dapat dengan mudah menerima ajakan. Semoga Allah menganugerahkan kepada kita perangai yang mulia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perintah Allah untuk Berlaku Lemah Lembut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta'ala berfirman,&lt;br /&gt;وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman. ” (QS. Al Hijr: 88)&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad Al Amin Asy Syinqithi mengatakan, “'Berendah dirilah' yang dimaksud dalam ayat ini hanya untuk mengungkapkan agar seseorang berlaku lemah lembut dan tawadhu' (rendah diri).”1 Jadi sebenarnya ayat ini berlaku umum untuk setiap perkataan dan perbuatan, yaitu kita diperintahkan untuk berlaku lemah lembut. Ayat ini sama maknanya dengan firman Allah Ta'ala,&lt;br /&gt;فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ الله لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظّاً غَلِيظَ القلب لاَنْفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imron: 159). Yang dimaksud dengan bersikap keras di sini adalah bertutur kata kasar.2 Dengan sikap seperti ini malah membuat orang lain lari dari kita.&lt;br /&gt;Al Hasan Al Bashri mengatakan, “Berlaku lemah lembut inilah akhlaq Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam yang di mana beliau diutus dengan membawa akhlaq yang mulia ini.”3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keutamaan Bertutur Kata yang Baik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Sebab Mendapatkan Ampunan dan Sebab Masuk Surga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Syuraih, ia berkata pada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam,&lt;br /&gt;يَا رَسُولَ اللَّهِ، دُلَّنِي عَلَى عَمِلٍ يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai Rasulullah, tunjukkanlah padaku suatu amalan yang dapat memasukkanku ke dalam surga.” Beliau bersabda,&lt;br /&gt;إِنَّ مِنْ مُوجِبَاتِ الْمَغْفِرَةِ بَذْلُ السَّلامِ، وَحُسْنُ الْكَلامِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di antara sebab mendapatkan ampunan Allah adalah menyebarkan salam dan bertutur kata yang baik.”4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Mendapatkan Kamar yang Istimewa di Surga Kelak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari 'Ali, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Di surga terdapat kamar-kamar yang bagian luarnya dapat dilihat dari dalam dan bagian dalamnya dapat dilihat dari luar.” Kemudian seorang Arab Badui bertanya, “Kamar-kamar tersebut diperuntukkan untuk siapa, wahai Rasulullah?” Beliau pun bersabda,&lt;br /&gt;لِمَنْ أَطَابَ الْكَلاَمَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَدَامَ الصِّيَامَ وَصَلَّى لِلَّهِ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamar tersebut diperuntukkan untuk siapa saja yang tutur katanya baik, gemar memberikan makan (pada orang yang butuh), rajin berpuasa dan rajin shalat malam karena Allah ketika manusia sedang terlelap tidur.”5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga: Bisa menggantikan Sedekah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;الْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tutur kata yang baik adalah sedekah.”6&lt;br /&gt;Dari 'Adi bin Hatim, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selamatkanlah diri kalian dari siksa neraka, walaupun dengan separuh kurma. Jika kalian tidak mendapatkannya, maka cukup dengan bertutur kata yang baik.”7&lt;br /&gt;Ibnul Qayyim mengatakan, “Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjadikan tutur kata yang baik sebagai pengganti dari sedekah bagi yang tidak mampu untuk bersedekah.”8&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Baththol mengatakan, “Tutur kata yang baik adalah sesuatu yang dianjurkan dan termasuk amalan kebaikan yang utama. Karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam (dalam hadits ini) menjadikannya sebagaimana sedekah dengan harta. Antara tutur kata yang baik dan sedekah dengan harta memiliki keserupaan. Sedekah dengan harta dapat menyenangkan orang yang diberi sedekah. Sedangkan tutur kata yang baik juga akan menyenangkan mukmin lainnya dan menyenangkan hatinya. Dari sisi ini, keduanya memiliki kesamaan (yaitu sama-sama menyenangkan orang lain).”9&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat: Menyelematkan Seseorang dari Siksa Neraka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalilnya adalah hadits Adi bin Hatim di atas. Ibnu Baththol mengatakan, “Jika tutur kata yang baik dapat menyelamatkan dari siksa neraka, berarti sebaliknya, tutur kata yang kotor (jelek) dapat diancam dengan siksa neraka.”10&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima: Dapat Menghilangkan Permusuhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Baththol mengatakan, “Ketahuilah bahwa tutur kata yang baik dapat menghilangkan permusuhan dan dendam kesumat. Lihatlah firman Allah Ta'ala,&lt;br /&gt;ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tolaklah (kejelekan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS. Fushilat: 34-35). Menolak kejelekan di sini bisa dengan perkataan dan tingkah laku yang baik.”11&lt;br /&gt;Sahabat yg mulia, Ibnu 'Abbas -radhiyallahu 'anhuma- mengatakan, "Allah memerintahkan pada orang beriman untuk bersabar ketika ada yang membuat marah, membalas dengan kebaikan jika ada yang buat jahil, dan memaafkan ketika ada yang buat jelek. Jika setiap hamba melakukan semacam ini, Allah akan melindunginya dari gangguan setan dan akan menundukkan musuh-musuhnya. Malah yang semula bermusuhan bisa menjadi teman dekatnya karena tingkah laku baik semacam ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, "Namun yang mampu melakukan seperti ini adalah orang yang memiliki kesabaran. Karena membalas orang yg menyakiti kita dengan kebaikan adalah suatu yang berat bagi setiap jiwa."12&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlaku Lemah Lembut Bukan Berarti Menjilat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu dibedakan antara berlaku lemah lembut dengan tujuan membuat orang tertarik dan berlaku lembah lembut dengan maksud menjilat. Yang pertama ini dikenal dengan mudaroh yaitu berlaku lemah lembut agar membuat orang lain tertarik dan tidak menjauh dari kita. Yang kedua dikenal dengan mudahanah yaitu berlaku lemah lembut dalam rangka menjilat dengan mengorbankan agama. Sikap yang kedua ini adalah sikap tercela sebagaimana yang Allah firmankan,&lt;br /&gt;وَدُّوا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu).” (QS. Al Qalam: 9)&lt;br /&gt;Ibnu Jarir Ath Thobari menafsirkan ayat di atas, “Wahai Muhammad, orang-orang musyrik tersebut ingin kalian berlaku lembut pada mereka (dengan mengorbankan agama kalian) dengan memenuhi seruan untuk beribadah kepada sesembahan mereka. Jika kalian demikian, maka mereka akan berlaku lembut pada kalian dalam ibadah yang kalian lakukan pada sesembahan kalian.”13&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya, orang yang bersikap mudaroh akan berlemah lembut dalam pergaulan tanpa meninggalkan sedikitpun prinsip agamanya. Sedangkan orang yang bersikap mudahin, ia akan berusaha menarik simpati orang lain dengan cara meninggalkan sebagian dari prinsip agamanya.&lt;br /&gt;Hendaknya kita bisa memperhatikan perbedaan antara mudaroh dan mudahanah. Lemah lembut yang dituntunkan adalah dalam rangka membuat orang tertarik dengan akhlaq kita yang baik. Sikap pertama inilah yang akan membuat orang menerima dakwah, namun tetap dengan mempertahankan prinsip-prinsip beragama. Sedangkan lemah lembut yang tercela adalah jika sampai mengorbankan sebagian prinsip beragama dan mendiamkan kemungkaran tanpa adanya pengingkaran minimalnya dengan hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah senantiasa menganugerahkan kepada kita tutur kata yang baik dan akhlaq yang mulia. Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal&lt;br /&gt;Artikel Rumaysho.com&lt;br /&gt;Diselesaikan dengan anugerah Allah di Panggang-Gunung Kidul, 24 Muharram 1431 H&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Footnote:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 Adhwaul Bayan, Muhammad Al Amin Asy Syinqithi, 3/238, Dar Ilmi Al Fawaid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 Tafsir Al Qur'an Al 'Azhim, Ibnu Katsir, 3/233, Muassasah Qurthubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3 Tafsir Al Qur'an Al 'Azhim, 3/232,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4 HR. Thobroni dalam Mu'jam Al Kabir no. 469 (Maktabah Al 'Ulum wal Hikam, cetakan kedua, 1404 H). Al 'Iroqi dalam Takhrij Al Ihya' (2/246) mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid (bagus). Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shohihah (1035) mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih dan perowinya terpercaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5 HR. Tirmidzi no. 1984 dan Ahmad (1/155). Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6 HR. Ahmad (2/316) dan disebutkan oleh Al Bukhari dalam kitab shahihnya secara mu'allaq (tanpa sanad). Syaikh Syu'aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7 HR. Bukhari no. 6023 dan Muslim no. 1016.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8 'Iddatush Shobirin wa Dzakhirotusy Syakirin, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, hal. 109, Mawqi' Al Waroq&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9 Syarh al Bukhari, Ibnu Baththol, 17/273, Asy Syamilah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10 Syarh al Bukhari, 4/460.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11 Syarh al Bukhari, 17/273.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12 Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 12/243.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13 Tafsir Ath Thobari, Ibnu Jarir Ath Thobari, 23/157, Tahqiq: Dr. Abdullah bin Abdil Muhsin At Turki, Dar Hijr.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5002548945243865869-9071098696317359605?l=readmoslem.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://readmoslem.blogspot.com/feeds/9071098696317359605/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5002548945243865869&amp;postID=9071098696317359605&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/9071098696317359605'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5002548945243865869/posts/default/9071098696317359605'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://readmoslem.blogspot.com/2010/01/lemah-lembutlah-dalam-bertutur-kata.html' title='Lemah Lembutlah Dalam Bertutur Kata..'/><author><name>mencoba menjadi lebih baik...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05732610976505096819</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_nHva8Y4lnmg/S1Sbw1CbB0I/AAAAAAAAABo/53TaZ0d4BVs/S220/moslem.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5002548945243865869.post-418510783249490110</id><published>2010-01-08T02:14:00.001-08:00</published><updated>2010-02-16T08:26:08.807-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sholat'/><title type='text'>Panduan Sholat Tahajud</title><content type='html'>Alhamdulillah, wa shalaatu wa salaamu 'ala Rosulillah wa 'ala alihi wa shohbihi wa man tabi'ahum bi ihsanin ilaa yaumid diin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu kenikmatan yang sangat indah adalah bila seorang hamba bisa merasakan bagaimana bermunajat dengan Allah di tengah malam terutama ketika 1/3 malam terakhir. Berikut sedikit panduan dari kami mengenai shalat tahajud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksud Shalat Tahajud&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalat malam (qiyamul lail) biasa disebut juga dengan shalat tahajud. Mayoritas pakar fiqih mengatakan bahwa shalat tahajud adalah shalat sunnah yang dilakukan di malam hari secara umum setelah bangun tidur.1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keutamaan Shalat Tahajud&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama: Shalat tahajud adalah sifat orang bertakwa dan calon penghuni surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta'ala berfirman,&lt;br /&gt;إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ (15) آَخِذِينَ مَا آَتَاهُمْ رَبُّهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُحْسِنِينَ (16) كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ (17) وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ (18)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam taman-taman (syurga) dan mata air-mata air, sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar.” (QS. Adz Dzariyat: 15-18).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Hasan Al Bashri mengatakan mengenai ayat ini, “Mereka bersengaja melaksanakan qiyamul lail (shalat tahajud). Di malam hari, mereka hanya tidur sedikit saja. Mereka menghidupkan malam hingga sahur (menjelang shubuh). Dan mereka pun banyak beristighfar di waktu sahur.”2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: Tidak sama antara orang yang shalat malam dan yang tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta'ala berfirman,&lt;br /&gt;أَمْ مَنْ هُوَ قَانِتٌ آَنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآَخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. ” (QS. Az Zumar: 9). Yang dimaksud qunut dalam ayat ini bukan hanya berdiri, namun juga disertai dengan khusu'.3&lt;br /&gt;Salah satu maksud ayat ini, “Apakah sama antara orang yang berdiri untuk beribadah (di waktu malam) dengan orang yang tidak demikian?!”4 Jawabannya, tentu saja tidak sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga: Shalat tahajud adalah sebaik-baik shalat sunnah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,&lt;br /&gt;أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ شَهْرِ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرّ
